Rabu, 08 Februari 2012

Destiny, You and Me Part 5 ( Kemah Idola )

Destiny, You and Me Part 5
~ Kemah Idola ~

                Ketukan halus dari pintu kamarnya membuat gadis itu terbangun dari mimpinya. Perlahan ia menggeliat ke kanan dan ke kiri. Pelan gadis itu membuka matanya yang masih terasa lengket.

“ Iya Bu, Via udah bangun kok.” balasnya cukup keras.

“ Cepat bangun, hari ini kan kamu ada acara, mana acaranya pagi lagi.” tutur sang Ibu dari luar kamar.

“ Iya, Via tinggal mandi aja kok.” Perlahan Sivia bangkit dari tidurnya dan kini ia duduk di atas tempat tidur, puas mendengar jawaban sang anak, sang ibu pun berjalan meninggalkan kamar itu.

                Sivia berjalan menuju ke kamar mandi sembari mengingat hari kemarin yang cukup melelahkan. Dengan serentetan pertanyaan yang dilontarkan Gabriel dan semua sahabatnya. Sivia hanya tersenyum miris. Kemarin, hampir seharian penuh ia berbohong.

                Ia selalu berkata kalau operasinya berjalan lancar dan dia sekarang sudah sangat sehat. Tapi nyatanya ?? Operasi itu tidak pernah terjadi, semuanya batal ! Dan pastinya sampai sekarang ia belum sembuh, penyakit ini terus saja menggerogoti tubuhnya. Tuhan masih terlalu sayang padanya. Maka dari itu cobaan masih diberikan padanya.

                Sivia mengusap air matanya yang tiba-tiba saja menetes. Ia menatap bayang dirinya di cermin dan berkata dengan tegas.

“ Aku kuat !”

>

                Pagi ini banyak sekali para idola remaja yang berkumpul disini. Di salah satu lapangan parkir studio televisi milik salah satu stasiun tv swasta. Mereka semua terlihat sangat akrab. Mereka asyik berbincang sampai salah seorang wanita dewasa berbicara pada mereka semua.

                Semua yang ada disana hanya medengarkan sambil sesekali mengangguk ataupun menggeleng. Setelah wanita itu mengakhiri bicaranya, kumpulan idola beda manajemen itu segera masuk ke dalam bus yang sudah disiapkan oleh panitia acara ini.

“ Oke, sebelum kita berangkat mari kita cek satu persatu peserta kemah idola.” kata Dinda, salah seorang staf dari acara itu.

“ Alyssa Saufika….”

“ ………”

“……….”

“ Christoffer Nelwan…”

“………”

“…………”

“ Gabriel Stevent….”

“………”

“……..”

“ Sivia Azizah..” Semua orang saling berpandangan, selain karena terkejut juga karena staf acara ini sudah mengulang nama itu sampai 3 kali dan belum ada balasan sama sekali.

“ Maaf, saya terlambat !” nafas Sivia terdengar ngos-ngosan, bahkan keringat sudah bercucuran dari dahinya. Staf tadi hanya tersenyum dan mempersilahkannya duduk.

                Sivia benar-benar merasa risih saat semua orang disana menatapnya. Tapi ia tetap berusaha mengabaikan hal itu. Pandangan mata Sivia kemudian jatuh pada Gabriel yang sedang melambai padanya sembari menepuk bangku kosong disebelahnya. Sivia hanya tersenyum, berjalan melewati Gabriel dan bangkunya.

                Kini Sivia berhenti di depan seorang gadis yang tengah asyik mendengarkan lagu.

“ Boleh aku duduk disini ?” tanya Sivia, senyum masih terkembang dibibirnya.

“ Dasar bodoh, kenapa harus tanya sih. Sini duduk aja.” Ify gadis itu, menyambut dengan senang hati.

                Tak lama bus itu pun berangkat meninggalkan padatnya kota Jakarta.

“ Fy, kenapa semua orang memandangiku ?” tanya Sivia memecah keheningan diantara mereka.

“ Apa karena aku tak pantas berada dalam kumpulan idola seperti ini ?”

“ Aku tau kok, aku kan udah bukan idola lagi, semenjak aku pergi ke luar negeri. Meninggalkan semua gemerlap dunia hiburan.”

                Ify hanya tersenyum mendengar penuturan Sivia. Tangannya menepuk pelan bahu Sivia.

“ Bukan ! Mungkin mereka kaget aja. Apalagi kamu satu-satunya yang terlambat.” Sivia hanya mengangguk dan diam dalam pikirannya.

>

“ Gab, selamat buat Higuchi.” Chris memberikan ucapan selamat pada Gabriel, hal yang tidak sempat ia lakukan kemarin. Memang sekarang Chris duduk disamping Gabriel, karena Cakka yang seharusnya menjadi teman sebangkunya dengan seenaknya memakan tempat mereka berdua.

