Jumat, 20 April 2012

Lihat Lebih Dekat Part 16 ( Selamat Jalan Sivia )


Lihat Lebih Dekat Part 16
~ Selamat Jalan Sivia ~


“ Aku sayang padamu Alvin Adhika…” ucap Sivia lirih.

“ Sedangkan aku benar-benar mencintaimu Sivia Imelda..” balas Alvin sambil memandang Sivia.

                Sekilas Alvin melihat seulas senyum terkembang dari bibir Sivia. Tapi detik berikutnya  ia melihat air mata mengalir di pipi gadis itu, bersamaan dengan itu terdengar deru nafas yang cukup panjang. Dan kini air mata turun dari mata Alvin. Rasanya benar-benar sakit.

“ Sivia kamu begitu banyak meminta padaku, sedangkan aku…”

“ Tidak bolehkah aku memintamu untuk tetap disisiku.”

“ Aku masih ingin menjagamu, Sivia.”

Alvin menangis dalam diamnya, ia merasakan tubuh Sivia semakin merosot dipelukannya. Air mata semakin banyak keluar, inilah kali keduanya ia menangis seperti ini. Tapi sesak yang ia rasakan benar-benar berbeda dari yang dulu. Kali ini benar-benar sakit.

“ Aku ingin menjagamu selamanya.” Ucapnya lirih.

*********

                Air mata turun dimana-mana bahkan langit seakan tak mau menggantung kesedihannya. Hujan turun mengiringi kepergian gadis itu. Deretan pelayat berbaju serba hitam benar-benar membuat sesak nafas.

“ Siviaaaa…” Rio hanya meronta dipegangan Gabriel. Ia benar-benar tidak rela melihat adik tersayangnya itu mulai ditimbun di bawah tumpukan dingin tanah.

                Sedangkan para sahabat hanya bisa berdiri terpaku, mereka belum bisa menerima takdir Tuhan. Sungguh, mereka masih ingin gadis itu tetap disini. Mereka masih ingin melihat senyumnya, tawanya, kekuatannya, ketegarannya dan semua tentangnya.

                Barisan yang awalanya terlihat penuh sesak pun mulai berkurang. Meninggalkan 8 orang anak muda disana. Sementara di sudut pemakaman terlihat 2 orang dewasa sedang terpaku dan menangis. Terakhir, terlihat seorang laki-laki tampan masih berdiri kaku di gerbang pemakaman.

“ Kakak minta maaf gak bisa jaga kamu Siv.” lirih Rio, air mata bergulir bergantian turun dari matanya.

“ Kakak minta maaf…”

“ Siviaaaa….” jerit Rio, sedari tadi ia tak berhenti menyebut nama adiknya. Ia masih tetap berharap adiknya akan bangun dan tersenyum padanya.

“ Pulang Siv, kakak kangen.”

“ Maaf Sivia selama ini aku jahat padamu.” Zahra dan Chris mengelus perlahan nisan Sivia. Cakka dan Shilla masih terpaku, mereka memang tak punya kesalahan berarti pada Sivia, mereka pun tidak akrab dengan Sivia. Tapi entah kenapa kepergian Sivia  meninggalkan luka dihati mereka.

                Sementara disana Acha berjalan dan jongkok mendekat ke arah Rio yang masih terisak.

“ Kak Sivia jangan pergi dulu, Acha belum pandai melukis.” Acha terisak pelan.

“ Acha masih ingin diajari melukis oleh kakak.”

                Sebenarnya diantara orang-orang disini yang paling terpukul adalah dua orang ini. Sedari tadi Ify dan Gabriel bergandengan erat, mereka berusaha saling menguatkan walau air mata tak pernah berhenti mengalir dari mata mereka.

“ Kita harus kuat Fy..” lirih Gabriel, Ify hanya diam sambil mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Gabriel.

“ Aku tau, Sivia pasti akan bahagia disana.” balas Ify, rasanya tak sanggup melihat sahabat baiknya, orang yang dianggap keluarganya meninggalkan dia secepat ini. Tuhan !!

