Kamis, 22 September 2011

Lihat Lebih Dekat Part 9


Lihat Lebih Dekat Part 9
~ Hubungan Mereka ~


                Rio sedang duduk sambil membaca serius buku yang tebalnya tak terkira itu. Ia sedari tadi benar-benar fokus dengan buku yang ia baca. Ia punya sebuah tujuan dengan membaca buku itu. Di lain pihak seorang gadis cantik berjalan menghampirinya pelan. Di tangannya terlihat sebuah kotak bekal lucu bergambar Hello Kitty. Semakin lama gadis itu semakin dekat dengan Rio yang sedang asyik membaca buku.

“ Kak Rio..” panggil gadis itu pelan, ia pun langsung duduk di sebelah Rio.

“ Ify..” Rio memalingkan wajahnya untuk menatap gadis yang baru saja memanggilnya. Ia pun memberikan senyuman manisnya untuk gadis itu, Ify.

“ Ini..” Ify menyodorkan kotak bekalnya untuk Rio. Rio terdiam sesaat.

“ Makan aja, aku tau kok kalau kakak belum makan kan.” Rio tersenyum senang menatap kotak bekal itu, segera di ambilnya kotak bekal itu dari tangan Ify.

                Rio mulai memakan nasi goreng yang sudah Ify siapkan. Sementara Ify terus memandang buku yang tadi Rio baca.

“ Jantung…” lirihnya pelan, matanya masih tak lepas pada cover buku tebal itu. Rio menghentikan aktivitas makannya sejenak dan menatap Ify dalam. Ify yang ditatap seperti itu hanya menghela nafas panjang.

“ Aku harap jantung buatan itu akan lebih bisa bertahan lama.” ucap Ify lirih, matanya menerawang jauh ke atas langit.

“ Itu harapanmu ??” Rio meletakkan kotak makannya  dan menuntun Ify untuk menatapnya. Ify hanya menggeleng kuat.

“ Gak, yang paling aku harapkan adalah dia segera mendapatkan donor jantung.” Rio menatap Ify penuh arti.

“ Andai saja aku bisa mendonorkan jantungku untuknya.” Rio segera meletakkan jari telunjuknya di bibir Ify setelah Ify selesai berkata begitu.

“ Kalau begitu aku takkan siap kehilanganmu bahkan tak pernah siap.” Rio menggenggam erat tangan Ify, memandang tajam kedua bola mata Ify.

“ Aku akan terus belajar masalah jantung agar bisa selalu merawatnya. Agar dia tetap bisa bertahan sampai nanti.” Rio mengelus pelan kepala Ify, Ify hanya tersenyum tipis.

“ Dan aku harap kau juga kuat dengan segala cobaan yang kamu hadapi.”

“ Jika ada masalah, datanglah padaku ! Aku akan selalu ada untukmu.”

                Rio mulai mengedarkan pandangannya ke sekitar mereka. Sekolah masih cukup sepi apalagi di lapangan, tempat mereka berdua sekarang. Dengan secepat kilat Rio mencium pipi Ify. Ify melongo karena terkejut, perlahan semburat merah mulai memenuhi pipinya.

“ Makasihh fy sarapannya, dan makasih juga bonusnya..” Terlihat Rio memegang pipinya sambil berjalan cepat meninggalkan Ify, Ify sendiri hanya tertunduk malu. Ia benar-benar malu.

“ Kak Riooo….”

><><><><><><><><><><>< 

Gadis itu duduk di tempat paling indah di SMA Swasta Higashi, atap sekolah. Sesekali ia tersenyum riang sambil menggoreskan pensilnya di buku gambar kecilnya. Pelan tapi pasti ia menggambar keadaan sekolah mereka dari atas sana. Mungkin hanya butuh 5 menit untuk menyelesaikan sketsanya. Dan hasilnya benar-benar luar biasa, sangat indah. Tanpa gadis itu sadari, sedari tadi ia dipandangi oleh seorang laki-laki tampan. Bahkan laki-laki itu kini tepat berada di sampingnya.

“ Sketsa buatanmu benar-benar bagus.” ucap laki-laki itu, gadis yang sedari tadi asyik melukis itu terkejut dan segera membalikkan wajahnya ke asal suara.

“ CUP…” pipi Sivia mendarat tepat di bibir Alvin. Yah, jarak mereka sangat dekat jadi saat Sivia memutar wajahnya pipinya sudah berada di bibir Alvin.

                Dengan cepat kedua orang itu menjauhkan wajahnya. Semburat merah mulai memenuhi wajah mereka. Wajah yang sebelumnya berwarna putih bahkan sudah berubah merah.

“ Kenapa kamu ada disini ??” tanya Sivia dingin, ia mulai bisa mengusai perasaannya lagi.

“ Ini kan tempat favoritku. Lagian ini juga sekolahku. Jadi aku bisa dimana saja sesukaku.” Alvin merebahkan tubuhnya disebelah Sivia. Ia memejamkan matanya erat sambil menikmati hembusan angin pagi yang benar-benar menyegarkan.

“ Sekolahmu kau bilang, kamu itu cuma anak pemilik sekolah bukan pemilik sekolah ini.” Sivia bersiap berdiri saat tangan Alvin mencegahnya.

“ Maukah kamu menemaniku sebentar.” tutur Alvin, posisinya kini sudah tidak tidur lagi namun duduk rapat disebelah Sivia.

“ Maaf, aku gak mau.” tolak Sivia tegas, Sivia pun berdiri lalu mengibaskan roknya sebentar. Sivia mulai berjalan meninggalkan Alvin.

“ Heii, Putri Es yang punya senyum indah.” Sivia yang merasa risih dipanggil seperti itu membalikkan badannya dan menatap Alvin tajam.

“ CKREEEKK…” Sivia melongo tak percaya ketika tau bahwa dia baru saja dipotret oleh Alvin.

“ dasar cowok gila !!” umpat Sivia pelan, ia pun menuruni tangga, meninggalkan Alvin sendirian di atap sekolah.

“ Dasar cewek jutek, dingin, tapi cantik.” Alvin tersenyum sambil melihat foto Sivia yang baru saja ia ambil. Foto alami yang benar-benar menawan.

“ Kamu itu benar-benar menarik.”

><><><><><><><><><><>< 

“ Pagi Zahra..” sapa Chris pada Zahra yang sedang asyik melamun di depan kelas.

“ Apasih kamu, pergi sana aku gak suka melihatmu.” Zahra akan beranjak tapi tidak jadi karena Chris menghadangnya.