“ Apaan sih, sekolah kita kan seri. Sekolah kita berdua sama-sama pemenang.” Gabriel hanya tersenyum membalas ucapan Chris.

“ Tapi lain kali, aku takkan kalah.” ucap Gabriel tegas, Chris hanya tersenyum memandang Gabriel.

“ Aku juga tidak akan pernah kalah, dari Higuchi ataupun darimu.” kata Chris tegas, Gabriel mengangguk, ia mengerti jelas apa maksud perkataan Chris.

“ Walau begitu ada hal yang lebih menyenangkan dari itu.” Chris hanya tersenyum, setidaknya ia tau apa yang dimaksud Gabriel.

“ Dia kembali dan sekarang dia sudah sembuh.” cepat-cepat Chris menunduk saat Gabriel mengucapkan kata sembuh.

“ Dia belum sembuh Gab, asal kamu tau.” ungkap Chris dalam hatinya.

>

                Kini para idola remaja itu sudah turun dari bus, mereka semua menikmati sejuknya udara pegunungan yang pelan menerpa tubuh mereka. Udara yang tidak bisa mereka dapatkan di Ibukota.

“ Kanya….” panggil Sivia. Kanya pun segera mendekat ke arah Sivia.

“ Kita satu kamar kan ?” tanya Sivia, Kanya hanya mengangguk dan tersenyum.

“ Yeaayyy…” sorak Sivia dan Kanya senang.

“ Hoii, berduaan aja nih. Pacaran, pacaran.” goda Chris dan Cakka yang baru datang.

“ Iri ya bang..” goda Sivia.

“ Mau ikut pacaran, sini,sini..” tambah Kanya.

“ Tau gak Vi ?”

“ Gak…”

“ Iiiihhh.., asal samber aja sih..” Cakka hanya dapat menggembungkan pipinya karena kesal.

“ Iya, ada apa sih ??” Sivia hanya tersenyum menghadapi respon Cakka.

“ Kamu berubah tau.” kata Cakka sambil memandang Sivia dari atas ke bawah.

“ Berubah apaan ? Emang aku sailor moon.” Sivia hanya tersenyum jail.

“ Bukan gitu piaaaa….” Dengan gemasnya Cakka mencubit pipi Sivia.

“ Lepassss Cakkaaa..” Sivia mencoba melepas jari-jari Cakka dari pipinya namun usahanya gagal. Dengan cepat Sivia memandang Chris dan Kanya yang ada disana, mengharap pertolongan mereka.

“ Plaaakkk.. Plaaakkkk..” dengan sadisnya Chris memukul kedua tangan Cakka yang masih asik nangkring di pipi Sivia.

“ Aduhhh, sakitt Chris..” Cakka pun mengamuk sambil memelototi Chris.

“ Hahahahaha…” Cakka, Kanya, dan Sivia pun tertawa renyah.

                Sedangkan dari lain sisi, ada beberapa orang yang memandang tidak suka ke arah kumpulan remaja itu.

>

                Kini matahari telah terbenam, semua orang yang tadinya istirahat di kamar pun sudah banyak yang berkumpul di aula penginapan. Acara Kemah Idola, memang sengaja di buka malam hari ini. Kasak-kusuk pun sudah terdengar di seluruh ruangan, apalagi ini adalah acara spesial dari stasiun tv swasta tersebut.

                Acara  dibuka dengan alunan suara lembut dari beberapa idola yang telah dipilih. Hingga sampai pada inti acara yaitu pembukaan program special stasiun tv swasta ini dan pemberitahuan segala susunan acara untuk 5 hari ke depan begitu juga dengan serentetan aturan yang harus dipatuhi selama acara ini berlangsung.

“ Gimana acaranya ?” tanya Ify, sekarang Ify dan Sivia sedang duduk bersama dibawah sinar rembulan. Mereka berdua memang sengaja kabur dari acara pembukaan yang menurut mereka sangat membosankan.

“ Kalau cuma kayak gini nih, semua yang disini bisa mati bosan.” Sivia berkata dengan lembut sambil memandang ke arah langit malam yang bertaburan bintang.

“ Disini enak ya fy, kita bisa melihat bintang yang tidak bisa kita lihat di langit malam kota Jakarta.” Ify tersenyum mendengar penuturan Sivia.

“ Kamu tidak banyak berubah ya Vi.” Sivia memandang Ify, Ify pun balik memandang Sivia. Lama berpandangan mereka pun tertawa.

“ Kamu juga. Tetap sahabat terbaikku. Aku sayang banget sama kamu.” Sivia memeluk Ify dengan erat, awalanya Ify ragu untuk membalas tapi ia akhirnya membalas pelukan Sivia.