“ Sivia, entah dimanapun kamu. Kami akan selalu mencintai. We love you..” tutur Ify dan Gabriel bersamaan.


                Terlihat dua orang dewasa berjalan kesana, mendekat ke tempat peristirahatan terakhir putri mereka. Anak-anak muda itu menyingikir. Memberikan ruang untuk dua orang dewasa tadi.

“ Sivia, maafin mama sama papa.” Kedua orang dewasa yang notabenya adalah orang tua Sivia itu mulai menangis, menumpahkan semua penyesalan mereka.

“ Maaf, selama ini mama gak pernah meluk kamu. Gak pernah ngasih kamu kekuatan. Bahkan mama gak tau kalau kamu sakit. Sebenarnya mama macam apa aku ini.”

“ Maafin juga papa yang gak bisa jaga kamu. Bahkan kami tidak pantas menjadi orang tuamu.”

“ Maaf….”

“ Maaf karena selama kamu ada, kami hanya membuatmu terluka.” Bulir air mata kembali mengalir dari kedua orang tuanya.

“ Kami terlalu bodoh, kami terlalu egois.” Rio benar-benar menangis ketika mendengar perkataan orang tuanya. Seandainya bisa, ia ingin memeluk kedua orang tuanya tapi otaknya membuat emosi yang selama ini ia pendam muncul.

“ Kalian gak pantas jadi orang tua !! Sejak kecil Sivia tidak pernah merasakan yang namanya bahagia dari kalian. Saat ia masuk tk kalian kemana ? Saat ia ikut lomba melukis pertama kali kalian kemana ? Saat ia divonis sakit, saat dia operasi jantung kalian kemana ??” Rio menumpahkan semua kekesalannya.

“ Bahkan kalian meninggalkannya sejak dia berumur 1 tahun.”

“ Kak Rio tenanglah !” Perlahan Ify memeluk Rio, mencoba menenangkan laki-laki yang begitu ia sayangi.

“ Mereka jahat fy sama Sivia.”

“ Dan kamu Sivia, buat apa kakak meneruskan cita-cita kakak menjadi dokter spesialis jantung. Kalau kamu, orang yang ingin kakak selamatkan sudah pergi.”

“ Kamu jahat Sivia..”

                Semua terdiam, mereka terlarut dalam semua kata-kata Rio. Laki-laki itu benar-benar menyayangi dan menjaga adiknya. Kakak yang luar biasa.

********

                Alvin berjalan kaku ke makam Sivia. Sedari tadi ia hanya berdiri di gerbang menunggu semua lebih tenang serta menunggu hatinya siap untuk mengucapkan kata perpisahan. Tapi sampai saat ini ia belum siap dan mungkin tak akan pernah siap.

“ Kamu jahat Siv, kamu buat banyak orang kehilangan, kamu buat semuanya menangis, kamu buat  kisah cintaku begitu tragis.” Alvin mengusap pelan air mata yang tiba-tiba turun.

“ Tapi kamu harus tau Siv, cintaku padamu akan abadi walau kita sudah berbeda dunia. Dan Oh iya, salam buat Keke dan sampaikan maaf padanya. Maaf karena aku tidak bisa melindunginya dan maaf karena cintaku telah kuberikan seluruhnya padamu.”

“ Semoga kamu bahagia disana.” Alvin tersenyum sambil memandang langit yang kini berubah cerah.

**********

**Beberapa Tahun Kemudian**

“ Maaf tuan, lukisan ini tidak dijual.” kata salah seorang staf pameran pada seorang laki-laki yang sedari tadi terus memaksa membeli sebuah lukisan.

“ Berapa pun harganya akan saya bayar. Jadi katakan tawaranku pada pemilik lukisan ini.” kata laki-laki itu lagi.

“ Sudahlah, jangan kamu dengarkan dia. Pergi saja biar aku yang urus.” Staf pameran tadi pergi setelah bosnya tiba.

“Chris !! Jangan mempersulit pegawaiku dong.” kata laki-laki yang baru saja datang itu.