“ Kenapa kamu ikut benci padaku, bukankah yang harusnya benci padaku itu cuma Alvin.” Zahra terdiam sejenak mendengar penuturan Chris, semua yang dikatakan Chris itu masih terlalu mengambang.

“ Bukan !! Bahkan Alvin pun tak berhak membenciku. Harusnya aku yang benci padanya.” Chris berkata dengan nada yang benar-benar sinis, Zahra tertegun, dalam otaknya ia membenarkan semua perkataan itu tapi jauh di dalam hatinya ia tak setuju dengan semua itu. Hatinya jauh memilih Alvin sebagai pembenaran.

“ Bu..kan..” Agak tersendat Zahra mengucapkannya. Chris hanya tersenyum miring. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Zahra.

“ Kamu takkan bisa menyangkal, begitu juga dengan mereka.” Mulut Chris benar-benar berbicara dengan lancar di telinga Zahra.

“ Karena memang aku yang benar.”

“ Sampai jumpa di kelas Zahra Anindita Putri.” Chris berjalan meninggalkan Zahra yang masih terpaku di tempatnya.

“ Hei Zahra..” Suara bass dari laki-laki itu benar-benar menghentikan kebisuan Zahra. Zahra mendongak dan menatap laki-laki di hadapannya.

“ Gabriel..” lirihnya pelan, Gabriel sendiri hanya tersenyum manis.

“ Panggil Iel aja, biar gak kaku.” Zahra mengangguk mengerti.

“ Ada apa Iel ??” Agak canggung Zahra menyebut nama Iel.

“ Ini..” Gabriel menyodorkan saputangan milik Zahra yang tempo hari ia pinjamkan.

“ Makasih banyak waktu itu udah nolong aku.” tutur Gabriel, Zahra hanya tersenyum manis dan mengangguk.

“ Oh iya tadi kulihat kau bersama Chris. Ada apa ?? Kenapa tadi kau terlihat begitu tegang ??” Gabriel menatap Zahra yang sekarang menunduk.

“ Maaf, kurasa ini bukan urusan kamu.” Zahra agak tersenyum getir sambil mengatakan itu.

“ Sudahlah tak apa.” Gabriel tersenyum, ia benar-benar mengerti kalau ini bukan urusannya.

                Zahra dan Gabriel pun terlibat pembicaraan yang sangat asyik. Zahra sendiri merasa jantungnya terus berdegup kencang setiap kali melihat senyum dari Gabriel. Apakah ini yang namanya cinta ?? Entahlah. Keasyikkan mereka berdua terganggu saat Sivia datang dan membawa Gabriel pergi.

“ Huhh, dasar cewek pengganggu.”  Gerutu Zahra dan berjalan masuk ke dalam kelas.

><><><><><><><><><>< 

“ Kamu tadi bicara apa sama dia ?” Sivia memandang sekelilingnya, sekarang ia sedang berada di taman sekolah bersama Gabriel.

“ Bukan apa-apa kok.” Gabriel tersenyum seraya mencubit pipi Sivia.

“ Iihh., kebiasaan deh Gab.” Sivia menepis pelan tangan Gabriel dari pipinya. Gabriel sendiri hanya tersenyum penuh arti.

“ Siviaaa… Gabrielll..” Laki-laki itu memanggil Sivia dan Gabriel dari ujung lapangan. Tak lama terlihat ia berlari kecil ke arah Gabriel dan Sivia.

“ Sivia, maaf kemarin aku membuat moodmu rusak.” Kata laki-laki itu sekenanya, Sivia sendiri hanya mengangguk.

“ Siv, kamu udah punya pacar ??” tanya laki-laki itu, Sivia dan Gabriel hanya mendelik sebal.

“ Kenapa kau bertanya hal yang seperti itu ?? Tidak adakah pertanyaan lain yang bisa kau lontarkan ??” Agak kesal Sivia berkata itu, laki-laki itu sendiri hanya menggeleng mantap.

“ Huhh, Chriss kau bukan siapa-siapa aku. Kau tak berhak bertanya seperti itu.” Sivia kembali pada nada dinginnya. Chris sendiri hanya tertawa kecil.

“ Aku kan teman sekelasmu, lagian aku suka padamu sejak pandangan pertama.” Chris segera duduk di sebelah Sivia. Dengan cepat Sivia berpindah posisi duduk. Sekarang Gabriel berada di tengah Sivia dan Chris.

“ Love at the first sight.” ucap Chris lagi. Sivia mendelik tajam, Gabriel mulai gelisah.

“ Maaf, aku gak percaya cinta pada pandangan pertama. Cinta itu ada karena terbiasa.” Tutur Sivia secara jelas, Chris hanya tersenyum kecil, Gabriel menarik nafas lega.

“ Itu emang benar, aku cuma ingin Alvin kehilangan cintanya seperti aku kehilangan cintaku.” Chris hanya dapat mengatakan itu dalam hatinya. Ia terus menatap Sivia.

“ Benar-benar perempuan yang bertolak belakang dengan Keke.” ucap Chris lirih, Sivia diam ia tak mendengar gumaman Chris tapi Gabriel mendelik tajam. Ia sadar ada sebuah niat di ucapan Chris tadi.

“ Siv, ayo pergi saja.” Dengan cepat Gabriel menarik tangan Sivia. Sivia hanya pasrah mengikuti Gabriel.

                Chris masih terpaku di tempatnya saat ia melihat Gabriel dan Sivia sudah berjalan cukup jauh.

“ Siv, kamu tadi bilang. Cinta itu ada karena terbiasa, apakah mungkin kau akan cinta padaku ??” tanya Gabriel jujur, Sivia menghentikan langkahnya dan menatap Gabriel tajam.

“ Sahabat dan cinta itu berbeda. Aku sayang padamu tapi tak lebih dari seorang sahabat. Dan aku tak ingin mengecewakanmu karena mungkin waktuku sudah tak lama lagi.” Sivia menatap langit, menatap jauh kesana. Gabriel masih membisu, tapi perlahan tangannya bergerak dan mengelus kepala Sivia.

“ Aku akan memberikan seluruh waktuku untukmu.” Tuturnya pelan, Sivia berbalik menatap Gabriel.

“ Jangan mulai lagi Gab.” Lirih Sivia.

><><><><><><><><>< 

“ Kka, apakah dengan kedatangan Chris peluangku mendapatkan hati Alvin semakin sempit ??” Kini Cakka dan Shilla tengah asyik menikmati jalanan yang masih sepi. Memang sengaja hari ini mereka berangkat sekolah bersama.

