Sabtu, 05 Mei 2012

Tentang Kisah [1]


Tentang Kisah [1]

“ Viaaaaa…” teriak seorang laki-laki berseragam SMP di depan sebuah rumah yang cukup besar. Tak perlu menunggu lama, seorang gadis berseragam sama keluar dan menyambutnya dengan senyuman hangat.

“ Udah siap ?” Laki-laki tadi sedikit mengangkat alis matanya sambil bertanya menggoda. Gadis yang bernama Via tadi kembali tersenyum.

“ Siap dongg..” Dengan cepat gadis itu menggamit lengan laki-laki yang menjemputnya, berjalan bersama menuju sepeda motor yang sembarang di depan rumah itu. Tidak lama, sepeda motor itu pun  di jalanan yang masih terlihat sepi.

                Sivia Adinda dan Alvin Praditya, dua orang remaja SMP itu akan mengikuti acara MOS di SMA Permata, sekolah baru mereka. Dan butuh waktu yang cukup lama untuk sampai ke sekolah baru mereka. Tapi untung saja mereka bisa belum terlambat. Gak lucu juga, kalau MOS hari pertama mereka harus dihukum karena terlambat.

                Sekarang semua siswa yang mengikuti MOS sudah berkumpul di lapangan sekolah. Disanan Alvin dan Sivia tersenyum, mereka baru saja melihat daftar kelas yang akan mereka tempati selama mereka kelas 10 dan ternyata mereka 1 kelas. Mungkin mereka benar-benar tidak bisa dipisahkan.

“ Selamat Pagi adik-adik !” sapa seorang laki-laki tampan yang sekarang berdiri di atas mimbar.

“ Via..” Alvin sedikit menyenggol lengan Sivia, membuat Sivia yang dari tadi menunduk kini mengangkat wajahnya. Sivia pun melihat ke arah dimana mata Alvin tertuju. Sivia hanya tersenyum kecut menatap laki-laki yang sekarang berada di atas mimbar. Berbicara dengan tegas.

“ Gue tau, gue tau apa yang bakal terjadi kalau gue sekolah disini. Tapi mau gimana lagi, ini sekolah terbaik disini.” jelas Sivia panjang, sebagai tanggapan Sivia bisa mendengar helaan nafas Alvin yang begitu panjang. Tiga tahun ia bersahabat dengan Sivia tapi sampai sekarang ada hal-hal yang tidak dia mengerti dari gadis itu.

“ Saya Cakka Arima, Ketua OSIS Permata. Mulai sekarang kalian semua harus mengikuti semua aturan yang sudah diterapkan di sekolah ini. Tanpa terkecuali. Dan selamat datang di Permata.” tutur Cakka tegas.

 Alvin memandang sekelilingnya banyak sekali gadis-gadis yang menatap Cakka dengan tatapan berbinar-binar, seperti mendapatkan pencerahan, mungkin pesona Cakka mampu menghipnotis mereka semua. Semua, kecuali Sivia, sahabatnya ini masih asyik memandang langit. Mungkin masih tidak suka pada laki-laki itu.

----------------------

                MOS sudah berlangsung selama 3 hari, dan untuk Sivia dan Alvin tidak ada hal yang berarti dalam MOS mereka. Sekarang dua orang sahabat itu sedang duduk santai di rumah pohon milik mereka. Rumah pohon itu memang sengaja dibuatkan oleh ayah Sivia, rumah pohon kecil tapi sangat berarti untuk cerita persahabatan mereka.

“ Sampai sekarang gue masih gak ngerti sama apa yang ada dalam pikirannya.” cerita Sivia, Alvin yang sebelumnya sedang bermain gitar pun meletakkan gitarnya dan mendengarkan cerita dari Sivia.

“ Siapa ?”

“ Kak Cakka..”

“ Gue kira, dua tahun udah cukup lama buat ngerubah sikap dingin dia. Cukup lama buat dia sadar kalau bukan papa yang bikin mamanya ngelupain papanya.”

