Sabtu, 08 Desember 2012

Lollipop [3]


[Perjanjian dan Siapa Cinta]

                Sivia sedang menunggu gilirannya take sambil merenung. Tawaran Cakka sedang berkelebat asyik di otaknya. Entah kenapa penarawan Cakka terasa begitu menggiurkan. Dan jika ia setuju, maka bisa dipastikan ia akan dekat dengan Alvin, laki-laki yang sedang membuatnya tertarik setengah mati.

“Sivia, sekarang giliran kamu take!” teriak seorang sutradara. Sivia segera berjalan ke arah lawan mainnya yang sudah menunggu, meninggalkan lamunannya sejenak dan kembali ke aktivitas rutinnya.

~Lollipop~

                Waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Dan Sivia baru saja tiba di kamarnya setelah selesai syuting salah satu drama serialnya. Kembali gadis itu melamun di atas tempat tidur. Memikirkan tawaran Cakka yang benar-benar menggiurkan, tapi ia masih ragu untuk menyerahkan Ify sebagai imbalan tawaran itu. Pikiran Sivia pun kembali ke kejadian sore tadi.

“Gue bakal bantu lo supaya bisa deket sama Alvin, tapi ada satu syarat?” Sivia semakin berkerut bingung mendengar penawaran Cakka. Belum selesai urusan surat cintanya, sekarang Cakka malah berbicara kemana-mana.

“Aduhhh, mau lo apa sih gue bingung tau? Satu-satu dong!” Sivia pun segera mengambil salah satu lollipop coklat dari kantongnya. Lollipop rasa itu selalu bisa menghilangkan stress dan menenangkan dirinya.

“Dasar lollipop kecil lemot. Ini surat cinta lo, gue kembaliin!” Cakka menyodorkan amplop yang berisi surat cinta Sivia. Dan dengan senang hati Sivia pun mengambil surat cinta itu dari tangan Cakka.

“Terima kasih Cakka.” kata Sivia sambil melangkah pergi meninggalkan Cakka.

“Belum selesai lollipop kecil!” teriak Cakka dengan suara cukup keras, Sivia pun berhenti berjalan dan memutar tubuhnya menghadap malas ke arah Cakka.

“Lollipop kecil? Apa lagi sih Cakka?” tanya Sivia dengan gemas.

“Tawaran gue belum kita bahas tau. Gue bakal ngedeketin lo sama Alvin asal lo mau bantu gue balikan sama Ify.” ucap Cakka dengan santai. Sivia pun langsung melotot mendengar tawaran Cakka. Tadi kalau tidak salah dia mendengar tentang balikan sama Ify. Jadi maksudnya Cakka pernah jadian sama Ify? Cakka-Ify pacaran? Cakka-Ify udah putus? Sivia pun langsung menggelengkan kepalanya bingung.

“Iya lollipop kecil, gue pernah pacaran sama Ify.” kata Cakka dengan cepat saat melihat wajah Sivia yang kebingungan.

“Tapi waktu masuk SMA tiba-tiba dia mutusin gue dan entah kenapa sampai sekarang gue yakin dia itu masih suka sama gue.” Cakka tersenyum ringan melihat Sivia mencibirnya.

“Gue gak narsis lho. Lo tadi juga lihat kalau dia sampai bengong lihatin gue kan? Itu salah satu tanda kalau dia masih suka sama gue.” Sivia mengangguk ragu. Ingatannya kembali berputar ke saat pertemuan panitia festival tadi. Benar kata Cakka, Ify tadi benar-benar bengong melihat Cakka yang duduk bersama Alvin.

“Gue pikirin dulu yaa. Walau gue mau dekat sama Alvin tapi gue takut nyerahin sahabat gue ke mulut buaya.” Cakka tersenyum geli mendengar ejekan Sivia.

                Sivia menghela nafas panjang. Sudah cukup ia melamun seharian ini. Mungkin ia harus mencoba tawaran Cakka. Bukankah dengan begitu semuanya bisa bahagia? Ify kembali pada laki-laki yang ia sukai dan ia ada kemungkinan dekat sama cowok yang ia sukai.

“Mungkin gue harus coba.” Sivia tersenyum sekilas lalu merebahkan dirinya ke atas tempat tidur.

~Lollipop~

“Halo Siviaaa...” sapa Cakka yang entah sejak kapan sudah duduk di samping Sivia. Sivia pun langsung mengerutkan keningnya melihat Cakka yang sudah duduk disebelahnya.

“Perasaan, kita gak seakrab ini deh?” Cakka hanya terkekeh geli mendengar ucapan Sivia.

“Dan kenapa lo selalu ada di dekat gue sih? Atau jangan-jangan lo mata-matain gue? Lo fans terselebung gue yaa? Mending lo daftar jadi anggota Siviaholic aja deh, itu fans resmi gue lho.” tuduh Sivia dengan kejamnya.

“Mungkin takdir kali. Lihat deh, kita cuma berdua disini. Kita berdua ngerjain kepangan pita yang bakal nyatuin pasangan. Terus, dulu lo salah ngirim surat cinta ke loker gue. Lalu kita jadi panitia festival. Dan kemarin gue nolongin lo dari anak SMA lain. Udah lewat tiga kali kebetulan lho.”

“Jadi maksud lo kita takdir gitu? Jodoh gitu? Ngarep!” cibir Sivia, Cakka terkekeh geli melihat ekspresi wajah sebal Sivia yang benar-benar lucu.

“Terus mau dikemanain rencana lo buat balikan sama Ify?” tanya Sivia.

“Padahal gue udah setuju sama tawaran lo. Tapi kayaknya gak jadi deh, lo player sihh. Takut gue nyerahin sahabat gue ke lo.” Cakka langsung berbinar ketika mendengar Sivia setuju dengan tawarannya.

“Eiit, jangan dong! Lo tenang aja deh, kalau sama Ify gue bakal serius.” tegas Cakka. Sivia pun mengangguk percaya.