“ Jangan pesimis tapi kau juga harus tau. Cinta itu tak harus memiliki.” Cakka menatap gadis yang ia cintai sekilas, kemudian ia kembali fokus ke jalanan.

“ Sama seperti cintaku padamu..” lanjutnya dalam hati.

“ Aku mencintaimu Shill bahkan cintaku lebih dari cintamu pada Alvin.” Cakka tetap terdiam dalam pikirannya, kenapa begitu sulit untuk mengungkapkan isi hatinya.

“ Aku takut, Ia kembali pada bayang-bayang Keke. Aku takut ia kembali mencintai sosok itu lagi.” Tutur Shilla pelan, entah kenapa ia merasa sangat rapuh ketika mengingat kenangan-kenangan pahitnya dulu.

“ Tak mungkin, Keke sekarang bukanlah sesuatu yang nyata.”

“ Yang harus kau waspadai sekarang adalah Putri Es, Sivia Imelda Puri.” Cakka tetap berkonsentrasi pada jalanan, Shilla sendiri hanya tersenyum pahit. Kenapa ia selalu mendapat seorang saingan dalam masalah cinta.

“ Tapi mungkin Alvin belum sadar akan perasaannya pada Sivia.” ucap Cakka lagi, sebenarnya ia merasa sangat berat mengatakan itu. Mungkin karena rasa sayang yang terlalu besar sampai ia mau mengorbankan perasaannya sendiri.

“ Ya, dia itu memang tak peka.” Balas Shilla, matanya kembali menatap ke depan.

><><><><><><><><><><>< 

“ Alvin aku akan menghancurkan cintamu, yang bahkan belum kau sadari sampai saat ini.” Chris hanya menatap foto Alvin dan dirinya dalam ponselnya. Foto mereka berdua itu terlihat begitu dekat dan akrab.

><><><><><><><><><><>< 

“ Tuan Johan Karisma, kami sudah banyak tau tentang gadis itu.”

“ Oke jelaskan padaku tentang dia.”

…………………………………………………

“ Aku mengerti, kalau begitu jangan ganggu hubungan mereka. Aku mengerti kalau dia gadis baik-baik.”

><><><><><><><><><><>< 

“ Hai Putri Es..” Alvin memulai ejekannya lagi. Sivia sendiri tidak memberi respon apa-apa.

“ Senyummu itu manis banget lho.” Goda Alvin lagi, kali ini Sivia tidak tinggal diam. Ia menggebrak keras mejanya.

“ Dasar cowok rese..” Sivia mulai berjalan meninggalkan Alvin tapi tubuh tegap Alvin benar-benar menghalanginya.

“ Aku akan sebarkan foto ini jika kau tak mau mengikuti semua perintahku.” Alvin memperlihatkan foto Sivia yang sedang tersenyum manis. Sivia sendiri tersentak kaget, ia tak menyangka kalau Alvin telah memotretnya diam-diam. Tangan Sivia kini menggenggam kuat.

“ Silahkan saja, Tuan Alvin Adhika Karisma.”

“ Ini sebuah tantangan dari saya !!” Lanjut Sivia sambil tersenyum sinis. Sementara Alvin tersenyum licik.

“ Ini maumu…”

                Dengan cepat Alvin menekan tombol send. Dan kini mungkin semua murid Higashi yang punya ponsel sudah dapat melihat foto itu.

“ You are very stupid !!” Sivia menunjuk tepat di dada Alvin. Tak lama ia berjalan meninggalkan Alvin yang tersenyum licik.

“ And You are the beautiful girl.” teriaknya keras, Sivia melengos sebal. Kini seluruh ruang kelas itu kata cieee.

                Zahra dan Gabriel yang berada di dalam kelas hanya melongo. Shilla sendiri terpaku melihat adegan itu di ambang pintu kelas, Cakka menghela nafas berat sebelah tangannya menggenggam tangan Shilla erat, mencoba menguatkan walau hatinya sendiri terluka. Terlihat dari jendela Chris yang sedang tersenyum licik.

“ It’s show time baby.”

************


_mei_

Sabtu, 10 September 2011

Lihat Lebih Dekat Part 8


Lihat Lebih Dekat Part 8
~ Dia Kembali !!! Musuh Atau Sahabat ??? ~

                Beberapa hari terakhir ini Alvin benar-benar merasa ada sesuatu yang hilang dari harinya. Mungkin karena gadis yang biasa menemaninya bertengkar tidak masuk sekolah dengan tenggang waktu yang cukup lama, 1 minggu. Rasa penasaran tentang bagaimana keadaan gadis itu pun sebenarnya telah memenuhi pikirannya. Tapi rasa gengsinya terlalu besar walau sekedar untuk bertanya pada sahabat-sahabat gadis itu.

                Tapi pagi ini mungkin akan berbeda, bahkan sangat berbeda. Ketika ia masuk ke dalam kelas dilihatnya gadis itu sudah duduk manis di bangkunya bersama para sahabatnya. Ia sedang membaca buku sementara kedua sahabatnya asyik berceloteh ringan. Alvin pun mengembangkan sedikit senyum tipisnya. Entah kenapa ia begitu senang melihat gadis itu duduk dibangkunya lagi.

                Sementara para sahabat Alvin hanya memasang tampang bingung. Bukankah beberapa detik yang lalu laki-laki ini masih asyik melamun. Tapi sekarang ia tersenyum !! Mereka mengikuti arah pandangan Alvin. Dan yang mereka dapatkan adalah Sivia, Sang Putri Es yang sudah beberapa hari ini tidak masuk sekolah.

                Tanpa sadar Shilla menarik lengan Alvin. Ia cemburu. Alvin memandangnya lekat dan tersenyum seraya mengacak rambut Shilla. Shilla pun tersenyum mendapati perlakuan manis dari Alvin. Sedang disana Cakka hanya tersenyum miris. Di satu sisi ia cemburu tapi disisi lain ia bahagia karena Shilla juga  bahagia.

“ Alvin..” panggil Sivia ketika melihat Alvin melewatinya. Alvin pun langsung menatap Sivia.

“ Ada apa ?” tanya Alvin sambil menatap setiap lekuk wajah Sivia, wajah yang entah sejak kapan telah mengisi relung hatinya.

“ Jangan menatap aku seperti itu. Aku cuma mau bilang terima kasih dan jangan kasih tau siapa-siapa soal kejadian di UKS.” Sivia kali ini bicara tanpa ada nada dingin, mungkin menghilangkan nada dingin dari ucapannya adalah bentuk terima kasih darinya.