“ Tapi Alvin, aku ingin lukisan ini, ini kan lukisan terakhir Sivia.” Perlahan tangan Chris bergerak meraba lukisan itu.

“ Tapi lukisan ini sudah diberikan Alvin kepadaku.” Tiba-tiba seorang laki-laki berwajah manis muncul, disebelahnya ada gadis cantik yang menemaninya.

“ Itu benar, Chris !”  tangan Alvin pun merangkul gadis yang datang bersama laki-laki tadi. Sedangkan laki-laki itu tersenyum, berjalan mendekat ke arah lukisan yang menjadi pokok perdebatan mereka.

“ Chris, kamu sendiri pasti tau, siapa tokoh dalam lukisan ini.” Laki-laki tersenyum lirih, matanya masih tetap berkaca-kaca setiap kali mengingat gadis yang menjadi bagian penting dari hidupnya.

“ Kak Gab..” lirih gadis yang bersamanya.

“ Tenang Cha, kakak sudah mengikhlaskan Sivia pergi. Mungkin disanalah tempat terbaik untuknya.” kata Gabriel, matanya kini jatuh pada Acha Adhika, adik dari Alvin Adhika.

Gadis manis itu benar-benar merupakan sosok Sivia kecil baginya, kegigihannya, senyumannya, dan hobinya. Mungkin karena itulah, Gabriel menyukainya. Tapi bukan seutuhnya karena sosok Sivia yang ada pada dirinya tapi juga karena pribadinya yang baik.

  Wah kalian sudah reuni duluan nih..” beberapa orang tiba-tiba datang dan bergabung dengan mereka.

“ Halo Kak Rio, Shilla, Zahra, Cakka, dan Ify. Selamat datang di pameran ini. Pameran yang merupakan perwujudan dari harapan terakhir Sivia.” Alvin berkata lirih, walau 3 tahun sudah berlalu, hatinya tetap saja goyah setiap mengingat Sivia. Sementara yang lain hanya bisa tersenyum.

“ Pameran yang luar biasa.” puji Rio dengan tulus, setidaknya ia tidak ingin bersedih dihari bahagia ini.

“ Chrissss, kenapa kamu tidak menjemputku. Kamu jelek banget, masa ngebiarin aku bareng Cakka Shilla, kan aku jadi kacang.” omel Zahra, keadaan yang tadinya tegang pun mulai mencair. Karena tingkah gadis ini.

“ Maaf ya sayang…” Chris hanya nyengir, sementara Zahra melengos sebal.

“ Kok aku bisa  suka sama kamu. Padahal kan awalnya aku suka sama Gabriel.” kali ini giliran Chris yang cemberut. Tapi itu pun tak bertahan lama.

“ Itu karena kamu kalah saing sama Acha.” dengan cepat Chris merangkul bahu Acha, sementara Acha hanya tertunduk malu.

“ Ohh iya, Acha kapan kamu mau mengadakan pameran lukisan ?” tanya Rio lembut, memang sejak kepergian Sivia, Rio cukup dekat dengan gadis manis yang selalu mengingatkannya pada adiknya itu.

“ Masih lama kak, butuh dana nih. Habis kak Alvin gak mau majang lukisan Acha sekalian sih.” Acha pun menyenggol pelan tangan kakaknya.

“ Tidak bisa, dulu kan Sivia minta supaya pameran ini buat lukisannya dan hasil fotoku. Jadi kamu gak boleh ikutan.”

“ Dasar…” cibir Acha.

                Semuanya kini sudah bahagia dengan kehidupan mereka masing-masing. Cakka dan Shilla telah sukses menjadi seorang entertainment, hubungan mereka pun sudah akan melangkah ke pertunangan. Sedang Chris kini bahagia dengan Zahra, Gabriel dan Acha. Hubungan Kak Rio dan Ify pun semakin serius, sebentar lagi keduanya pun akan segera menikah.

“ Lalu kamu Vin ?” tanya Rio.

“ Apanya ?”

“ Kapan kamu akan melupakan Sivia, dia sudah bahagia disana Vin.” kata Rio tegas, Alvin hanya tersenyum lirih.