“Oke kalau begitu kita deal!” kata Sivia sambil tersenyum senang.

“Deal..” ucap Cakka. Sivia pun segera mengembalikan senyum tulusnya saat melihat Ify dan seseorang masuk ke dalam ruangan. Dan Ify begitu gembira melihat Sivia yang tersenyum dihadapan Cakka. Senyum manis Ify pun terkembang di bibirnya. Ify terus memperhatikan Cakka yang begitu akrab dengan Sivia. Dan entah kenapa keinginan untuk kembali pada Cakka mulai muncul lagi, dulu ia memilih putus dengan Cakka karena ia merasa Cakka terlalu dingin, bahkan saat mereka pacaran. Tapi melihat Cakka yang bisa membuat Sivia yang takut pada cowok tersenyum, benar-benar membuat Ify ingin kembali padanya.

“Lo udah berubah Kka. Dan ternyata gue masih suka sama lo.” batin Ify sambil terus tersenyum.

“Alvin, lo kesini bentar deh!” teriak Cakka pada Alvin yang masih berdiri di sebelah Ify.

“Bantu Sivia buat kepang pita gih. Gue masih ada kerjaan lain nih.” Alvin pun mengangguk dan duduk di depan Sivia. Sementara Cakka pergi meninggalkan mereka berdua. Rencana pertama berhasil!

~Lollipop~

                Sivia dan Alvin sedari tadi hanya diam sambil terus mengepang pita. Keduanya sama-sama tidak punya topik untuk dibicarakan. Sedangkan Cakka yang mengintip dari balik pintu pun menjadi gemas melihat tingkah kedua orang itu.

                Pekerjaan mengepang pita sudah selesai. Sivia pun segera melihat jam tangannya. Dengan buru-buru Sivia berdiri dari bangkunya. Baru beberapa detik berdiri Sivia kembali duduk di atas bangkunya, sejenak tadi semuanya terasa berputar.

“Lo kenapa?” tanya Alvin dengan nada cemas.

“Gak papa kok cuma sedikit pusing aja.” balas Sivia sambil memegangi kepalanya yang berdenyut.

“Terus gimana udah gak papa kan?” tanya Alvin sambil menyentuh lembut kepala Sivia. Sivia pun menatap Alvin yang kini sudah berdiri didepannya. Laki-laki itu semakin memukau jika dilihat dari dekat, beda sekali dengan Cakka yang semakin menyebalkan jika dilihat dari dekat.

“Gue gak papa kok. Mungkin cuma kurang tidur aja.” jawab Sivia pelan.

“Makanya kalau selesai syuting langsung tidur aja biar gak kecapekan.” Sivia tersenyum ringan, ternyata Alvin juga sedikit tau kesibukannya. Berarti selama ini tidak hanya dia yang memperhatikan Alvin.

“Lo tau juga kalau gue sibuk?” pertanyaan polos itu langsung meluncur begitu saja dari mulut Sivia. Dan tanpa Sivia ketahui ada semburat merah yang muncul di pipi Alvin.

“Lo kan emang lagi eksis banget di tv.” kata Alvin dengan nada sok cuek.

“Ya udah deh. Gue pulang duluan ya. Lagian udah sore ada jadwal syuting.”

“Oke! Biar gue yang beres-beres. Hati-hati yaa.” Sivia mengangguk dan melemparkan senyumnya pada Alvin. Senyum yang tanpa Sivia tau dapat membuat hati Alvin bergetar.

~Lollipop~

“Cakka....” teriak Sivia.

“Lo tega banget sih sama gue.” protes Sivia saat Cakka sudah berdiri di depannya.

“Via, lo sama Alvin gak keren amat sih. Udah dikasih waktu berduaan malah diam-diaman, dimanfaatin dong!” kata Cakka sebelum Sivia sempat nyerocos lagi.

“Iyadeh.. mentang-mentang bisa berduaan sama Ify. Makasihnya sama gue mana? Kalau tadi gue gak senyum waktu lihat Ify masuk lo pasti gak bisa deket sama Ify lagi. Ify kan tau kalau gue takut sama cowok dan lo itu satu-satunya cowok yang bisa buat gue senyum tanpa akting saat ngobrol berdua. Itu luar biasa tau. Pasti Ify mikirnya lo itu cowok humoris, baik, dan perhatian.” cerocos Sivia tanpa henti.

“Lo itu ternyata narsis banget dan cerewet yaa..” kata Cakka sambil mencubit gemas pipi Sivia.

“Cakka sakit..” rajuk Sivia sambil memukul tangan Cakka yang berada di pipinya.

“Dan baru aja lo ngaku kalau lo itu takut sama cowok. Lo lucu deh, lo itu kan artis, biasa main peran sama cowok, terus kenapa lo bisa takut sama cowok. Aneh deh Vi!” mulut Sivia langsung menganga mendengar apa yang dikatakan Cakka. Tuhan, dia keceplosan! Dia keceplosan mengatakan kelemahanya di depan cowok rese! Ya ampun!

“Tenang aja mulut gue aman kok. Gak usah pasang wajah kaya gitu dong. Jelek tau!” kata Cakka sambil mengalungkan syal yang sebelumnya ia pakai ke leher Sivia. Sivia sendiri hanya diam melihat perlakuan manis Cakka.

“Pipi lo dingin banget tau.” kata Cakka sambil menepuk-nepuk pipi Sivia.

“Tapi lo juga gak bilang terima kasih ke gue karena gue udah kasih lo berduaan sama Alvin.” kata Cakka sambil menepuk kepala Sivia pelan.

“Habis lo tega banget sama gue Kka. Tadi itu gue hampir mati gugup tau. Dia di depan gue, bisa ngelihat semua gerakan gue, dan gue bingung mau bicara apa.” sembur Sivia dengan cepat. Cakka tersenyum lagi, entah kenapa ia sangat suka melihat ekspresi Sivia yang selalu berubah sesuai dengan suasana hatinya.