“ Aku tidak sebaik itu Via. Karena aku juga mencintai orang yang kau cintai. Maaf !” ungkap Ify dalam hatinya.

“ Kok aku gak diajak pelukan sihhh..” goda Gabriel yang baru saja datang bersama Dayat.

“ Apaan deh Gabbbb…” tutur Ify dan Sivia bersamaan. Mereka pun melepas pelukan mereka dan memandang dua orang dihadapan mereka.

“ Kok kamu disini ?” tanya Ify.

“ Tadi aku lihat kamu sama Sivia kabur. Ya udah deh, aku ikutan. Toh acaranya ngebosenin banget.” jawab Gabriel.

“ Bete..”

“ Lalu ?” tanya Ify sambil memandang Dayat.

“ Oh Dayat, dia aku paksa ikut. Kan gak asik kalau kabur sendirian.” Gabriel hanya nyengir lebar sementara Ify dan Sivia hanya geleng-geleng kepala.

“ Dayat, kamu gak suka aku balik kesini ya ?” tanya Sivia tiba-tiba, sementara Gabriel dan Ify sendiri hanya terdiam. Tidak mengerti arti pertanyaan Sivia.

“ Emm…” terlihat sekali kalau Dayat gelisah setelah mendengar pertanyaan Sivia itu.

“ Bukan gitu kok. Aku senang. Mana mungkin aku gak senang kamu kembali.” Dayat hanya bisa menggaruk kepalanya sambil mengatakan kebohongan itu.

“ Aku cuma gak mau Ify sedih karena kamu kembali dan akan mengambil semua perhatian milik Gabriel. Maaf Via.” ucap Dayat dalam hati.

“ Ohh..”

“ Aku tau ! Sangat tau ! Alasan kenapa wajahmu seperti itu. Tapi aku tidak pernah berniat buruk.” Sivia mengatakan hal itu dengan tegas kepada Dayat, sedangkan Dayat hanya terdiam kaku.

“ Via, kamu bicara apasih ?” tanya Ify dan Gabriel bersamaan.

“ Bukan apa-apa kok. Aku kembali dulu yaaa… Bye !” pamit Sivia.

>

“ Via, beneran kamu mau ikut ? Wajahmu pucat banget tau. Kamu sakit ?” Sivia hanya menggeleng menjawab pertanyaan Kanya.

“ Gak enak. Udah diundang malah gak ikut acara awal.” balas Sivia sambil bercermin, melihat pantulan dirinya di cermin.

“ Ya udah aku tunggu diluar. Kumpul 10 menit lagi buat pembagian kelompok.”

                Setelah Kanya keluar Sivia hanya bisa memandangi pantulan dirinya pada cermin. Perlahan kedua tangannya mengusap pipinya dengan lembut.

“ Tampaknya tubuhku benar-benar sedang kacau.” tuturnya pelan.

“ Harusss kuat Sivia !”

****

***terimakasih udah mau baca***
***tinggalkan jejak bagi yang udah baca***




_mei_

Lihat Lebih Dekat Part 14 ( Dimulainya Jalan Nasib )

Lihat Lebih Dekat Part 14
~ Dimulainya Jalan Nasib ~

                Laki-laki itu masih tetap terdiam di samping sebuah gundukan tanah. Gundukan tanah yang terlihat basah mungkin karena hujan sebelumnya. Perlahan ia gerakkan tangannya mengusap nisan di atas gundukan tanah itu.

“ Mama, kayaknya Gab udah gak ada kesempatan buat dapetin Sivia. Sivia murni nganggep Gab sahabatnya gak lebih, Ma.” Gabriel tersenyum pahit.

“ Tapi gak papa kok. Gabriel bakalan tetep sayang sama Sivia. Dia itu udah jadi bagian penting dalam hidup Gab, seperti mama dan Ify. Kalian itu segalanya buat Gab.”

“ Dan mungkin emang Gab harus mencoba buka hati Gab buat cewek lain.” Dengan perlahan Gabriel menaburkan kelopak mawar merah ke atas makam sang bunda.

                Tiba-tiba bulu kuduk Gabriel meremang. Suara tangisan yang entah darimana asalnya berhasil membuat Gabriel gelisah dan cukup takut. Ia memang bukan tipe cowok penakut tapi siapa sih yang gak ngeri kalau dia sedang berada sendirian di makam dan tiba-tiba terdengar suara tangisan seorang perempuan.

“ Gak mungkin ada Kunti siang-siang begini kan..” batin Gabriel, gerak tubuhnya benar-benar menunjukkan kalau dia gelisah.

                Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya, Gabriel pun mulai mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru pemakaman ini. Matanya berhenti bergerak saat menangkap sosok seorang gadis sedang menangis di samping salah satu makam.