“ Hahhh..”

“ Kau pasti mengerti.” Sivia segera menutup buku di tangannya lalu berjalan keluar kelas.

“ Sivia, mau kemana kamu ?” Ify berteriak cukup keras ketika Sivia sudah sampai di depan pintu kelas.

“ Toilet..” jawabnya singkat dan pergi berlalu begitu saja.

><><><><><><><><>< 

“ BUKKK….”

“ Aduhhhh..” rintih Sivia sambil memegangi kakinya yang terasa sakit.

“ Ehh.., sorry. Kamu gak papa kan ?” tanya orang yang menabraknya. Sivia mendongakkan wjahnya menatap wajah orang yang menabraknya. Orang itu sama sekali tidak jatuh bahkan ia tidak bergerak dari tempatnya sedikit pun.

“ Ga papa kok.” balas Sivia dengan nada dinginnya. Ia segera berdiri dari jatuhnya. Dan mulai berjalan meninggalkan orang itu.

“ Ehh., maaf. Ruang kepsek ada dimana ?” tanya orang itu lagi. Sivia pun menghentikan jalannya dan menunjuk sebuah ruangan di ujung koridor. Orang itu hanya membungkuk, tanda terima kasih. Sivia pun melanjutkan jalannya untuk kembali ke kelas.

“ Alvin aku datang untukmu..” orang tadi hanya tersenyum sinis sambil mengatakan itu.

><><><><><><><><>< 

                Bel sudah berbunyi, semua murid sudah bersiap di bangkunya sambil menunggu sang guru datang. Akhirnya guru yang ditunggu pun datang tapi dia tidak sendiri, dia bersama seorang anak laki-laki tampan.

“ Bukankah itu laki-laki yang menabrakku tadi.” gumam Sivia sambil memandang seorang laki-laki yang sedang berdiri bersama dengan Guru Bahasa Indonesianya.

“ Hahh., kamu bilang apa vi ?” tanya Ify yang tanpa sengaja mendengar gumaman Sivia.

“ Bukan apa-apa kok.” balas Sivia dengan nada yang tenang, ia kembali memfokuskan pikirannya pada bukul tebal yang ia baca sebelumnya.

                Sementara itu di pojok belakang kelas seorang laki-laki benar-benar menahan emosinya. Kedua tangannya sudah terkepal kuat, bahkan wajahnya yang semula putih telah bersemu merah akibat menahan marah. Sementara ketiga sahabatnya hanya memandang cemas laki-laki itu, mereka takut hal itu terjadi lagi.

“ Ayo perkenalakan nama kamu.” Perintah sang guru Bahasa Indonesia.

“ Baik, nama saya Christoffer, tapi kalian boleh memanggil saya Chris.” Laki-laki itu mengembangkan senyumnya. Senyum yang cukup bisa membuat beberapa murid perempuan terlena. Kemudian tatapan Chris jatuh pada seorang laki-laki yang berada dipojok kelas.

“ Halo Alvin Adhika Karisma. Kangen nih !!” katanya dengan senyum sinis. Sementara Alvin sudah benar-benar tak bisa menahan emosinya.

“ BRAAKKKKK…” pertemuan antara tangan Alvin dan meja benar-benar terdengar keras dan nyaring.

“ Hei, cepat kamu keluar dari sekolahku !!” bentak Alvin kasar. Chris hanya bisa tersenyum miring sembari terkekeh geli.

“ Jangan mentang-mentang kamu anak dari pemilik sekolah kamu bisa mengusir murid lain seenaknya. Lagian sekolah ini punya ayahmu bukan punyamu.” Beberapa murid terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara Alvin semakin geram dengan kelakuan Chris, murid baru yang entah ada hubungan apa dengan Alvin.

“ Kenapa kalian mengangguk. Apa kalian mau dikeluarkan juga !!” Bentakan Alvin semakin kasar. Cakka, Shilla, dan Zahra sudah mencoba menenangkan Alvin yang semakin naik pitam. Semua anak langsung terdiam ditempatnya. Mereka takut, lebih tepatnya tak mau cari masalah.

“ Apa kau lupa dengan sahabat lamamu, Alvin.” Chris berkata dengan nada yang sangat menusuk. Alvin segera berjalan cepat ke arah Chris dengan seluruh emosinya.

“ Siapa yang sahabatmu., HAHH… !!” Alvin berkata tepat di muka Chris sembari menarik kerah baju Chris.

“ Aku !! Apa kau amnesia Alvin ?”

“ Bahkan aku ini saudaramu..”

“ Zahra, Cakka, Shilla apa kalian juga telah melupakan sahabat kalian ini.” Chris memandang bergantian ke empat ‘sahabat lamanya’ itu.

“ Cihh..” umpat Cakka, tangannya pun sudah terkepal dengan kuat. Sementara Shilla dan Zahra hanya terpaku ditempatnya, mereka seakan tak percaya menatap laki-laki itu sekarang berada di depan kelas, di hadapan mereka.

                Alvin dan Chris sudah saling menatap tajam. Aura pertengkaran pun sangat terasa diantara mereka. Dan saat Alvin akan melayangkan pukulannya.

“ BUKK…”

“ BUKK..”

                Dua buku tebal melayang tepat di muka Alvin dan Chris. Tatapan mata kedua laki-laki itu kini beralih tepat ke arah gadis yang baru saja ‘menghadiahi’ mereka sebuah buku.

“ Kalian itu kalau mau bertengkar, di luar sana !! Aku kesini mau belajar bukan mendengar atau melihat kalian bertengkar.” Sivia berkata seperti itu dengan nada sinis dan dinginnya. Ia pun kembali duduk. Sedang Alvin sedari tadi terus menatap Sivia sampai akhirnya ia memutuskan untuk duduk kembali.

                Chris hanya menatap Alvin bingung, tumben sekali seorang Alvin menuruti perintah seseorang, bahkan orang itu bukan sahabatnya. Tak lama Chris tersenyum penuh arti.

“ jatuh cinta ternyata..” gumam Chris lirih, ia kemudian menatap Sivia penuh arti.

“ Chris, kamu duduk disebelah Gabriel.” perintah Guru Bahasa Indonesia mereka. Chris hanya menurut dan berjalan ke tempat duduk yang ditunjuk sang guru.

><><><><><><><><><>< 

“ Gab., ayo ke kantin.” ajak Ify sambil menarik tangan Gabriel. Sivia hanya mengikuti dibelakang.