“Tapi ya udah deh. Gue mau pergi dulu, ada jadwal syuting yang nunggu.” Cakka melihat Sivia yang berjalan meninggalkannya.

“Sampai jumpa besok Kka. Makasih syalnya yaa...” teriak Sivia sambil melambaikan tangannya ke arah Cakka.

“Sampai jumpa besok lollipop kecil.”

“Gue gak kecil! Dasar Cakka rese!” Cakka langsung tersenyum geli mendengar teriakan Sivia.

~Lollipop~

                Waktu persiapan untuk festival sekolah tinggal 5 hari lagi. Semua panitia bergerak dengan cepat. Alvin dan Sivia pun sudah bisa dekat karena bantuan Cakka. Ify juga semakin berani menunjukkan perasaannya pada Cakka.

                Walau begitu Sivia juga masing sering dibully secara tidak langsung oleh panitia-panitia perempuan. Tetapi Sivia tetap semangat karena Cakka selalu ada disampingnya. Dan selalu saja Cakka, bukan Alvin atau Ify.

“Harusnya lo yang ngebully mereka. Dasar lollipop kecil!” itulah protes yang selalu Cakka ucapkan saat melihat Sivia disindir.

                Selain apa yang terjadi, Cakka sendiri sudah punya aktivitas rutin setiap waktunya. Melihat semua detail ekspresi Sivia. Bahkan ia sama sekali tidak pernah bosan melihat wajah Sivia. Ia sendiri bingung kenapa objeknya Sivia, bukan Ify yang notabene adalah calon pacarnya. Dan akhirnya Cakka sadar akan perasaannya karena satu kejadian tak terduga.  

“Anak-anak, persiapan untuk festival sekolah sudah sekitar 3 minggu dan bagaimana perkembangannya?” tanya Pak Dio pada semua panitia festival.

“Sudah beres Pak. Semua kelas juga sudah mengirimkan konsep untuk stan mereka masing-masing. Dan besok mereka siap untuk menata ruangannya.” jawab Alvin selaku ketua panitia.

“Lalu bagaimana dengan stan yang akan kalian buat?” tanya Pak Dio lagi.

“Kami berencana membuat kafe. Daya tariknya adalah penjual yang cantik dan tampan. Dan karena mulai besok pelajaran dikosongkan sampai hari H festival maka hari ini kami akan mulai menata ruangan yang sudah dipilihkan untuk tempat stan kami.” jelas Alvin sekali lagi.

“Bagus! Ternyata tidak salah para wali kelas memilih kalian menjadi panitia festival ini. Kalau begitu bapak pergi dulu. Tetap dijaga semangatnya yaa.”

                Sekarang semua panitia festival sedang menata ruangan tempat stan mereka. Disana terlihat Sivia yang tengah duduk untuk istirahat. Badannya benar-benar capek dan tidak enak. Sudah tiga minggu dia sibuk syuting dan mengurus festival, waktu istirahatnya benar-benar berkurang.

“Dihh, mentang-mentang artis bisa duduk gitu.”

“Enak yaa jadi artis, gak usah bantu tinggal duduk aja.”

“Mentang-mentang cantik jadi manfaatin cowok-cowok buat gantiin pekerjaannya.”

                Sivia menghela nafas panjang. Baru duduk sebentar saja sudah langsung disindir, benar-benar gadis-gadis yang menyebalkan. Padahal Sivia jelas tau kalau para gadis itu dari tadi hanya berdandan, mempertebal bedak di wajah mereka. Bahkan kerja mereka selama ini hanya memandang Cakka dan Alvin saat rapat berlangsung. Dasar gadis-gadis centil!

“Kalian benar-benar menyebalkan.” ucap Sivia dengan nada tajam, gadis-gadis itu tertegun sejenak mendengar kata-kata Sivia.

“Waahh.. sekarang artisnya udah berani ngebully nih.” ejek salah satu dari mereka dengan suara yang pelan. Sivia menarik nafas panjang.

“Mentang-mentang artis mau ngebully yaa.”

“Dasar artis gak tau diri.”

“Dasar gadis gila, bukankah selama ini mereka yang selalu membullynya.” batin Sivia sebal.

“Ternyata berbicara dengan tong kosong susah juga.” Gadis-gadis itu menggeram sebal melihat Sivia yang berlalu meningalkan mereka.   

                Sekarang di depan Sivia ada beberapa tumpukan kardus kopi yang cukup berat. Sivia menghela nafas sebentar sambil memandang panitia-panitia yang lain. Semua terlihat sibuk sementara kardus-kardus ini harus segera dipindahkan sebelum menghalangi jalan atau melukai orang.

                Dengan seluruh tenaganya Sivia pun mengangkat salah satu kardus kopi itu. Dan saat itu juga pandangannya mengabur perlahan, kepalanya terasa berputar-putar, tubuhnya terasa melayang, dan tiba-tiba semuanya gelap.

“BRUKKKK...” terdengar suara dentuman yang cukup keras.

~Lollipop~

“Siviaaaa...” Cakka berteriak melihat tubuh Sivia yang jatuh ke lantai. Panitia-panitia lain pun segera melihat ke arah Sivia yang kini tergeletak lemas di lantai.

                Dengan cepat Cakka berlari ke arah Sivia. Dan dengan cekatan pula Cakka menggendong Sivia dan membawanya ke UKS, mendahului Alvin yang sudah siap untuk bergerak.

                Sudah sekitar 3 menit Sivia pingsn. Perlahan Sivia mengerjapkan matanya. Kepalanya terasa pusing dan sakit, pandangan matanya pun masih berputar-putar.

“Sivia lo udah sadar? Lo baik-baik aja kan?” suara Ify terdengar jelas di telinga Sivia tapi Sivia masih belum bisa menfokuskan matanya untuk memandang Ify.

“Ify? Gue dimana?” tanya Sivia dengan suara yang lirih.