“ Susah buat aku ngelupain dia. Tapi mungkin sebentar lag kak !! Aku masih ingin menjadikan dia yang utama di hati aku.” Alvin tersenyum sambil memandang jajaran lukisan Sivia dan foto-foto hasil jepretannya.

“ Lagipula aku masih menunggu orang yang tepat..”


“ Viaaaa kesini deh !” kata salah seorang siswa SMA yang sedang berkunjung di pameran Alvin.

“ Ada apa Alyssa, Iel ? Jangan teriak-teriak dong budek nih telinga.” balas anak perempuan yang tadi dipanggil Via. Kali ini giliran perhatian Rio, Gabriel, Ify, dan Alvin tersita, nama-nama itu.

“ Ini nih coba kamu lihat foto yang ada disini.” Gadis yang bernama Alyssa itu menunjuk foto Sivia yang tersenyum manis, foto itu diambil Alvin saat Acha dan Sivia sedang melukis di taman.

“ Eh, kok mukanya mirip sama aku.”

“ Sivia Imelda..” gadis yang bernama Via tadi membaca nama yang ada dibawah foto itu.

“ Apa muka aku terlalu pasaran ??” gadis yang dipanggil Via tadi mulai meraba wajahnya.

“ Iya tuh muka kamu pasaran, tapi yang difoto ini lebih cantik daripada kamu.”

“ Hahahaha…” Anak-anak muda itu tertawa bersama.

 Kali ini bukan hanya Alvin, Rio, Ify, dan Gabriel yang menatap tiga anak muda itu, mata Cakka, Shilla, Chris, Zahra, dan Acha pun mulai mengamati wajah gadis SMA tadi.

“ Mirip..” kata mereka bersamaan.

“ 3 sahabat seperti Gab, Ify, dan Sivia.” kata mereka lagi.

“ Udahlah yuk pulang aja !” ajak gadis yang dipanggil Via tadi.

“ Kamu gak jadi beli lukisan ?” tanya Alyssa.

“ Lukisannya bagus-bagus banget lho !” tambah Gabriel.

“ Kata salah satu pegawainya gak dijual, cuma sebagai koleksi. Huhh, pemiliknya jelek banget sihh.” omel gadis yang bernama Via tadi.

“ Hahahaha…” Chris dan Zahra tertawa lebar saat mereka mendengar gadis yang bernama Via itu mengejek pemilik pameran ini. Tapi Alvin sendiri tetap diam, ia terus memperhatikan wajah Via.

“ Kurasa hatiku telah kembali.” tutur Alvin sambil tersenyum dan tetap memandang gadis bernama Via tadi.

********

***Tamat***

***Maaf ngaretnya pollll, mohon tinggalkan jejak bagi yang udah baca***
***Terima kasih udah mau baca sampai tamat***


_mei_


Jumat, 24 Februari 2012

Lihat Lebih Dekat Part 15 ( Akhir bahagia ?? )


Lihat Lebih Dekat Part 15
~ Akhir bahagia ?? ~

“ Shill..” suara khas Alvin mengalihkan perhatian Shilla yang sedang berkemas dibantu oleh seorang suster.

“ Saya permisi dulu.” Pamit suster itu.

“ Boleh aku bicara ?” Kali ini Alvin menunjukkan raut yang cukup serius.  

“ Kenapa harus minta ijin sih. Ayo bicara saja.” Shilla tersenyum , tangannya menepuk-nepuk tempat tidurnya. Alvin pun segera duduk disebelah Shilla.

“ Kamu sudah mengerti kan ?” tanya Alvin, Shilla hanya menggeleng.

“ Apa maksudmu ?”

“ Kamu pasti sadar siapa yang benar-benar kamu suka dan siapa yang benar-benar menyukaimu.” kata Alvin, matanya menatap mata Shilla dalam.

“ Kamu Vin, yang aku suka itu kamu. Bukan yang lain.” jawab Shilla saat itu.