“ Ehh..” perkataan Chris terpotong karena Gabriel sudah menghilang duluan. Chris hanya bergumam sebal sambil berjalan menuju kantin.

><><><><><><><><><>< 

“ Siallll…” Alvin memukul batang pohon di depannya. Tanpa ia sadari darah segar mulai mengalir di tangannya.

“ Sudahlah, Vin. Tenanglah, kita takkan bisa mengadapinya dengan emosi.” Shilla segera menarik tangan Alvin. Menyiram lukanya dengan air mineral dan membalutnya dengan sapu tangan miliknya.

“ Sial., aku gak nyangka dia balik lagi.” Alvin menutup wajahnya dengan telapak tangannya.

“ Tenang vin..” Zahra dan Shilla mengelus punggung Alvin. Sedang Cakka sedari istirahat tadi sudah tak terlihat.

“ Sialll.. banget !! Chrissss….” teriak Alvin keras. Zahra dan Shilla pun memahami apa yang terjadi dengan Alvin.

><><><><><><><><>< 

“ Vi, makan dulu.” Rio menyodorkan nasi gorengnya pada Sivia. Sementara Sivia menggeleng dan menyodorkan kembali nasi goreng dari Rio.

“ Gak kak, perut Via lagi gak enak banget buat dikasih makan.”

“ Nah, maka dari itu cepat makan.” suruh Rio yang sudah mulai gemas dengan tingkah Sivia.

“ Gak kak Rio..” tolak Sivia lagi.

“ Ya udah kalau kamu gak mau buat aku aja ya vi..” Ify bersiap mengambil nasi goreng milik Rio kalau saja tangan Gabriel tak menjitak kepalanya.

“ Aduhhhh.., apasih Gabb..” protes Ify sambil manyun sedang Sivia dan Rio hanya diam menahan tawanya.

“ Itu kan makanan buat Via., bukan buat kamu dodol.” ejek Gabriel sambil menjulurkan lidahnya.

“ Ihhh.. toh Vianya gak mau.” kata Ify, Sivia hanya mengangguk dan menyodorkan nasi goreng Rio pada Ify. Ify hanya tersenyum senang dan langsung melahapnya, sementara Rio tersenyum menatap gadis yang ia sayangi. Gabriel hanya geleng-geleng kepala.

“ Ehh.. fy. Itu tadi bekasku lho, jadi kita udah ciuman tidak langsung dong.” goda Rio sambil mengedipkan matanya. Ify terpaku sejenak.

1 detik..

2 detik..

3 detik..

“ BRUSSHHHH…”

“ Ihhh., Ify jorok banget sihh…” protes Sivia dan Gabriel yang terkena semburan nasi goreng dari Ify. Segera Sivia dan Gabriel mengambil tisu di depan mereka dan membersihkan muka mereka dari butir-butir nasi goreng. Ify sendiri hanya cengengesan lalu ia kembali menatap Rio dengan tatapan serius.

“ Kak Rio, kamu gak serius kan ?” tanya Ify takut bercampur malu.

“ Enggak Ify cantik, aku cuma bercanda doang kok.” kata Rio sambil mengelus kepala Ify. Semburat merah pun mulai memenuhi wajah cantik Ify.

“ Hahh.., syukur deh. Kalo gitu, mari makan kembali !!” Ify kembali melanjutkan acara makannya, sedang Sivia, Rio, dan Gabriel hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.

“ Haiii…” sapa seorang laki-laki. Sivia, Rio, dan Gabriel pun mendongakkan kepala mereka sedang Ify masih asyik dengan nasi gorengnya.

“ Kamu ngapain kesini ?” tanya Gabriel sambil tersenyum.

“ Mau gabung, habis gak ada tempat lagi. Boleh ??” pinta laki-laki itu, terlihat ia membawa satu mangkuk bakso dan jus jeruk.

“ Boleh kok..” balas Gabriel ramah, tanpa aba-aba laki-laki itu langsung duduk disamping Sivia.

“ Terima kasih !! Oh ya nama kalian siapa aja ??” tanya laki-laki itu sambil memakan baksonya.

“ Aku Rio kakak dari Sivia.” kata Rio sambil mengelus kepala Sivia yang duduk didepannya. Sivia hanya menatap tajam ke arah Rio. Seolah mengatakan – jangan elus-elus deh -.

“ Ify..” Ify sejenak menghentikan aktivitas makannya untuk sekedar menyebutkan namanya.

“ Sivia..”

“ Kamu cantik yaa..” Chris mulai melancarkan aksi gombalnya. Gabriel sedikit mendelik tak suka.

“ Biasa aja tuh. Udah makan aja sana.” Sivia segera berdiri dan langsung berpindah duduk di samping Rio.

“ Maaf, dia gak terlalu suka dipuji.” Rio pun menjelaskan pada Chris. Chris hanya manggut-manggut.

“ Maaf ya via.” Ucap Chris, tapi Sivia sama sekali tak memberinya respon atas permintaan maaf dari Chris.

“ Chrisss…..” Teriakan itu memenuhi seluruh kantin.

“ Apasih, aku belum budek tau.” balas Chris ketika melihat siapa yang memanggil namanya.

“ Baru tadi ketemu di kelas, masih kangen sama aku..” balas Chris dengan nada yang benar-benar sinis.

“ Kamu cepet pergi dari sekolah ini. Kamu harus tau kalau kamu itu bencana bagi Alvin.” ungkap Cakka jujur.

“ Kehadiranmu itu sama sekali gak berarti…”

“ Bodo., Emang penting gitu !! Yang penting itu, aku seneng.”

“ Kamu itu benar-benar RESEE…” Cakka menarik kerah baju Chris, sedang Chris masih menunjukkan ekspresi datarnya.

“ Ahhh.., kalian mengganggu acara makan orang aja sih.” Sivia berkata dengan nada dinginnya lalu segera berlalu meninggalkan meja itu.

“ Jadi gak napsu..” Ify juga ikut meninggalkan meja kantin dan menyusul Sivia.

                Chris dan Cakka masih terbengong dan menghentikan aksi berantemnya. Tak lama sebuah tepukan di bahu mereka masing-masing, menyadarkan mereka.

“ Lain kali kalau mau bertengkar lihat kondisi dulu yaa..” Rio dan Gabriel berkata bersamaan lalu berjalan meninggalkan kedua laki-laki itu.