“Lo di UKS, kata dokter lo kecapean dan demam.”

“Ohh iya, nanti lo pulang naik mobil Alvin aja. Kebetulan dia bawa mobil. Dan gue pamit keluar dulu, ada tugas yang harus gue selesaiin. Tenang deh, Alvin ada disini kok. Dia cemas banget tau.” Sivia mengangguk lemah sambil tersenyum ringan. Ia melihat Alvin yang kini duduk di posisi Ify tadi.

“Maaf ngerepotin..” Alvin hanya menggeleng.

“Gak kok. Gue seneng bisa nolong lo.” ucap Alvin sambil memegang lembut tangan Sivia. Sivia tertegun, bukan karena ia terlalu berdebar tapi bahkan ia tidak berdebar sama sekali.

 “Emm, lo tadi yang bawa gue kesini?” tanya Sivia pelan.

“Bukan, tadi Cakka yang bawa lo kesini kok. Dia emang sigap banget orangnya.” kata Alvin. Sivia hanya mengangguk. Cakka? Kenapa ia jadi berdebar?

~Lollipop~

                Cakka sedang termenung sambil duduk di lantai teratas gedung sekolahnya. Ada yang aneh dengan perasaannya. Kenapa ia begitu cemas melihat Sivia yang tergeletak lemas seperti tadi? Kenapa dia begitu peduli pada gadis itu? Bukankah ia menganggap Sivia sebagai lollipop kecil? Sivia sebagai calon pacar sahabatnya? Sivia teman dari calon pacarnya?

“Hanya itu Cakka! Status Sivia hanya itu! Dia adik kecil bukan gadis yang kamu sukai. Gadis yang kamu sukai itu Ifykaila Umari bukan Aisivia Putri.”

“Benarkah?” lirih Cakka.

“Sivia milik Alvin, Cakka milik Ify. Itulah masa depan.”

“Kenapa terasa sakit...” Cakka merebahkan dirinya, melihat kembali ke hari-hari sebelum ini. Bukan Ify yang ada dalam fokusnya sekarang tapi Sivia.

“Gue bahkan gak tau sejak kapan lo goyahin perasaan gue.”

“Kka...” Cakka membuka tangannya dan melihat Ify ada dalam pandangannya. Tanpa sadar Cakka bangun dan memeluk Ify. Ify pun hanya diam sambil tersipu malu.

“Cakka juga masih suka sama gue..” ucap Ify dalam hati.

“Ternyata rasanya udah beda...” batin Cakka.

“Maaf....”

****

***Selamat dan terima kasih udah mau baca***
***Tolong tinggalkan jejak buat penulis***


_mei_



Jumat, 07 Desember 2012

LOLLIPOP [2]


[Panitia Festival]

Sivia memandang malas halaman sekolahnya. Pikirannya kembali melayang pada kejadian kemarin siang. Laki-laki bernama Cakka itu benar-benar menyebalkan. Dan yang lebih buruknya lagi, surat cintanya masih dibawa laki-laki gila itu. Kalau saja bisa, dia pasti sudah mengutuk laki-laki itu menjadi itik buruk rupa.

Sivia menghentikan lamunannya saat melihat wali kelasnya masuk ke kelas dengan sapaan dan senyum ceria. Wajahnya berseri-seri, dan saat itu juga Sivia yakin kalau guru itu akan membawa berita buruk untuk dirinya. 

“Anak-anak, untuk memperingati hari jadi SMA Putra dan Putri Permata maka akan dibuat festival sekolah. Nah, untuk itu ibu guru akan menunjuk dua orang wakil dari kelas ini untuk bergabung sebagai panitia.” Sivia semakin bergerak gelisah mendengar topik yang dibicarakan Ibu Dian selaku wali kelasnya.

 “Aisivia dan Ifykaila, kalian benar-benar beruntung bisa berkerja sama dengan cowok-cowok tampan dari Putra Permata.” Tubuh Sivia melemas ketika mendengar apa yang Ibu Dian katakan. Apalagi melihat kerlingan mata menggoda guru itu.

“Tuh kan! Setiap guru itu masuk dengan wajah ceria pasti petaka buat gue. Entah kuis dadakan, maju tanpa persiapan, bahkan hukuman.” batin Sivia kesal. Dan dengan takut Sivia pun memberanikan diri mengangkat tangannya.

“Ada masalah Aisivia?” tanya Ibu Dian dengan pandangan tidak suka.

“Bu, boleh saya mengundurkan diri?” tanya Sivia dengan wajah yang memelas.

“Berikan alasan yang cukup kuat maka saya akan mempertimbangkan keinginanmu.” ucap Ibu Dian dengan nada otoriternya.       

“Paling dia sok sibuk...”

“Mentang-mentang artis...”

“Dia kan lagi naik daun bu..”

“Lo pikir dia ulat pakai naik daun segala..”

“hihihi..”

Sivia menghela nafas sebal mendengar berbagai komentar tidak penting yang mulai muncul. Rasanya capek juga menghadapi gadis-gadis labil itu. Mereka selalu memojokkannya seolah-olah merekalah yang paling benar dan dia dalam posisi yang selalu salah.

“Aduhh bu, gue itu takut sama cowok-cowok Putra Permata.” batin Sivia kesal, andai saja ia tidak gengsi untuk mengucapkan kalimat itu di depan semua teman sekelasnya. Mana mungkin ada cewek yang takut sama cowok, rasanya imposible banget.

“Baiklah bu, saya bersedia.” kata Sivia dengan nada pasrah. Sivia bisa melihat jelas senyum kemenangan dari wajah wali kelasnya itu.

“Baiklah sudah ditetapkan. Aisivia dan Ifykaila pulang sekolah nanti kalian ke aula gabungan untuk mengikuti rapat dengan panitia yang lain.” Ify hanya tersenyum senang sementara Sivia mengangguk pasrah.