“ Dasar bodoh ! Aku itu hanya sekedar obsesi kamu bukan cinta kamu. Dan apa kamu belum sadar, selama ini ada seseorang yang selalu ada dan benar-benar ada buat kamu.” Shilla terdiam mendengar penuturan Alvin.

                Kini pikirannya melayang ke sosok laki-laki yang selalu bersamanya, Cakka. Shilla ingat, sejak dia kecil Cakka selalu melindunginya. Saat boneka kesayangannya diambil oleh sekumpulan anak-anak nakal, Cakka berusaha merebutnya. Bahkan Cakka sampai terluka, dan saat itu datang Alvin yang berhasil mengusir anak-anak nakal tadi. Mungkin dari sanalah Alvin menjadi obsesinya.

                Saat dia SMP, dia dijauhi semua murid perempuan dikelasnya karena dia cantik. Alasan yang benar-benar konyol. Tapi Cakka selalu ada dan mendukungnya. Saat ia menangis karena mendengar gunjingan teman-teman perempuannya, Cakka menutup telinganya memberikan semua kekuatan padanya. Dan oleh Cakka pula ia dikenalkan pada Zahra dan Keke, sahabat barunya.

                Shilla ingat, ia selalu bercerita tentang rasa sukanya pada Alvin ke Cakka, bukan Zahra ataupun  Keke. Saat Keke jadian dengan Alvin, Cakka menguatkannya. Memberinya semangat, dan yang paling berharga, saat kecelakaan kemarin Cakka selalu merawatnya, menemaninya, dan pada satu malam ia mendengar panjatan doa tulus dari Cakka untuk kesehatannya, kesembuhannya.

“ Tuhan apakah selama ini aku salah..”

“ Ya.. Cakka adalah orang yang kamu cintai. Orang yang selama ini ada untukmu.” tutur Alvin saat melihat air mata mengalir melalui pipi Shilla.

“ Aku sadar Vin. Dan kali ini aku tidak akan mengecewakannya lagi.” kata Shilla sambil menyeka air matanya.

“ Ini baru Shilla, sahabatku tersayang.” Alvin mengusap pelan puncak kepala Shilla. Mereka berdua kini tersenyum dan berpandangan.

“ Kamu juga harus kejar cintamu.” kata Shilla, Alvin mengangguk mantap.

><><><><><><><>< 

                Alvin, Chris, Rio, Gabriel, dan Ify sedang menunggu Sivia sadar dari tidur panjangnya. Kabar dari dokter tadi benar-benar membuat pikiran mereka terang. Walau begitu Sivia belum juga menunjukkan tanda-tanda kalau dia akan sadar.

“ Tookk..tookkk..” suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka dari Sivia. Dengan malas Ify berjalan menuju pintu kamar tempat Sivia dirawat.

“ Untuk apa kalian disini ?” tanya Ify dingin saat melihat Cakka, Zahra, dan Shilla berada di depan pintu.

“ Tidak bolehkah kami menjenguk teman sekelas kami ?” tanya Shilla sopan.

“ Masuklah..” kata Rio sambil tersenyum.  Shilla tersenyum, Ify pun meninggalkan ketiga orang itu.

Pelan Zahra mendorong kursi roda Shilla menuju tempat dimana orang-orang itu menunggu Sivia sadar. Sedang Cakka mengikuti dibelakang mereka dengan senyum yang terukir jelas di wajahnya. Mungkin Shilla sudah memperjelas semuanya. Mengungkapkan sebuah kejujuran yang terselimuti sebuah obsesi.

“ Sivia belum sadar ?” tanya Shilla pelan, Rio hanya menggeleng pasrah.

“ Mungkin sebentar lagi.” Tepat saat itu, gerakkan kelopak mata dan jemari Sivia membuat mereka kembali fokus memandang Sivia. Berharap gadis itu bangun dari tidur panjangnya.

Tak lama mereka mengukir senyum, ketika mata Sivia mulai perlahan terbuka. Harapan-harapan baru pun muncul dibenak mereka.

“ Kak Rio..” lirih Sivia.