************

*** Bagi yang udah baca terima kasih ***
*** Harap tinggalkan jejak buat yang nulis yaa ***



_mei_

Minggu, 04 September 2011

Lihat Lebih Dekat Part 7


Lihat Lebih Dekat Part 7
~ Rasa Itu Semakin Jelas ~


                Alvin kini hanya melamun sambil berbaring di tempat tidurnya. Wajah lembut Gabriel yang sedang menyuapi dan mengelus kepala Sivia masih menari-nari jelas dalam ingatannya. Tadi sore selama adegan-adegan itu bergulir entah kenapa hati Alvin begitu terusik. Ia merasa sangat tak nyaman dan tak suka melihat adegan-adegan yang diperankan oleh Gabriel dan Sivia. Tapi dia siapa ?? Dia bukan siapa-siapanya Alvin. Lelah memkirkan apa yang sempat dialami hatinya tadi, ia pun tertidur.

><><><><><><><><><><>< 

                Mungkin hari ini adalah yang cukup sial bagi Sivia. Seharusnya ia tadi tak usah memaksa masuk sekolah jika ujung-ujungnya hanya upacara dadakan yang jadi agenda hari ini. Hari ini pemilik SMA Swasta Higashi, Bapak Johan Karisma datang berkunjung. Sekolah ingin memberikan penyambutan yang cukup meriah pada sang pemilik sekolah yang sudah lama tak berkunjung kemari. Kondisi Sivia memang belum pulih sepenuhnya tapi aturan memaksanya mengikuti upacara kali ini. Dasar aturan bodoh !!

                Yang lebih buruknya lagi, upacara kali ini ia sama sekali tidak ditemani Gabriel ataupun Ify. Gabriel bertugas sebagai pemimpin upacara, sedang Ify menjadi pembawa acara dalam upacara penyambutan kali ini. Yang ada dipikiran Sivia adalah kenapa upacara penyambutan ini harus dengan berpanas-panas jika mereka punya aula yang begitu besar, tertutup, dan yang pasti TIDAK PANAS.

                Upacara penyambutan baru memasuki babak awal tapi keringat dingin tak hentinya mengucur dari tubuh Sivia. Tubuhnya sudah tak karuan, kepalanya terasa sangat berat, dan dadanya mulai sesak lagi. Sedang di lain tempat Gabriel, Ify, Rio sedari tadi merasa tidak tenang, takut kalau penyakit Sivia akan kambuh lagi.

                Pipi Sivia yang putih pun kini berwarna merah karena sengatan panas matahari. Sebenarnya semua anak-anak kelas Sivia sudah memperhatikan Sivia sejak tadi. Bahkan Shilla yang berdiri di samping Sivia sudah mengajak Sivia mundur ke belakang dan istirahat. Tapi Sivia tetap diam, sebenarnya Sivia juga mau diajak ke belakang, tapi sayang, kakinya terlalu berat untuk di langkahkan, nafasnya pun semakin tak teratur.

                Mereka mulai cemas. Walaupun Sivia itu begitu dingin tapi mereka semua kan juga punya hati, mereka masih peduli. Bagaimana mereka tak kasihan jika melihat Sivia dengan wajahnya yang tadi sempat memerah karena panas berubah menjadi pucat pasi. Nafas Sivia sendiri sudah semakin terasa sesak dan tak teratur. Pertahanannya jebol, dan tubuhnya terhuyung ke depan lalu ke belakang.

                Alvin yang memang berdiri di belakang Sivia segera menangkap tubuh Sivia agar tak jatuh ke tanah. Wajah Alvin benar-benar cemas ketika melihat Sivia sudah tak sadarkan diri di pelukannya. Dengan cepat ia menggendong Sivia dan membawanya ke UKS.

                Dari arah lain, terlihat Sang pemilik sekolah langsung memanggil seorang bodyguardnya. Ia tak peduli dengan pandangan bingung semua murid-murid disana.

“ Cari tau tentang gadis itu.” Perintahnya, matanya tak lepas menatap seorang gadis yang tengah berada dalam gendongan putra pertamanya.

><><><><><><><><>< 

                Entah kenapa hati Rio semakin cemas tak karuan ketika dari jauh ia melihat kasak-kusuk terjadi di kelas sang adik. Memang tak terlalu jelas apa yang sedang terjadi tapi tak dapat dipungkiri perasaannya sungguh tidak enak.

><><><><><><><><>< 

                Pelan Alvin membaringkan tubuh Sivia di salah satu ranjang UKS. Sial baginya karena sang guru piket sedang ijin tak masuk. Segera dilepasnya sepatu Sivia. Sekarang Alvin sedang kelabakan mencari minyak kayu putih untuk menghangatkan tangan dan kaki Sivia yang ketika ia pegang tadi, begitu dingin. Sambil mencari ditengoknya wajah Sivia yang makin pucat pasi.

“ UHHUKK.,UHHUUKKK…” suara itu benar-benar menghentikan aktivitas Alvin. Ia malah berjalan mendekat ke arah ranjang dimana Sivia sudah mulai sadar.

                Suara nafas Sivia benar-benar membuatnya panik. Alvin yang mendengarnya dengan cepat tau bahwa Sivia sedang kesakitan karena bernafas. Asma ?? Itu yang muncul dipikiran Alvin pertama kali. Alvin mulai berjalan kesana-kemari tanpa tentu untuk mencari inhaler. Tapi genggaman tangan Sivia menghentikan pencariannya.

“ Air…” dengan nafas yang tersengal Sivia mengatakan itu. Sedang Alvin dengan cekatan menyambar dan membuka tutup botol air mineral yang disediakan di meja UKS. Lalu Alvin segera memberikannya minum itu pada Sivia.

                Masih dengan sisa tenaganya Sivia merogoh saku roknya. Dikeluarkannya botol putih yang berisi butir-butir obat. Segara Sivia menelan beberapa butir obat sembari meminum airnya. Desah nafasnya sudah mulai menormal lagi. Sivia kini memejamkan matanya erat, tapi ia tidak tidur. Keadaan sama seperti saat Alvin menjenguk Sivia kemarin, bedanya kali ini tanpa elusan Gabriel di kepala Sivia.

“ Kau sudah tak apa ? Sudah enakan ?” entah dorongan apa sampai membuat Alvin menggenggam tangan Sivia dan bertanya dengan nada yang benar-benar lembut.

“ Iya, terima kasih telah menolongku.” Tampaknya Sivia sendiri belum sadar kalau tangannya telah digenggam oleh Alvin. Pikirannya masih fokus untuk menghilangkan rasa nyeri yang cukup lumayan di jantungnya. Rasa sakit itu melebihi rasa sakit yang kemarin. Dan entah kenapa rasa sakit itu tak kunjung hilang.