“ Lo tau kan Vin, dulu waktu kita kelas satu dia baik banget sama kita, apalagi sama gue. Dia perhatian, sabar, lucu, tapi itu semua berubah sejak dia jadi kakak tiri gue.”

“ Sebenernya gue punya opini tentang Kak Cakka tapi kalau gue bilang ke lo, dijamin lo pasti ngakak.” Sivia menatap Alvin bingung, bagaimana tidak bingung, Alvin belum mencoba bilang apa-apa tapi dia langsung menyimpulkannya sendiri. Emang……

“ Emang selucu apa opini lo ?” tanya Sivia langsung, sekaligus melanjutkan apa yang tadi ia pikirkan.

“ Dia suka sama lo.”

“ Hahahahahaha…” terdengar suara tawa Sivia membahana. Alvin sendiri hanya cemberut, benar kan yang dia bilang. Sivia pasti tertawa bahkan ngakak.

“ Tuh, lo ngakak kan.” kata Alvin dengan sedikit kesal. Sivia perlahan menghentikan derai tawanya. Menatap Alvin dengan tatapan mata yang seolah mengatakan - Lo Gila Ya ? -

“ Malah ngatain gila.” Alvin semakin cemberut dan Sivia kembali tertawa melihat ekspresi wajah Alvin. Sebegitu mudahkah Alvin bisa membaca pikirannya, atau memang ia punya ekspresi yang begitu mudah dibaca.

“ Dia gak mungkin suka sama gue. Karena dia benci sama gue.” Mata Sivia menatap kosong ke arah laki-laki yang berjalan masuk ke rumahnya. Rumah mereka berdua.

“ Tadi gue udah bilang. Karena papa gue, udah gantiin posisi papa dia. Orang yang paling dia sayangi, setidaknya itu yang gue denger dari dia. Dari mulutnya.” Alvin masih memperhatikan Sivia, tatapan yang awalnya kosong itu berubah sedih.

“ Lo gak mikir kalau itu cuma alibi dia ?” Sivia menggeleng.

“ Gue capek ngadepin dia.”

“ Sini gue peluk..” Alvin merentangkan tangannya lebar-lebar, sementara Sivia menggeleng.

“ Lo bau asem, belum mandi, hahahaha…” belum sempat Alvin membalas gadis itu sudah turun dari rumah pohonnya.

“ Viaaaaaa…….”

---------------------

“ Gak boleh !!  Papa temenin Via aja, jangan ke Paris.” Sivia mulai merajuk, hari ini orang tuanya bilang ada urusan yang cukup serius dengan cabang perusahaan mereka di Paris dan mereka akan menetap disana untuk sementara.

“ Ayolah sayang, kamu kan gak sendirian. Ada kak Cakka. Mau yahh ?” bujuk Pak Duta, ayah Sivia dan ayah tiri Cakka, Cakka Arima.

“ Karena itu Via gak mau..” lirih Sivia, seseorang yang sedari tadi diam kini malah menatapnya tajam. Sivia hanya buang muka ketika mendapati dirinya ditatap begitu tajam.

“ Sayang……”

“ Pokoknya gak mau…” kali ini Sivia berlari menuju pintu rumahnya.

“ Besok papa berangkat.” teriak Pak Duta tidak kalah keras.

“ Bodooooo…..”

-----------------------

“ Kenapa lo kesini ?” tanya Alvin saat melihat Sivia berdiri dengan wajah kusut di depan rumahnya.

“ Jangan tanya-tanya, bikin tambah bete tau.” Sivia menunjuk ekspresi yang makin kesal, Alvin terkikik geli. Sahabatnya yang satu ini benar-benar jutek kalau sedang badmood.

“ Ya udah masuk gih..”

-------------------------

“ Ting..Tong…”  Suara bel rumah membahana, orang-orang yang sedari tadi berbincang  dan duduk di ruang tamu pun mengalihkan perahatian mereka.

“ Biar Cakka yang buka Pa.” Cakka beranjak menuju pintu, tanpa dilihat pun dia sudah tau siapa yang berada dibalik pintu sekarang. TEPAT !! Alvin dan Sivia.