“ Kakak disini Siv, kakak seneng banget kamu udah sadar. Terima kasih udah ngasih kesempatan buat kakak ngejaga kamu lebih lama. Makasih..” Dengan cepat Rio mendekat ke arah Sivia. Menggenggam lembut tangan adik tersayangnya itu.

“ Sudah berapa lama Sivia tidur ?” tanya Sivia masih dengan suaranya yang lemah.

“ 5 hari..” balas Rio, kali ini Sivia membelalakkan matanya.

“ Mama Papa ?” tanya Sivia cepat.

“ Mereka gak tau.” Rio menghela nafas beratnya, sedang Sivia menghembuskan nafas leganya.

“ Lebih baik begini, aku tidak ingin mengganggu proses perceraian mereka.” Tiba-tiba tangis Sivia pecah, ia sama sekali belum pernah merasakan hangatnya kasih sayang kedua orang tuanya.

“ Kak Rio..”

“Sivia capek.” keluh Sivia, semakin lama semakin banyak air mata yang mengalir.

“ Kamu gak boleh bilang begitu. Kakak sayang sama kamu.”

“ Kakak butuh kamu…”

“ Siv, kami selalu ada untukmu. Akan selalu.” secara tiba-tiba Gabriel dan Ify menggenggam tangan Sivia. Mereka saling berpandangan dan menguatkan. Sivia pun tersenyum, membiarkan tangan kakaknya menghapus air matanya.

><><><><><><><>< 

                Sivia sedang asyik melukis saat suara ketukan pintu sukses membuat dirinya terkejut. Segera ia meringkas kanvas dan semua alat lukisnya. Dengan sedikit dorongan ia memasukkan semua alat-alat lukis itu ke kolong tempat tidurnya. Dan saat dirasa semuanya beres, ia pun membalas ketukan itu.

“ Masuk..” balasnya pelan namun cukup terdengar.

                Seorang laki-laki seumurnya segera masuk. Sivia tersenyum ringan, hal yang belum pernah ia tunjukkan pada semua orang selain kedua sahabatnya dan kakaknya. Dilihatnya tangan laki-laki itu, disana ada satu buket mawar putih kesukaannya.

“ Udah sehat ?” tanya laki-laki itu.

“ Dan terima kasih telah menolongku waktu itu.” lanjut laki-laki itu.

“ Sama-sama Chris, dan apakah karena aku menolongmu kamu tidak jadi melaksanakan aksi balas dendammu pada Alvin menggunakan aku ?” pertanyaan Sivia sukses membuat Chris bungkam. Darimana gadis ini bisa tau rencananya, bahkan ia sama sekali tidak menunjukkan raut wajah marah.

“ Kamu pasti bingung, darimana aku tau semua ini ?” Chris hanya mengangguk setuju.

“ Mudah kok. Aku sudah cukup lama hidup di dunia ini, dan diwaktuku itu aku belajar memahami sifat manusia. Termasuk kamu.”

“ Aku pun tau kalau Alvin suka sama aku, dan kamu mau buat aku suka sama kamu. Itu semua untuk membuat Alvin kecewa. Benarkan ?” Sivia hanya tersenyum perlahan, sementara Chris tertunduk dalam, rasa malu dan bersalah kini menyelimuti dirinya.

“ Sudahlah, toh itu gak penting. Aku tau, hidupku tak akan lama lagi.” Sivia tersenyum pahit, ia memutar tubuhnya membelakangi Chris. Membiarkan rasa dingin perlahan memasuki dadanya.

“ Kamu harus bertahan !!” kata Alvin yang baru saja datang. Sivia terhenyak, segera ia putar tubuhnya menghadap Alvin yang kini sudah berdiri tegap di sampingnya.

“ Dan aku tidak menyangka kau serendah itu Christoffer.” sindir Alvin pada Chris.

“ Yang menjadikan aku rendah adalah ayahmu, Alvin Adhika.” kata Chris dengan kasar, merasa tidak terima, Alvin mencengkram keras kemeja Chris.

“ Jangan bawa-bawa ayahku. Banci !!” umpat Alvin.