“ Wajahmu masih begitu pucat, kau benar sudah tak apa.” Perlahan tangan Alvin menyentuh wajah Sivia. Sivia hanya diam tak memberikan jawaban atau respon. Rasa sakit semakin kuat mendera jantungnya. Tangannya yang digenggam Alvin tanpa sadar mencengkram erat tangan Alvin. Alvin tersentak kaget, pandangannya langsung ia kembalikan ke wajah Sivia.

                Mata Sivia masih memejam erat tapi terlihat jelas air mata yang mulai meleleh keluar. Alvin bingung dengan apa yang harus lakukan. Ia sama sekali tak tau dengan apa yang sedang terjadi pada Sivia. Tangannya mulai mengelus kepala Sivia, sama persis dengan apa yang Gabriel lakukan kemarin. Berharap itu manjur untuk menenangkan gadis ini.

“ Kalau sakit cengkram saja tanganku.” Alvin berbisik pelan tepat di telinga Sivia.

“ Sakit..” lirih Sivia, air matanya terus turun tanpa henti. Sementara Alvin, ia tak tau perasaan apa yang mendorongnya untuk menghapus air mata Sivia. Pelan disekanya air mata gadis itu.

“ Jangan nangis yaa, apa yang sakit ?”

“ DEG..” Alvin sadar apa yang barusan ia katakan. Hebat seorang Sivia Imelda Puri bisa membuat Alvin Adhika Karisma menaruh perhatian yang cukup besar bahkan sebuah perhatian yang tak pernah diberikan pada seorang perempuan pun kecuali adik dan mamanya.

“ BRAAKKK..” pintu UKS terbuka dengan kasar sampai membentur dinding, disana terlihat 3 orang yang terburu-buru masuk ke dalam UKS. Alvin melihat siapa yang baru saja masuk , kemudian menghentikan aktivitas mengelus kepala Sivia.

“ Siviaaa…” pekik mereka semua bersamaan, bagaimana tidak terkejut. Mereka melihat Sivia dengan wajah pucatnya apalagi ditambah air matanya yang turun.

                Rio segera berjalan mendekat ke arah ranjang Sivia. Alvin sedikit menyingkir untuk memberikan ruang bagi Rio. Alvin hanya memperhatikan saja apa yang akan dilakukan Rio.

“ Sivia, yang sakit apa, dimana ? Ayo bilang sama kakak.” Suara rio terdengar sedikit bergetar, ia benar-benar cemas dengan kondisi Sivia sekarang.

“ Kak rio, sesak banget kak dan jantung Sivia sakit banget kak.” Sivia membuka matanya perlahan, tangannya ia letakkan di dadanya.

“ Sabar ya sayang, ayo kita ke rumah sakit aja.” Rio mengelus kepala Sivia dan sedikit membujuk sang adik.

Sementara itu beberapa orang terlihat masuk ke dalam UKS. Ify, Gabriel, dan Alvin memandang orang-orang itu sejenak, lalu kembali menfokuskan pandangan mereka pada Sivia.

“ Ayo, vi kita ke rumah sakit. Kakak gak mau lihat kamu sakit.” Jemari rio menghapus air mata Sivia yang sedari tadi telah turun. Zahra, Cakka, dan Shilla hanya tertegun, mereka tak tau apa yang tengah terjadi. Yang mereka lihat adalah Sivia yang sedang menangis. Sementara Sivia hanya menggeleng kuat, menolak ajakan Rio.

“ Via takut…” lirihnya, air mata semakin membanjiri pipinya.

                Tiba-tiba Rio mengangkat  tubuh Sivia. Ia tak peduli dengan penolakan yang Sivia berikan tadi. Sekarang yang ada dalam pikirannya hanyalah agar keadaan Sivia bisa membaik. Tapi tepat saat Rio mengangkat tubuh Sivia, tiba-tiba gadis itu memuntahkan semua isi perutnya. Muntahan Sivia kini tersebar di lantai dan seragam yang Rio kenakan. Zahra segera menutup mata dan hidungnya, iuuhhh gak banget, menjijikkan. Sedang yang lain malah bertambah khawatir melihat Sivia yang seperti itu.

                Rio meletakkan tubuh Sivia kembali ke ranjang. Ify dan Gabriel mulai mendekat ke arah Sivia, sedang Alvin menjauh. Ify mengeluarkan sapu tangannya dan menyeka sisa muntahan dari mulut Sivia. Rio pun keluar dan menuju ke kamar mandi, ia ingin membersihkan bajunya sejenak dan menyiapkan mobil untuk membawa adiknya pergi dari sana.

“ Sivia tadi pagi kamu gak makan yaa, ngaku jangan bohong !!” Gabriel berkata dengan nada yang cukup tegas. Sivia hanya mengangguk pasrah, tubuhnya semakin terasa tidak enak. Gabriel dan Ify hanya mendecak kesal.

“ Udah tau sakit., masih aja ngeyel !!” Ify berkata dengan cukup tegas dan berwibawa.

“ Sakit...” Sivia mulai merintih lagi, dengan cepat Gabriel menggendong tubuh Sivia dan berjalan meninggalkan UKS. Sedang Ify hanya mengekor di belakangnya.

                Sekarang Gabriel dan Alvin saling berhadapan. Gabriel hanya tersenyum simpul, sedang Alvin bergidik ngeri karena baru kali ini ia dihadiahkan senyuman dari seorang cowok. Ia masih normal. Sedang seorang cewek disana merasa melayang karena senyuman manis yang barusan terkembang di bibir Gabriel.

“ Alvin, makasih udah nolong Sivia.” Ify berkata seperti itu sambil tersenyum singkat namun begitu mempesona. Gabriel juga mengangguk tanda setuju dengan ucapan Ify. Tak mau berlama-lama segera Ify menarik Gabriel dari sana, ia tau mungkin rio sudah menunggu mereka di tempat parkir.

                Sementara disana Cakka, Shilla, dan Zahra memandang Alvin dengan tatapan bingung. Yang mereka lihat adalah pandangan Alvin yang tidak mau lepas dari Gabriel yang menggendong Sivia. Entah kenapa pandangan tajam Alvin itu begitu menyayat hati Shilla.

><><><><><><><><><>< 

“ Beneran tadi si Ify senyum..” Kini Cakka, Alvin, Shilla, dan Zahra tengah berada di cafĂ© favorit mereka. Cakka sendiri masih memikirkan senyum yang tadi sempat di pertontonkan Ify. Senyum yang baru pertama kali ia lihat dari seorang Alyssa Saufika Maharani.