“ Masuklah..” Cakka berjalan lebih dahulu, tapi sebelumnya ia sempat melirik Sivia yang berada di punggung Alvin. Wajahnya terlihat sangat tenang. Sama seperti dulu, sama seperti saat mereka bertemu dulu, tidak ada yang berubah. Hanya status mereka yang berubah ! Kakak dan adik.

“ Selamat malam Om Duta, Tante Renata.” Alvin tersenyum manis pada dua orang dewasa yang sedang berbincang di ruang tamu.

“ Terima kasih Alvin. Dan untuk dua bulan ke depan, titip Sivia ya.” Alvin mengangguk yakin, tanpa disuruh pun ia akan menjaga Sivia. Sahabatnya sekaligus gadis yang begitu ia cintai. Walaupun tidak pernah ia katakana tapi ia begitu menyukai gadis ini.

-----------------------

“ Mama, sarapannya apa ?” Sivia berjalan menuju dapur sambil berusaha memasang dasinya. Sudah jam 6.20 tapi Alvin belum terlihat menjemputnya, ia sendiri baru selesai mandi dan mengecek buku yang akan ia bawa.

“ Pagi tadi, mama udah berangkat sama papa.” Sivia tertegun mendengar suara itu, matanya kini beralih pada Cakka yang sedang memasak di dapur. Kalau boleh jujur, ia rindu, rindu dengan sikap baik Cakka. Rindu dengan perhatian Cakka. Rindu dengan segala yang berhubungan dengan Cakka.

“ Ohh..”

“ Kalau gitu gue berangkat.” Sivia sudah menenteng tasnya dan bersiap berjalan menuju pintu rumah.

“ Makan dulu.”

“ Gak laper.” balas Sivia dingin. Entahlah, setiap berbicara dengan Cakka sikapnya berubah jadi dingin. Mungkin membalas sikap Cakka yang juga dingin padanya.

“ Udah gue bilang makan ya makan.” tegas Cakka, dari sudut matanya Cakka melihat Sivia yang duduk sambil menggerutu di meja makan. Ia sendiri merasa bersalah, sudah lebih dari dua tahun ia begitu dingin pada gadis itu, gadis yang sekarang berstatus sebagai adiknya.

                Setelah merasa masakkannya sudah matang, Cakka pun menyajikan nasi gorengnya ke piring dan memberikannya pada Sivia. Sivia memakannya dengan sedikit tidak ikhlas. Semenjak Cakka dingin padanya, dia tidak pernah betah berlama-lama dengan kakak tirinya itu. Dia takut kalau sampai dia menangis di hadapan kakaknya ini. Gengsi dong !!

“ Viaaaaa……..” mata Sivia berbinar saat mendengar panggilan Alvin. Saat Sivia ingin beranjak keluar, Cakka kembali menahannya.

“ Lo habisin makanan lo dulu. Alvin biar gue suruh masuk.”

“ Lo terlalu banyak ikut campur urusan gue. Gue bisa urus, urusan gue sendiri. Jangan sok jadi papa mama gue. Lagian lo bukan siapa-siapa gue.” balas Sivia dingin.

“ Gue kakak lo.”

“ Kakak ?? Lo yakin lo kakak gue ?” Sivia memandang Cakka dengan tatapan meremehkan.

“ Duduk gue bilang, habisin sarapan! Gue gak mau repot kalau maag lo kumat.”

“ BRAAKKK…” Sivia berdiri dengan kasar, kursi yang ia jadikan tempat duduknya bahkan terjatuh ke belakang.

“ Terima kasih Kak Cakka Arima, tapi kalaupun gue sakit gue gak bakal minta bantuan lo. Dan mending lo jadi orang yang dingin lagi sama gue. Gue gak butuh semua perhatian lo. Jangan sok peduli.”

------------------------

                Alvin menatap Sivia yang sedari tadi diam saja. Sebenarnya ia sangat penasaran dengan apa yang ia dengar di rumah Sivia tadi pagi tapi ia urungkan niat untuk bertanya begitu melihat wajah Sivia yang asem banget. Sivia sendiri masih duduk diam, terkadang gadis itu tersenyum saat dipanggil atau diajak kenalan oleh siswa-siswa yang selama ini membolos MOS.