“ Jadi sampai sekarang kamu tidak sadar ? Kamu tidak tau ? Mobil yang menabrak Keke adalah mobil salah satu anak buah ayahmu. Aku mengatakan ini dengan segudang bukti. Bukan hanya omong kosong. Maka dari itu aku membencimu. Aku benci kamu yang begitu bodoh.” Alvin melepas cengkramannya pada kemeja Chris, tubuhnya terasa lemas seketika. Kini ia terduduk di lantai.

“ Kalian berdua bodoh ya !!” perkataan Sivia yang tiba-tiba menghentikan suasana aneh antara Chris dan Alvin.

“ Apa maksudmu ?” tanya Chris tak mengerti, emosinya masih begitu tinggi.

“ Chris, yang kamu benci itu adalah kamu yang tidak bisa melindungi Keke bukan Alvin atau ayahnya. Dan Alvin aku tidak mengerti, kenapa kamu terlalu naïf. Terlalu naïf untuk mengerti perasaan sahabatmu yang begitu mencintai orang yang juga kamu cintai. Dan seandainya saat itu kamu mau mempertahankan Keke semuanya tidak akan serumit ini.”

“ Tapi Keke yang nolak aku. Dia gak mau aku jadi pacarnya, melindunginya.”

“ Nah itu yang membuat kamu begitu bodoh.”

“ Apa maksudmu ??”

“ Sudahlah, selesaikan masalah kalian diluar. Aku sedang sakit. Dan tidak berminat, mendengar obrolan semacam ini.” Sivia kembali berbaring dan menutupi dirinya dengan selimut. Chris dan Alvin pun berjalan keluar dengan pasrah.
               
                Dan kini waktunya mereka menyelesaikan masalah mereka. Dengan kepala dingin dan bijaksana. Dan dengan segala keterbukaan hati.

><><><><><><><>< 

                Sivia akan mendorong kursi rodanya ke arah taman saat sebuah tangan memegang tangannya. Sivia membalikkan tubuhnya dan menatap laki-laki itu.

“ Alvin…” panggil Sivia.

“ Mau kemana ? Aku antar ?” Sivia mengangguk, dan Alvin tersenyum.

“ Taman…”

                Kedua orang itu berkeliling disekitar taman. Mereka sama sekali tidak berbicara. Mungkin masih sama-sama canggung.

“ Istirahat Vin.” pinta Sivia.

                Alvin mengangguk pelan dan membawa Sivia ke sebuah kursi taman. Disana Alvin membantu Sivia untuk duduk.

“ Jaga semuanya Vin..” kata Sivia tiba-tiba. Sementara Alvin memandang Sivia tidak mengerti.

“ Aku titip kak Rio, titip Ify, Gabriel, dan Acha. Aku sayang banget sama Acha.” Sivia berkata seperti itu seraya tersenyum.

“ Kamu apa-apaan sih Vi ?” tergambar jelas raut wajah tidak suka dari Alvin. Perkataan Sivia barusan tidak bisa ia terima dengan hatinya.

“ Dan aku titip hatiku ke kamu. Aku suka sama kamu.” Kali ini Alvin tertegun, menatap Sivia. Mencari kebenaran dalam kata-kata gadis dihadapannya itu.

“ Aku juga suka kamu..” balas Alvin yakin, Sivia tersenyum.

“ Aku tau..” perlahan Sivia menyandarkan kepalanya di bahu Alvin.

“ Tapi aku akan pergi. Untuk selamanya.” Saat Alvin akan membuka mulutnya untuk mengeluarkan kata-kata protes dengan cepat jemari Sivia membungkamnya.

“ Jangan dipotong dulu, mungkin ini kata-kata terakhirku.” ucap Sivia lagi.

“ Vin kamu suka fotografi kan ? Nanti kalau kamu ngadain pameran buat hasil pembekuan kenangan milik kamu itu. Tolong sertain juga lukisan-lukisan jelekku.” Kali ini Sivia menangis, pelan tangan Sivia bergerak untuk memeluk tubuh Alvin. Sementara Alvin tetap diam. Hatinya benar-benar terkoyak mendengar kata-kata Sivia barusan.