“Fy, nanti lo jangan jauh-jauh dari gue yaa. Lo kan tau kalau gue takut sama cowok-cowok itu.” Ify hanya mengangguk dan tersenyum menjawab permintaan Sivia.

~ Lollipop ~

“Temen-temen katanya bakal ada festival sekolah lagi. Dan kali ini kepanitiaan festival diambil dari SMA Putra dan Putri Permata. Aduuhh, gue beneran pengen lihat Sivia secara jelas.” teriak seorang murid laki-laki di samping pintu kelas.

“Jangan mimpi deh! Belum tentu juga si Sivia itu ikut jadi panitia. Dia kan artis, pasti sibuk lah.” komentar murid yang lain.

“Tunggu! Artis yang namanya Sivia itu yang bertubuh kecil mungil itu kan? Yang kaya anak SD itu kan?” tanya salah seorang murid laki-laki yang lain.

“Iya Kka. Kenapa lo naksir juga? Aduh jangan deh, kalau sama lo gue pasti kalah saing.”

Cakka hanya tersenyum miring dan mengangkat bahunya. Detik berikutnya ia memandang Alvin yang sedang asyik membaca buku, sebuah rencana luar biasa muncul dari otaknya. Dan tanpa Cakka sadari, rencana itu akan menjadi perputaran perasaan yang luar biasa hebat.

~ Lollipop ~

Sivia P.O.V

Dari tadi aku terus menunda berangkat ke rapat panitia festival sekolah. Aku benar-benar takut ketemu cowok-cowok Putra Permata lagi. Jangan-jangan mereka bawa kamera lagi? Aduhh! Tapi baru saja Ify bilang ada kemungkinan Alvin juga menjadi panitia acara ini dan mendengar itu entah kenapa  aku pun jadi bersemangat.

Aku dan Ify mengetuk ragu pintu didepan kami, sudah lebih dari 15 menit kami terlambat dan sekarang aku benar-benar takut untuk masuk. Pikiran untuk bertemu dengan Alvin langsung hilang begitu tau disana akan banyak murid cowok. Bagaimana kalau mereka mengambil fotoku dengan membabi buta seperti dulu? Aku juga tidak siap menghadapi wajah seram panitia lain yang sudah lama menunggu. Kulihat Ify  yang juga berekspresi tak jauh dari ekspresiku.

“Siv, pakai senyum lo deh. Biar mereka gak marah sama kita. Senyum lo kan senyum malaikat.”

“Gimana bisa senyum kalau gue takut ngelihat murid-murid cowok dari SMA sebelah.” Aku melihat Ify menghela nafas panjang.

Dengan ragu kami mengetuk dan membuka pintu. Detik berikutnya aku  hanya bisa melongo melihat bagaimana rupa orang-orang di dalam sana. Semua cowok disana menyambut kami dengan senyuman walau aku masih dapat melihat raut sinis dari panitia-panitia perempuan. Aku pun hanya bisa tersenyum kaku membalas senyuman mereka.

Lalu aku memutar pandanganku dan melihat Ify yang sedang tertegun, kuikuti arah pandangannya dan kali ini aku ikut tertegun. Aku melihat laki-laki menyebalkan kemarin. Cakka. Cakka? Kenapa Ify memandang Cakka? Apa hubungan sahabatnya dengan laki-laki super menyebalkan itu?  Dan yang lebih membuatku syok adalah laki-laki yang berada disampingnya, Alvin Jo. Melihatnya yang sedang asyik berbicara dengan salah satu guru pembimbing membuat rona merah menjalar di pipiku, aku melihatnya tersenyum dan bisa melihat senyumnya dari jarak dekat.

“Maaf kami terlambat.” sayup-sayup aku mendengar suara Ify. Detik berikutnya aku kembali dari lamunanku.

“Mentang-mentang artis bisa seenaknya.”

“Dia kan ngerasa kalau dirinya yang paling hebat.”

“Sok sibuk.”

Aku menghela mendengar ocehan gadis-gadis itu. Siapa yang artis siapa yang nge-bully. Harusnya kan aku yang nge-bully mereka bukan mereka yang nge-bully aku. Menyebalkan!

“Mulut kalian tipis banget yaa.” dari sudut mataku, aku melihat mereka bergidik ngeri mendengar omongan pedas dan tatapan maut yang dilontarkan Ify. Ify memang sahabatku yang paling TOP. Dan entah kenapa aku tersenyum sambil memandang Ify yang masih terus bicara membelaku.

~ Lollipop ~

Cakka P.O.V

Pandanganku langsung beralih ke arah pintu saat mendengar suara pintu diketuk. Aku melihat dua gadis yang baru saja masuk. Aku melihatnya tertegun memandangku. Aku tau kalau dia masih suka padaku karena aku juga masih menyukainya. Tapi lidahku selalu kelu jika berada di dekatnya. Ifykaila Umari, mantan pacarku waktu SMP. Hubungan kami yang awalnya hanya tetangga berubah seiring berjalannya waktu.

Tetapi semua itu tidak bertahan lama sampai gadis itu memutuskan untuk meninggalkanku. Dia meninggalkanku tanpa alasan yang jelas. Dan sampai sekarang aku masih belum tau apa yang ada dipikirannya. Yang jelas kutahu hanya kami masih saling menyukai, setidaknya itu menurutku.

Pandanganku segera beralih ke arah gadis mungil disampingnya, Sivia. Wajah Sivia terlihat memerah, aku mengikuti arah pandangnya dan melihat Alvin yang tengah tersenyum sambil berbicara dengan guru pembimbing kami.

Sivia benar-benar menggemaskan. Pipinya bisa bersemu merah hanya karena melihat senyum laki-laki yang disukainya, benar-benar manis. Untuk beberapa saat aku memandangi wajah Sivia dan aku kembali tersadar saat tidak lagi mendengar suara cakap-cakap disebelahku.

“Alvin...” aku menatap Alvin yang tidak merespon panggilanku. Dan aku pun mengikuti arah matanya saat kusadari ada seulas senyum dari bibirnya.