“ Pulang yuk Vin.” ajak Sivia tiba-tiba, Alvin hanya melotot kaget. Detik berikutnya dia memandang Sivia dengan tatapan yang mengisyaratkan - Lo gila ya ? -

“ Iya gue gila.”  Sivia beranjak meninggalkan Alvin yang masih bengong di tempat. Ternyata bukan cuma dia yang bisa membaca pikiran. Hahaha…

“ Lo gak mau ikut ?” tawar Sivia, wajah gadis itu kembali menyembul dari balik pintu memandang Alvin yang masih duduk di bangkunya.

“ Gue gak mau dihukum. Lo lupa kalau sekolah ini punya aturan yang super ketat ?”

“ Nggak, gue gak lupa tuh !! Tapi gue males disini, gue duluan aja !” Sivia mulai berjalan menjauh dari kelasnya, kini langkahnya menuju ke belakang sekolah.


“ Lo mau kemana ?”  

“ Mati gue..” Sivia menatap takut siapa yang berada dibelakangnya, ia harap bukan guru. Bisa mati kalau ketauan guru.

“ Ehh, kakak..” Sivia menghela nafas lega. Memandang laki-laki di depannya dari atas sampai bawah. Tidak lama dia menepuk jidatnya, orang di depannya ini lebih berbahaya daripada guru.

“ Mau bolos ?” Sivia masih diam, bingung mencari alasan yang tepat.

“ Gak usah cari alasan. Pulang sekolah lo bersihin toilet cewek di lantai 2. Dan point 5 buat lo, ini cuma peringatan karena lo masih murid baru. Siapa nama lo ?”

“ Sivia Adinda Kak.” dengan gugup Sivia memberitaukan namanya.

“ Gue Mario Aditya, ketua Komite Kedisiplinan. Gue tunggu laporan lo nanti sepulang sekolah, di ruang komite kedisiplinan.” Sivia hanya mengangguk pasrah.

------------------------

“ TOK..TOK..”

“ Masuk..” Sivia melangkah ragu ke dalam ruang komite kedisiplinan. Kenapa ada ruangan yang begitu mengerikan di sekolah ini.

“ Kak Mario, toiletnya sudah saya bersihkan.” kata Sivia singkat, ia hanya berharap bisa cepat keluar dari ruangan yang membawa hawa-hawa buruk ini.

“ Ohh..” Rio memandang Sivia dari atas sampai bawah, terlihat baju gadis itu basah disana-sini. Bukan keringat tapi air. Rio tersenyum pelan, dia berjalan mendekati Sivia.

                Sivia sendiri melongo menatap Rio yang semakin mendekat ke arahnya. Dan kini Rio sudah ada dihadapannya, ia melihat laki-laki itu mengambil sesuatu dari kantung celananya. Fualaaa… Sekarang ada sebuah lollipop di hadapannya.

“ Buat saya ?” terlihat sekali binar di mata Sivia. Rio sendiri hanya tersenyum melihat ekspresi Sivia. Ekspresi gadis itu selalu berubah-ubah dan benar-benar menyenangkan untuk diperhatikan.

“ Hmm…” segera Sivia merebut lollipop dari tangan Rio. Membuka plastik pembungkusnya lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.

“ Terima kasih kak. Ternyata kakak baik. Saya kira kakak judes.” Sivia langsung berlari meninggalkan Rio. Rio sendiri hanya geleng-geleng, ada juga yang berani bilang kalau dia judes.

“ Gadis yang unik.”

--------------------

“ Alvin….” teriak Sivia pada Alvin yang masih mengikuti pengarahan di lapangan. Hari ini Alvin memang berencana masuk ke klub futsal SMA Permata.

“ Tunggu dulu Viaaa.”

“ Ehhh.., maaf ya.” Alvin memamerkan deretan giginya yang putih karena sadar menjadi bahan penglihatan sang pelatih dan calon teman-temannya di klub futsal.

“ Sialan nih Via.”