“ Manis banget senyumnya..” gumam Cakka lagi.

“ Makasih kka, aku tau kalau gak bakal ada cowok yang gak suka sama aku. Apalagi dengan senyumku yang mempesona.” Zahra berkata seperti itu dengan pedenya. Yah walau begitu memang tak dapat dipungkiri bahwa Zahra memiliki wajah yang cukup menawan.

“ Narsiisss….”

“ Mereka berdua itu orang aneh kali. Kalau diluar bisa senyum tapi kalau di sekolah dinginnya gak nahan sampai minta dicium.” Alvin berkata seperti itu dengan santainya, sesekali ia meminum jus jeruk yang telah ia pesan.

“ Berdua ???” Cakka, Shilla, dan Zahra tampak bingung, bukankah mereka tadi hanya membicarakan Ify.

“ Iya, si putri es sifatnya sama persis kayak gitu.” Kata Alvin sembari mengambil sesuatu dari tasnya. Zahra, Cakka, dan Shilla mengerutkan kening mereka.

“ Lihat ini..” Alvin mengambil kameranya dan mempertontonkan beberapa hasil jepretannya.

“ Cantik banget..” Pujian tulus meluncur begitu saja dari mulut Cakka, Shilla, dan Zahra.

“ Vin, ini beneran si sivia sang putri es ? Beda banget yaa ?” Zahra hanya dapat menggaruk tengkuknya, sedang Alvin hanya diam. Alvin sendiri masih belum percaya kalau yang ia potret itu adalah Sivia.

                Foto itu menunjukkan wajah seorang gadis yang sedang asyik melukis dengan adiknya tersayang.

“ Ehh., ngomong-ngomong si sivia itu sakit apa sih ?” Zahra sedikit menyenggol lengan Alvin.

“ yee., mana ku tau.” Cakka dan Shilla hanya terkekeh melihat ekspresi Alvin yang cukup lucu dalam menjawab pertanyaan Zahra.

“ idihh., tapi enak yaa jadi sivia..”

“ enak kenapa ??” Shilla memotong ucapan Zahra.

“ enak gitu digendong Gabriel, maauuu doong….” Zahra mulai menunjukkan gaya manjanya.

“ Hahahaha…” mereka malah tertawa bersama.

“ Ngarep…” Cakka, Shilla, dan Zahra sambil menjulurkan lidahnya.

><><><><><><><><><>< 

“ Eh..,ngomong-ngomong kok Alvin motret senyumnya Sivia yaa, kayaknya tadi juga masih ada foto Sivia.” Zahra mulai membuka pembicaraan. Sekarang Zahra, Cakka, dan Shilla sedang ada dalam satu mobil.

“ DEG..” hati Shilla begitu sakit mendengarnya. Benar juga yang diucapkan Zahra. Apa memang Alvin jatuh cinta pada Sivia.

“ Ya..Tuhan jangan sampai..” Shilla membatin pedih karena beberapa fakta yang ia dapat.

“ Mungkin Alvin cuma mau motret Sivia yang lagi senyum aja. Kan memang senyum Sivia manis banget. Jangan pikir yang macem-macem deh.” Cakka berkata dengan bijak, sebenarnya maksud perkataan Cakka tadi agar tak membuat Shilla cemas.

“ Yahh mungkin..” balas Zahra sekenanya. Sementara Cakka masih menatap Shilla yang gelisah ditempatnya.

><><><><><><><><><>< 

                Alvin kini menatap bintang-bintang yang bertaburan indah diatas langit bersama Acha. Mereka berdua duduk berdampingan dan nampak sangat akur. Dalam keheningan yang tercipta, pikiran Alvin kembali melayang ke beberapa kejadian di UKS.

                Perutnya kini seperti dipenuhi kupu-kupu yang tengah berterbangan bahagia. Setiap ia mengingat bagaimana ia menggenggam jemari halus Sivia, bagaimana ia mengusap lembut kepala Sivia, dan bagaimana ia menghapus air mata yang mengalir dari mata Sivia. Dan yang terpenting adalah bagaimana Sivia bisa membuat Alvin dan semua perasaannya melayang hanya gara-gara memikirkan hal itu.

                Ia merasa laki-laki yang ada di UKS tadi itu bukan dirinya, laki-laki itu seperti sisi lain dari dirinya. Sebab dirinya tak pernah berlaku sebaik itu pada perempuan selain pada adik dan mamanya. Tanpa disadari rona merah menjalar di pipinya dan senyum terukir di bibirnya saat ia membayangkan rentetan peristiwa di UKS tadi.

“ Kak Alvin udah gila yaa ??” Acha bertanya dengan nada menggoda. Bagaimana tidak dikatai gila, jika seseorang tiba-tiba tersenyum dan lagi wajahnya memerah.

“ Enak aja dasar…” Kata Alvin sambil merangkul Acha dari samping.

“ Ihh.. kakak bau ihh..” ejek Acha. Alvin malah mendekatkan ketiaknya pada Acha dan…

“ Bukkk….” Alvin terjatuh karena di dorong Acha.

“ Siapa suruh macam-macam sama Acha..” Acha hanya menjulurkan lidahnya.

“ Ehh.., Cha, kakak mau nanya nih.”

“ Nanya apaan kak ??” Acha mulai bersemangat menunggu pertanyaan dari kakaknya.

“ Sivia itu sering sakit yaa ??” Sedikit terkejut Acha mendengarnya, baru kali ini Alvin menayakan orang lain, apalagi perempuan. Acha pun tersenyum menggoda.

“ cieee.., jatuh cinta nih sama kak Via..” Acha mencubit lengan Alvin, sedang Alvin hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia malu dan bingung.

“ udahhh., gak usah ngejek. Jawab aja kenapa sih adikku sayangg..” dengan gemas Alvin mecubit hidung Acha. Oleh Acha segera ditepisnya tangan kakaknya itu lalu memanyunkan bibirnya.

“ Iyaaa.., kakakku sayang. Acha sendiri gak tau banyak soal kak Via, tapi kadang saat ngajar Acha menulis ia sering minum obat-obatan gitu deh.”

“ Ohh.., ya udah sana tidur.” Alvin merangkul Acha masuk ke dalam rumah.

“ Tadi itu obat apa yaa..” Alvin mulai berpikir dalam perjalanannya menuju kamarnya.


**********

***Makasih buat yang udah baca cerita ini***
***Dan saya minta tolong tinggalin jejak, buat penulis yaa**



_mei_