“ Lukisan itu mencerminkan semua harapanku. Dan kehidupanku.”

“ Dan buat kamu, jaga diri baik-baik. Mulailah hubungan baik dengan Chris, kalian adalah sahabat.”

“ Sahabat..”

“ Aku bisa bertahan sampai disini pun karena sahabatku dan kakakku. Kak Rio, Gabriel, dan Ify.”

“ Dan Alvin, aku ucapkan terima kasih. Kamu membuat hidupku berwarna. Kamu satu-satunya orang, yang berani padaku. Mengejekku bahkan mengajakku balapan. Itu menyenangkan.” Alvin melihat Sivia tersenyum lebar dalam dekapannya.

“ Siviaa…”

“ Kali ini giliranmu bicara.” Sivia mengurai pelukannya dan kembali menyandarkan kepalanya ke bahu Alvin.

“ Sivia, disini, aku bicara kalau aku butuh kamu. Jangan tinggalkan aku. Lagipula ada kak Rio, Ify, Gabriel, Acha, aku dan masih banyak lagi orang yang sayang padamu. Jangan pernah tinggalkan kami.” tutur Alvin lirih, Sivia tersenyum masam.

“ Tolong jangan meminta hal yang mustahil kepadaku.” Terlihat Sivia sedang menyeka air matanya.

“ Aku tetap harus pergi..”

“ Walau aku tidak ingin pergi..”

“ Boleh aku minta satu permintaan lagi ?” Alvin terdiam, tidak mengangguk atau menggeleng.

“ Bilang ke papa dan mamaku, aku mencintai mereka. Aku tau, aku tidak berarti untuk mereka. Aku hanya seorang anak yang mungkin tidak mereka butuhkan bahkan tidak mereka inginkan. Merasakan pelukan mereka pun aku tak pernah. Hanya suara ribut yang setiap harinya aku dengar dari mereka. Aku mau dipeluk Vin.” Sivia menyeka bulir air mata yang mulai turun.

“ Tapi walau begitu, aku mencintai mereka. Dan cinta ini akan tetap sama sampai kapan pun.”

“ Capekk Vin..” keluh Sivia tiba-tiba, terlihat Sivia menepuk-nepuk dadanya. Rasa sesak mulai memenuhi rongga dadanya. Alvin mulai memandang Sivia khawatir, wajah Sivia kali ini benar-benar pucat.

“ Balik ke kamar rawat yuk.” ajak Alvin, Sivia menggeleng. Wajahnya makin terlihat pucat.

“ Sini dehh..” gerakan tangan Sivia membuat Alvin mendekatkan wajahnya ke arah Sivia.

Pelan dirasakan oleh Alvin tangan dingin Sivia menyentuh kedua pipinya. Tangan itu membawanya, dan sekarang keningnya tepat di depan bibir Sivia. Dan kali ini Alvin merasakan ada sesuatu dingin menyentuh keningnya. Yap, Sivia mencium lama keningnya.

“ Aku sayang padamu Alvin Adhika…” ucapnya lirih.

“ Sedangkan aku mencintaimu Sivia Imelda..”

                Sekilas Alvin melihat seulas senyum terkembang dari bibir Sivia. Tapi sedetik kemudian ia melihat air mata mengalir di pipi gadis itu, bersamaan dengan itu terdengar deru nafas yang cukup panjang. Dan kini air mata turun dari mata Alvin.

“ Kamu begitu banyak meminta padaku, sedangkan aku…”

“ Tidak bolehkah aku memintamu untuk tetap disisiku.”

“ Aku masih ingin menjagamu, Sivia.”

Alvin menangis dalam diamnya, ia merasakan tubuh Sivia semakin merosot ke bawah. Air matanya semakin banyak keluar, inilah kali keduanya ia menangis seperti ini. Tapi sesak yang ia rasakan benar-benar berbeda dari yang dulu. Rasanya jauh lebih sakit.


*****


***Makasih udah mau baca***
***Dan mohon tinggalkan jejak bagi yang udah baca***




_mei_