“ Lama yaa ?” Alvin menepuk pelan pundak Sivia yang sepertinya hampir tertidur di bawah pohon mangga sekolah.

“Hahh, Apa ?” Sivia langsung membuka matanya, menguceknya sebentar, dan bangun dari duduknya.

“ Gak papa kok. Pulang yuk.” ajak Alvin, Sivia hanya mengangguk.

“ Ehh Vi, lo bau deh.” goda Alvin.

“ Iisshh Alvin, gimana gak bau kalau seharian gue bersihin toilet sekolah. Dan sumpah, anak cewek kelas 2 itu jorok banget. Masak toilet kotor dimana-mana.”

“ Hahahahahaha, siapa suruh bolos. Dasar.” Alvin mencubit pelan hidung Sivia.

“ Alvin jelekkkkk…” protes Sivia sambil memegang hidungnya.

“ Biarin, sini deh !” Alvin melambai pelan ke arah Sivia. Sivia sendiri sedikit mendekat ke arah Alvin.

“ Cuuppp…”

“ Terima kasih telah menungguku.”

“ Alvinnnnnn… Gak pakai cium-cium dong.”


“ Cihh..” umpat seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka.


********

***Terima kasih udah mau baca***
***Buat yang udah baca tinggalkan jejak buat penulis yaa***



_mei_

Jumat, 20 April 2012

Lihat Lebih Dekat Part 16 ( Selamat Jalan Sivia )


Lihat Lebih Dekat Part 16
~ Selamat Jalan Sivia ~


“ Aku sayang padamu Alvin Adhika…” ucap Sivia lirih.

“ Sedangkan aku benar-benar mencintaimu Sivia Imelda..” balas Alvin sambil memandang Sivia.

                Sekilas Alvin melihat seulas senyum terkembang dari bibir Sivia. Tapi detik berikutnya  ia melihat air mata mengalir di pipi gadis itu, bersamaan dengan itu terdengar deru nafas yang cukup panjang. Dan kini air mata turun dari mata Alvin. Rasanya benar-benar sakit.

“ Sivia kamu begitu banyak meminta padaku, sedangkan aku…”

“ Tidak bolehkah aku memintamu untuk tetap disisiku.”

“ Aku masih ingin menjagamu, Sivia.”

Alvin menangis dalam diamnya, ia merasakan tubuh Sivia semakin merosot dipelukannya. Air mata semakin banyak keluar, inilah kali keduanya ia menangis seperti ini. Tapi sesak yang ia rasakan benar-benar berbeda dari yang dulu. Kali ini benar-benar sakit.

“ Aku ingin menjagamu selamanya.” Ucapnya lirih.

*********

                Air mata turun dimana-mana bahkan langit seakan tak mau menggantung kesedihannya. Hujan turun mengiringi kepergian gadis itu. Deretan pelayat berbaju serba hitam benar-benar membuat sesak nafas.

“ Siviaaaa…” Rio hanya meronta dipegangan Gabriel. Ia benar-benar tidak rela melihat adik tersayangnya itu mulai ditimbun di bawah tumpukan dingin tanah.

                Sedangkan para sahabat hanya bisa berdiri terpaku, mereka belum bisa menerima takdir Tuhan. Sungguh, mereka masih ingin gadis itu tetap disini. Mereka masih ingin melihat senyumnya, tawanya, kekuatannya, ketegarannya dan semua tentangnya.

                Barisan yang awalanya terlihat penuh sesak pun mulai berkurang. Meninggalkan 8 orang anak muda disana. Sementara di sudut pemakaman terlihat 2 orang dewasa sedang terpaku dan menangis. Terakhir, terlihat seorang laki-laki tampan masih berdiri kaku di gerbang pemakaman.

“ Kakak minta maaf gak bisa jaga kamu Siv.” lirih Rio, air mata bergulir bergantian turun dari matanya.

“ Kakak minta maaf…”

“ Siviaaaa….” jerit Rio, sedari tadi ia tak berhenti menyebut nama adiknya. Ia masih tetap berharap adiknya akan bangun dan tersenyum padanya.