Aku sempat terpukau melihat apa yang dilihat Alvin. Senyum Sivia. Benar-benar manis. Tapi yang lebih membuatku terpukau adalah alvin yang dingin bisa tersenyum hanya karena melihat senyum seorang gadis. Dan ini benar-benar wow. Aku jadi semakin yakin kalau misiku kali ini akan berjalan mulus. Gadis lollipop tunggu aku!

~ Lollipop ~

Sudah lebih dari satu jam mereka semua terus berkutat dengan pencarian konsep acara festival sekolah. Beberapa orang sudah mulai menyampaikan ide mereka tetapi semua ide itu belum bisa menarik perhatian Pak Dio, sebagai pembimbing.

“Ada yang punya ide lain untuk festival kita kali ini?” tanya Pak Dio. Semuanya masih terdiam, mencoba menggali ide dari bagian otak terdalam mereka.

“Bagaimana kalau kita buat stan-stan di seluruh area sekolah saja pak. Nanti kita wajibkan bagi masing-masing kelas untuk membuat satu stan. Nah, khusus kita sebagai panitia, kita juga harus membuat stan sendiri jadi nanti kita tidak ikut tergabung dalam stan kelas.” usul Alvin, Pak Dio terlihat mengangguk setuju. Sementara panitia yang lain pun bernafas lega karena mereka tidak perlu memberikan ide lagi.

“Ada yang mau usul lagi atau menambahkan?” tanya Pak Dio.

“Begini pak, sekolah kita kan punya mitos yang cukup terkenal di daerah sini.Tentang siapa yang bisa menukar kepangan pita merah mereka dengan kepangan pita biru milik orang yang mereka sayangi pada jam 7 malam pasti cintanya akan abadi. Bagaimana kalau kita gunakan itu sebagai daya tarik dalam festival ini. Kita juga bisa menjual kepangan pita merah dan kepangan pita biru di pintu masuk festival nanti. Lumayan untuk menarik pengunjung.” usul Sivia.

“Kekanak-kanakkan banget sih ide lo. Kenapa gak sekalian kasih tau semua orang kalau di festival SMA Putra-Putri Permata akan ada idola terkenal Aisivia Putri. Pasti mereka semua bakal datang buat minta foto sama tanda tangan lo. Sekalian saja kita sebagai panitia buat stan foto dengan Aisivia Putri. Pasti laris tuh!”

“Jangaaan...” Semua orang disana langsung memandang Sivia yang tiba-tiba berteriak takut.

“Saya setuju sama ide Sivia. Dan buat ide Angel jangan dipakai pak. Kesannya kita terlalu memanfaatkan Sivia.” kata Ify sambil menarik Sivia untuk duduk kembali.

“Saya juga setuju.” kata Cakka dan langsung diikuti panitia-panitia lainnya.

~Lollipop~

Sekarang Sivia sedang melangkah sendiri menuju gerbang SMA Permata. Tiba-tiba entah dari mana cahaya kamera mulai menyapanya. Sivia pun dengan cepat menutupi wajahnya. Dari sela tangannya Sivia melihat sekitar lima orang laki-laki dari SMA lain.

“Yahh, jangan ditutupin dong. Kita jauh-jauh kesini kan bukan untuk gagal motret lo.” seorang laki-laki berjalan mendekat ke arah Sivia. Sivia sendiri masih berdiri kaku, ia terlalu takut.

“Kalian ada urusan apa kesini?” tanya seorang laki-laki.

“Cihh.. Ternyata ia dekat sama Cakka.” Kelima laki-laki itu pun segera berlalu. Mereka tidak mau berurusan dengan Cakka.

“Lo takut sama cowok?” tanya Cakka sambil memandang Sivia yang sedang duduk lemas di atas tanah.

“Gak!”

“Hahaha.. Gak percaya tuh! Tapi gak penting juga buat gue.”

“Mana surat cinta gue.” Sivia segera berdiri dan menyodorkan tangannya ke arah Cakka.

“Lo mau surat cinta lo balik?” Sivia pun mengangguk bersemangat mendengar pertanyaan Cakka.

“Tapi sebelum itu gue punya penawaran menarik.”

“Antara lo, gue, Alvin, dan Ify.” Cakka pun tersenyum simpul melihat kerutan di dahi Sivia.

*****

***Huuaaa saya ngaret banget yaa J***
***Terima kasih udah mau baca dan mari tinggalkan jejak***


_mei_


Senin, 10 September 2012

Tentang Kisah [5]


            Sivia terus memandangi Cakka yang dengan sabar menyuapinya. Sesekali kakak tirinya itu melontarkan petuah-petuah kepadanya. Dan semua petuah itu hanya masuk melalui telinga kiri kemudian keluar dari telinga kanan.

“ Kak Cakka.” panggil Sivia dengan suara yang sangat pelan. Cakka pun hanya melirik Sivia dari sudut matanya.

“ Maaf gara-gara ngerawat gue, lo jadi bolos sekolah.” Cakka diam sejenak, tidak lama tangannya bergerak menyodorkan nampan yang berisikan obat-obatan kepada Sivia.

“ Gue cuma butuh tidur kok.” Sivia pun berbaring tanpa meminum satu butir obat pun. Cakka pun menggeleng pelan, ia lupa kalau Sivia tidak suka dengan yang namanya obat.

“ Kan lo udah buat gue bolos. Nah, sebagai ganti ruginya lo harus minum semua obat ini sampai habis bukan sampai sembuh. Ingat !” Dan pada akhirnya, Sivia hanya bisa menatap pasrah semua obat itu sambil menggerutu.

“ Errr, dasar jelek !” ejek Sivia, tangannya bergerak untuk meminum obat-obat itu. Sementara Cakka tertawa kecil saat melihat ekspresi wajah Sivia saat meminum obatnya.

“ Hahh Paitt banget sihh..”

“ Namanya obat gak ada yang manis. Kalau mau cari yang manis itu lihat gue.”