“ Pulang Siv, kakak kangen.”

“ Maaf Sivia selama ini aku jahat padamu.” Zahra dan Chris mengelus perlahan nisan Sivia. Cakka dan Shilla masih terpaku, mereka memang tak punya kesalahan berarti pada Sivia, mereka pun tidak akrab dengan Sivia. Tapi entah kenapa kepergian Sivia  meninggalkan luka dihati mereka.

                Sementara disana Acha berjalan dan jongkok mendekat ke arah Rio yang masih terisak.

“ Kak Sivia jangan pergi dulu, Acha belum pandai melukis.” Acha terisak pelan.

“ Acha masih ingin diajari melukis oleh kakak.”

                Sebenarnya diantara orang-orang disini yang paling terpukul adalah dua orang ini. Sedari tadi Ify dan Gabriel bergandengan erat, mereka berusaha saling menguatkan walau air mata tak pernah berhenti mengalir dari mata mereka.

“ Kita harus kuat Fy..” lirih Gabriel, Ify hanya diam sambil mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Gabriel.

“ Aku tau, Sivia pasti akan bahagia disana.” balas Ify, rasanya tak sanggup melihat sahabat baiknya, orang yang dianggap keluarganya meninggalkan dia secepat ini. Tuhan !!

“ Sivia, entah dimanapun kamu. Kami akan selalu mencintai. We love you..” tutur Ify dan Gabriel bersamaan.


                Terlihat dua orang dewasa berjalan kesana, mendekat ke tempat peristirahatan terakhir putri mereka. Anak-anak muda itu menyingikir. Memberikan ruang untuk dua orang dewasa tadi.

“ Sivia, maafin mama sama papa.” Kedua orang dewasa yang notabenya adalah orang tua Sivia itu mulai menangis, menumpahkan semua penyesalan mereka.

“ Maaf, selama ini mama gak pernah meluk kamu. Gak pernah ngasih kamu kekuatan. Bahkan mama gak tau kalau kamu sakit. Sebenarnya mama macam apa aku ini.”

“ Maafin juga papa yang gak bisa jaga kamu. Bahkan kami tidak pantas menjadi orang tuamu.”

“ Maaf….”

“ Maaf karena selama kamu ada, kami hanya membuatmu terluka.” Bulir air mata kembali mengalir dari kedua orang tuanya.

“ Kami terlalu bodoh, kami terlalu egois.” Rio benar-benar menangis ketika mendengar perkataan orang tuanya. Seandainya bisa, ia ingin memeluk kedua orang tuanya tapi otaknya membuat emosi yang selama ini ia pendam muncul.

“ Kalian gak pantas jadi orang tua !! Sejak kecil Sivia tidak pernah merasakan yang namanya bahagia dari kalian. Saat ia masuk tk kalian kemana ? Saat ia ikut lomba melukis pertama kali kalian kemana ? Saat ia divonis sakit, saat dia operasi jantung kalian kemana ??” Rio menumpahkan semua kekesalannya.

“ Bahkan kalian meninggalkannya sejak dia berumur 1 tahun.”

“ Kak Rio tenanglah !” Perlahan Ify memeluk Rio, mencoba menenangkan laki-laki yang begitu ia sayangi.

“ Mereka jahat fy sama Sivia.”

“ Dan kamu Sivia, buat apa kakak meneruskan cita-cita kakak menjadi dokter spesialis jantung. Kalau kamu, orang yang ingin kakak selamatkan sudah pergi.”

“ Kamu jahat Sivia..”

                Semua terdiam, mereka terlarut dalam semua kata-kata Rio. Laki-laki itu benar-benar menyayangi dan menjaga adiknya. Kakak yang luar biasa.

********

                Alvin berjalan kaku ke makam Sivia. Sedari tadi ia hanya berdiri di gerbang menunggu semua lebih tenang serta menunggu hatinya siap untuk mengucapkan kata perpisahan. Tapi sampai saat ini ia belum siap dan mungkin tak akan pernah siap.