“Hahaha, bisa narsis juga lo kak. Tapi kenapa selama ini lo dingin banget sama gue ?” Cakka menggeleng pelan, perlahan tangannya bergerak menepuk puncak kepala Sivia.

“ Tapi kemana Kak Cakka yang dulu. Kak Cakka yang lembut. Kak Cakkanya Sivia waktu SMP. Sivia kengen sama dia.” Sivia menatap dalam ke mata Cakka, mencari jawaban dari semua pertanyaannya selama ini.

“ Dia hilang !” Sivia tertegun sesaat melihat ekspresi wajah Cakka.

“ Hilang bersama cinta yang jadi terlarang.” Sivia tersentak mendengarnya. Tidak lama kemudian Sivia memegang wajah Cakka dan memberikan tatapan hangatnya.

“ Kak Cakka bener-bener suka sama Via yaa. Tapi benar kata Kak Cakka, cinta ini jadi terlarang.”

“ Andai Kak Cakka mengatakan ini sejak dulu. Semuanya pasti berbeda.” Sivia melepaskan tangannya dari wajah Cakka dan kembali berbaring.

“ Gue bener-bener terlambat yaa ?” Pertanyaan retoris pun tanpa sadar keluar dari mulut Cakka. Sivia pun diam tidak memberikan tanggapan apapun.

------------------------

“ Kamu yang bernama Ifyka Mentari ?” Ify yang sedari tadi duduk melamun pun membalik badannya tanpa menatap wajah laki-laki yang bertanya tadi.

“ Iya ?”

“ Maaf artikel yang lo minta tidak bisa diterbitkan.” kata laki-laki itu.

“ Gimana sih, emang kerjaan lo ap…” Omongan Ify terhenti seketika ketika dia melihat siapa lawan bicaranya.

“ Artikel ini gue sita ! Artikel yang menjelekkan murid lain seperti ini tidak pantas menghiasi mading sekolah.”

“ Alaahh, lo terlalu banyak alasan. Bilang aja lo mau ngelindungin Sivia. Cewek yang lo cintai.”

“ Gue emang suka sama Sivia.  Gue juga gak tau apa yang bikin lo benci sama Sivia. Tapi satu hal yang gue yakin, dia itu suka sama lo. Dia itu pengen jadi temen lo.”

“ Gak usah ngarang deh.” Entah kenapa saat mendengar kalau Sivia ingin berteman dengan dirinya wajah Ify pun memerah.

“ Gue gak ngarang kok. Dia pernah cerita sama gue kalau dia pengen banget temenan sama lo. Apalagi dia suka ngelihatin lo kalau lo lagi main basket.” Ify diam sejenak. Detik berikutnya dia menggeleng kuat.

“ Terus, lo mau bilang soal masalah ini ke Sivia. Silahkan !” tantang Ify. Rio hanya tersenyum lalu menggeleng.

“ Gue gak akan lakuin hal yang bakal ngelukain dia.” Rio berjalan menjauhi Ify yang masih mematung di tempatnya.

“ Temenan sama Sivia..” batin Ify.

“ Alvin..” Ify menggeleng kuat saat bayangan Alvin berkelebat dipikirannya.

“ Gak mungkin.”

-------------------

            Alvin berjalan masuk ke dalam rumah Sivia dengan satu kantung plastik penuh coklat. Rencananya dia akan memberikan semua coklat itu kalau Sivia sudah sembuh. Langkahnya terhenti sejenak saat dia melihat Cakka yang sedang melamun di depan televisi.

“ Sivia gak apa-apa kan kak ?” tanya Alvin ragu. Baru kali ini ia melihat Cakka yang begitu murung.

“ Yang kenapa-kenapa bukan Sivia tapi hati gue.”

“ Maksud lo ?”

“ Gue gak tau kalau dulu Sivia punya perasaan yang sama kayak gue.” Alvin terpaku mendengar kata-kata Cakka.

“ Lo tadi ?”

“ Iya, secara gak langsung gue nyatain perasaan ke dia. Dan…” Alvin langsung berlari ke kamar Sivia tanpa menunggu lanjutan cerita dari Cakka.

            Dengan perasaan yang bercampur aduk Alvin pun masuk ke kamar Sivia. Dilihatnya gadis itu sedang tiduran sambil memandang kosong langit-langit kamarnya. Wajah Sivia bersemu merah tapi terlihat ada guratan kesedihan disana.

“ Gue udah denger semua dari Kak Cakka.” Sivia segera menatap Alvin saat mendengar suara berat Alvin.

“ Alvin…” Sivia segera bangun dari tempat tidurnya dan memeluk erat tubuh Alvin.

“ Gue bingung Vin. Hati gue rasanya kayak diobrak-abrik.” Sivia mengeratkan pelukannya pada Alvin, Alvin masih diam. Tangan yang awalnya ingin membalas pelukan Sivia pun ia kepalkan kembali.

“ Jangan cerita lagi soal hati lo sama gue. Karena gue juga cinta sama lo. Karena gue pengen milikin hati lo seutuhnya.” Sivia langsung melepaskan pelukannya, matanya pun tidak lepas menatap Alvin.

“ Udah dari dulu gue suka sama lo. Tapi lo gak pernah sadar kan ?”

“ Maaf Vin, selama ini gue udah nyakitin lo. Gue gak pernah tau kalau lo suka sama gue. Maaf !” Sivia berlari keluar dari kamarnya. Alvin sendiri masih terpaku, ia tidak menyangka kalau ungkapan perasaannya akan menyulitkan Sivia.

“ Siviaaa lo mau kemana ?” teriakan Cakka itu bagai penyadar bagi Alvin. Detik berikutnya ia sudah berlari bersama dengan Cakka untuk mengejar Sivia.

-----------------------

            Sivia berlari tanpa arah. Cakka dan Alvin pun sudah tidak terlihat lagi dibelakangnya. Tapi begitu melihat sekelilingnya ia sadar ia berada di tempat yang begitu dia sukai. Lapangan Basket.