“ Kamu jahat Siv, kamu buat banyak orang kehilangan, kamu buat semuanya menangis, kamu buat  kisah cintaku begitu tragis.” Alvin mengusap pelan air mata yang tiba-tiba turun.

“ Tapi kamu harus tau Siv, cintaku padamu akan abadi walau kita sudah berbeda dunia. Dan Oh iya, salam buat Keke dan sampaikan maaf padanya. Maaf karena aku tidak bisa melindunginya dan maaf karena cintaku telah kuberikan seluruhnya padamu.”

“ Semoga kamu bahagia disana.” Alvin tersenyum sambil memandang langit yang kini berubah cerah.

**********

**Beberapa Tahun Kemudian**

“ Maaf tuan, lukisan ini tidak dijual.” kata salah seorang staf pameran pada seorang laki-laki yang sedari tadi terus memaksa membeli sebuah lukisan.

“ Berapa pun harganya akan saya bayar. Jadi katakan tawaranku pada pemilik lukisan ini.” kata laki-laki itu lagi.

“ Sudahlah, jangan kamu dengarkan dia. Pergi saja biar aku yang urus.” Staf pameran tadi pergi setelah bosnya tiba.

“Chris !! Jangan mempersulit pegawaiku dong.” kata laki-laki yang baru saja datang itu.

“ Tapi Alvin, aku ingin lukisan ini, ini kan lukisan terakhir Sivia.” Perlahan tangan Chris bergerak meraba lukisan itu.

“ Tapi lukisan ini sudah diberikan Alvin kepadaku.” Tiba-tiba seorang laki-laki berwajah manis muncul, disebelahnya ada gadis cantik yang menemaninya.

“ Itu benar, Chris !”  tangan Alvin pun merangkul gadis yang datang bersama laki-laki tadi. Sedangkan laki-laki itu tersenyum, berjalan mendekat ke arah lukisan yang menjadi pokok perdebatan mereka.

“ Chris, kamu sendiri pasti tau, siapa tokoh dalam lukisan ini.” Laki-laki tersenyum lirih, matanya masih tetap berkaca-kaca setiap kali mengingat gadis yang menjadi bagian penting dari hidupnya.

“ Kak Gab..” lirih gadis yang bersamanya.

“ Tenang Cha, kakak sudah mengikhlaskan Sivia pergi. Mungkin disanalah tempat terbaik untuknya.” kata Gabriel, matanya kini jatuh pada Acha Adhika, adik dari Alvin Adhika.

Gadis manis itu benar-benar merupakan sosok Sivia kecil baginya, kegigihannya, senyumannya, dan hobinya. Mungkin karena itulah, Gabriel menyukainya. Tapi bukan seutuhnya karena sosok Sivia yang ada pada dirinya tapi juga karena pribadinya yang baik.

  Wah kalian sudah reuni duluan nih..” beberapa orang tiba-tiba datang dan bergabung dengan mereka.

“ Halo Kak Rio, Shilla, Zahra, Cakka, dan Ify. Selamat datang di pameran ini. Pameran yang merupakan perwujudan dari harapan terakhir Sivia.” Alvin berkata lirih, walau 3 tahun sudah berlalu, hatinya tetap saja goyah setiap mengingat Sivia. Sementara yang lain hanya bisa tersenyum.

“ Pameran yang luar biasa.” puji Rio dengan tulus, setidaknya ia tidak ingin bersedih dihari bahagia ini.

“ Chrissss, kenapa kamu tidak menjemputku. Kamu jelek banget, masa ngebiarin aku bareng Cakka Shilla, kan aku jadi kacang.” omel Zahra, keadaan yang tadinya tegang pun mulai mencair. Karena tingkah gadis ini.

“ Maaf ya sayang…” Chris hanya nyengir, sementara Zahra melengos sebal.

“ Kok aku bisa  suka sama kamu. Padahal kan awalnya aku suka sama Gabriel.” kali ini giliran Chris yang cemberut. Tapi itu pun tak bertahan lama.

“ Itu karena kamu kalah saing sama Acha.” dengan cepat Chris merangkul bahu Acha, sementara Acha hanya tertunduk malu.