“ Udah lama banget gue gak main basket.” Sivia menyentuh perlahan bola basket yang ada di bawah ring.

“ Antara kangen dan gak mau.”

“ Sivia ?” Sivia yang merasa dipanggil pun menoleh, di depannya ada Ify yang mengenakan seragam basket SMAnya.

“ Main dong Fy, gue suka banget lihat lo main basket. Keren !” Sivia menyodorkan bola basket yang ia pegang dengan agak bingung Ify pun menerima bola basket itu.

“ Gue emang mau latihan sih. Lo mau lihat ?” Tanpa menunggu jawaban Sivia, Ify pun mulai mendrible bolanya.

            Sivia tersenyum, ia benar-benar kagum pada Ify. Baket adalah salah satu mimpi yang ia pendam bersama kematian ibunya. Walau begitu Sivia tidak pernah membenci basket, dia suka dan benar-benar suka.

“ Lo hebat banget Fy. Gue bener-bener suka sama lo deh.” Sivia tertawa lebar sementara Ify membeku seperti patung.

“ Suka ??” tanya Ify, Sivia pun mengangguk yakin.

“ Lo mau kan jadi temen gue ?” Ify menghela nafas sebentar lalu menggeleng kuat.

“ Lho kenapa ? Lo benci sama gue ?”

“ Iya, lo itu saingan gue buat dapetin Alvin. Jadi kita itu saingan bukan teman.” Sivia tersenyum cerah mendengar perkataan Ify.

“ Ternyata lo suka sama Alvin yaa. Wow, gue baru tau.” Wajah Ify pun langsung bersemu merah saat Sivia mengatakan itu.

“ Bodoh banget sih gue.” batin Ify.

“ Kalau begitu lo harus semangat supaya bisa dapetin Alvin.”

“ Hehh..” kaget Ify saat mendengar kata-kata Sivia.

“ Sivia, bukannya lo juga suka sama Alvin ?” tanya Ify pada Sivia. Sivia menunduk bingung mendengar pertanyaan Ify.

“ Gue gak tau gimana hati gue ? Gue itu ngerasa nyaman banget kalau deket sama Alvin.” Sivia berhenti berbicara sebentar lalu menghela nafas panjang.

 “ Tapi gue gak tau rasa nyaman ini karena gue mandang dia sebagai cowok atau cuma sekedar sahabat.”

“ Tapi fy, kalau nanti gue udah ngerti sama hati gue sendiri dan ternyata gue suka sama Alvin. Gue bakal bener-bener berusaha buat ngedapatin dia.”

“ Gue cuma butuh waktu.”

“ Dan kalau saat itu tiba gue gak ingin cinta gue lari untuk kedua kalinya.”

“ Kalau begitu mulai sekarang kita saingan sekaligus teman yaa.” Sivia tersenyum ringan sambil memegang tangan Ify.

“ Temannn..” teriak Sivia sambil berlari meninggalkan Ify yang masih bengong di tempatnya.

----------------------

            Sekarang Sivia berjalan pulang dengan hati yang lebih tenang. Rasanya benar-benar lega. Tapi tiba-tiba langkahnya melambat saat ia merasakan perutnya mulai mual dan sakit. Sivia berhenti berjalan dan duduk di pinggir jalan.

“ Alvin…” lirih Sivia saat melihat Alvin yang sudah berjongkok di depannya.

“ Maaf kalau kata-kata gue tadi buat bingung lo.” Alvin berkata pelan sambil memeluk lembut tubuh Sivia.

“ Gue yang harus minta maaf karena gak pernah sadar perasaan lo.” Sivia tersenyum sambil membalas pelukan Alvin.

“ Oh iya, mulai hari ini gue bakal cari tau perasaan gue sama lo. Gue sayang atau gak sama lo.” Wajah Alvin langsung bersemu merah saat mendengar Sivia berkata seperti itu.

“ Tapi gue gak sendiri lho. Disana ada cewek yang juga suka sama lo.” Alvin tertegun sejenak.

“ Jadi kami berdua jadi saingan lho. Dia untuk dapatin cinta lo dan gue untuk mastiin perasaan gue ke lo. Jadi lo mesti siap tempur yaa…” Sekarang wajah Alvin benar-benar merah sampai telinga.  Ia benar-benar malu.

“ Oke, oke. Soal itu kita bahas nanti yang penting cepat pulang, istirahat, dan minum obat.” kata Alvin.

“ Huaaaaa…” teriak Sivia keras.

“ Lo gak manis banget sih Vin. Dimana-mana kalau gendong cewek sakit itu ala putri atau kalau gak di punggung deh. Ehh, lo malah manggul gue di pundak. Ihhh..”

“ Emang gue bakul sayur.”

“ Gak mau, kalau gue gendong lo kayak yang lo bilang itu, lo pasti ketawa.”

“ Lho kenapa ?” Sivia bertanya sambil memandangi punggung Alvin, karena yang Sivia bisa lihat  sekarang hanya punggung Alvin.

“ Karena wajah gue merah banget.”

“ Ciieee, malu yaa..” goda Sivia.

“ Jelas gue malu. Gimana gak malu kalau orang yang gue suka ngomong kayak gitu. Rasanya seneng sekaligus malu tau.” Sivia membekap mulutnya sendiri, kali ini giliran wajahnya yang memerah.

“ Udah jangan dilanjutin.” kata Sivia.

“ Gue tadi pasti malu-maluin banget deh.” batin Sivia.

“ Tapi Vi, kisah cinta ini pasti akan berlangsung lama…” kata Alvin tiba-tiba.

“ Gue tau kok. Jadi mohon bantuannya !” Lagi-lagi wajah Alvin bersemu merah karena mendengar perkataan Sivia.

***********


***Bagi yang baca harap tinggalkan jejak***
***Makasih udah mau baca***



_mei_