“ Ohh iya, Acha kapan kamu mau mengadakan pameran lukisan ?” tanya Rio lembut, memang sejak kepergian Sivia, Rio cukup dekat dengan gadis manis yang selalu mengingatkannya pada adiknya itu.

“ Masih lama kak, butuh dana nih. Habis kak Alvin gak mau majang lukisan Acha sekalian sih.” Acha pun menyenggol pelan tangan kakaknya.

“ Tidak bisa, dulu kan Sivia minta supaya pameran ini buat lukisannya dan hasil fotoku. Jadi kamu gak boleh ikutan.”

“ Dasar…” cibir Acha.

                Semuanya kini sudah bahagia dengan kehidupan mereka masing-masing. Cakka dan Shilla telah sukses menjadi seorang entertainment, hubungan mereka pun sudah akan melangkah ke pertunangan. Sedang Chris kini bahagia dengan Zahra, Gabriel dan Acha. Hubungan Kak Rio dan Ify pun semakin serius, sebentar lagi keduanya pun akan segera menikah.

“ Lalu kamu Vin ?” tanya Rio.

“ Apanya ?”

“ Kapan kamu akan melupakan Sivia, dia sudah bahagia disana Vin.” kata Rio tegas, Alvin hanya tersenyum lirih.

“ Susah buat aku ngelupain dia. Tapi mungkin sebentar lag kak !! Aku masih ingin menjadikan dia yang utama di hati aku.” Alvin tersenyum sambil memandang jajaran lukisan Sivia dan foto-foto hasil jepretannya.

“ Lagipula aku masih menunggu orang yang tepat..”


“ Viaaaa kesini deh !” kata salah seorang siswa SMA yang sedang berkunjung di pameran Alvin.

“ Ada apa Alyssa, Iel ? Jangan teriak-teriak dong budek nih telinga.” balas anak perempuan yang tadi dipanggil Via. Kali ini giliran perhatian Rio, Gabriel, Ify, dan Alvin tersita, nama-nama itu.

“ Ini nih coba kamu lihat foto yang ada disini.” Gadis yang bernama Alyssa itu menunjuk foto Sivia yang tersenyum manis, foto itu diambil Alvin saat Acha dan Sivia sedang melukis di taman.

“ Eh, kok mukanya mirip sama aku.”

“ Sivia Imelda..” gadis yang bernama Via tadi membaca nama yang ada dibawah foto itu.

“ Apa muka aku terlalu pasaran ??” gadis yang dipanggil Via tadi mulai meraba wajahnya.

“ Iya tuh muka kamu pasaran, tapi yang difoto ini lebih cantik daripada kamu.”

“ Hahahaha…” Anak-anak muda itu tertawa bersama.

 Kali ini bukan hanya Alvin, Rio, Ify, dan Gabriel yang menatap tiga anak muda itu, mata Cakka, Shilla, Chris, Zahra, dan Acha pun mulai mengamati wajah gadis SMA tadi.

“ Mirip..” kata mereka bersamaan.

“ 3 sahabat seperti Gab, Ify, dan Sivia.” kata mereka lagi.

“ Udahlah yuk pulang aja !” ajak gadis yang dipanggil Via tadi.

“ Kamu gak jadi beli lukisan ?” tanya Alyssa.

“ Lukisannya bagus-bagus banget lho !” tambah Gabriel.

“ Kata salah satu pegawainya gak dijual, cuma sebagai koleksi. Huhh, pemiliknya jelek banget sihh.” omel gadis yang bernama Via tadi.

“ Hahahaha…” Chris dan Zahra tertawa lebar saat mereka mendengar gadis yang bernama Via itu mengejek pemilik pameran ini. Tapi Alvin sendiri tetap diam, ia terus memperhatikan wajah Via.

“ Kurasa hatiku telah kembali.” tutur Alvin sambil tersenyum dan tetap memandang gadis bernama Via tadi.

********

***Tamat***

***Maaf ngaretnya pollll, mohon tinggalkan jejak bagi yang udah baca***
***Terima kasih udah mau baca sampai tamat***


_mei_