“ Bukannya itu seragam sekolah Higashi yaa..” batin Gabriel lagi, ia mulai memperhatikan pakaian gadis itu. Dan benar,  itu memang seragam sekolahnya.

“ Emang ada Kunti pakai baju seragam. Kok aneh !!” Gabriel hanya menggaruk kepalanya, ia sedang berada di antara rasa takut dan penasaran.

                Gabriel pun memberanikan dirinya untuk menghampiri gadis itu. Pelan ia menepuk bahu gadis itu.Gabriel menghela nafas lega saat tangannya bisa menyentuh bahu gadis itu. Sedang gadis yang sedari tadi tertunduk dan menangis itu pun segera mendongakkan kepalanya. Melihat siapa yang mengganggu acara merenungnya.

“ Gabriel….”

“ Zahraaa…..”

>

                Shilla terdiam di dalam mobilnya, ia masih terpaku dan terlarut dalam pikirannya sendiri. Apa benar kalau Cakka menyukainya. Tapi selama ini dia tidak menyadari hal itu. Dan semua hal ini membuatnya pusing. Omaigott !!

“ Tapi..tapi….” lirih Shilla, tanpa ia sadari air mata mulai mengalir di pipinya.

“ Tapi aku gak pernah sadar soal itu.”

“ Aku gak tau…”

“ Tinnnnnn…” dengan kasar Shilla memencet klakson mobilnya.

“ Dan dia gak pernah bilang soal itu. Apakah aku sama saja dengan Alvin yang tidak peka.”

“ Siallll…” Shilla pun segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.

>

“ Kak Rio, Ify takut banget..” sedari tadi Ify terus memeluk Rio dengan erat, sementara Rio sendiri hanya mengusap puncak kepala Ify dengan lembut, mencoba menenangkan hati gadis yang ia sukai.

“ Tenang dan percayalah, ayahmu itu kuat. Setidaknya untuk sekarang beliau tidak pernah meninggalkanmu sendirian. Percayalah !” tutur Rio. Ify memandang Rio sejenak, mencari kebenaran dari semua kata-kata Rio.

“ Ify..” panggilan lembut itu membuyarkan semuanya, kini ditatapnya ibunya yang baru saja datang itu. Wajahnya terlihat pucat mungkin karena takut dan panik.

“ Untuk apa anda kemari, toh anda gak pernah peduli pada ayah saya.” kata Ify dengan nada dinginnya, sedangkan ibunya hanya menatap putrinya nanar. Ia merasa bersalah, kenapa anaknya bisa sampai begitu membencinya seperti ini.

“ Ibu peduli tapi ibu gak bisa nunjukkin semuanya.” Ify mendengus sebal. Alasan klasik menurutnya.

“ Apa selalu bekerja tanpa melihat waktu itu yang namanya peduli. Apa tidak mau bicara pada suami itu yang namanya peduli. Apa tidak mau memandang dan bertanya kabar anak dan suami itu yang disebut peduli. Sebenarnya apa arti peduli bagi anda ?” Ify benar-benar mengeluarkan semua unek-uneknya yang ia pendam selama ini.

“ Ify…” Ibunya menunduk sedih, menahan uraian air mata yang siap menyeruak kapan saja. Sedangkan Rio sedari tadi menggenggam tangan Ify, berusaha menenangkan gadis itu.

“ Kamu gak tau Fy.” tutur Ibunya lirih.

“ Kamu gak tau..”

“ Gak !! Ify emang gak tau apa-apa tentang Ibu dan Ify gak mau tau. Cukup dengan ayah, bagi Ify ayah segalanya bukan ibu.” Ify memalingkan wajahnya, jujur saja ia tidak sanggup melihat Ibunya menangis. Dan ia tak sanggup berkata seperti itu.

“ Kamu gak tau sayang, gimana rasanya jika orang yang kamu sayangi sakit parah. Melihatanya terbaring tak berdaya. Sakit! Kamu gak tau berapa besar usaha ibu mencari uang untuk pengobatan ayahmu dan segala fasilitas yang kamu dapatkan sekarang.” Ify tertegun sejenak, mencoba meresapi setiap perkataan ibunya. Hatinya benar-benar terketuk.

“ Ibu pernah berpikir untuk berhenti bekerja dan mengurus kalian berdua. Ibu ingin, tapi ibu takut ! Ibu takut kamu tak siap hidup sederhana dan yang lebih menakutkan, ibu takut tidak bisa membiayai seluruh biaya ayahmu. Ibu gak mau kehilangan ayahmu. Ibu terlalu cinta padanya.” Kali ini Ify benar-benar merasa bersalah, selama ini ia tak pernah memikirkan keadaan dan perasaan ibunya. Yang ia tau hanya menyalahkan ibunya atas semua perbuatan baiknya.

“ Minta maaf Fy.” tutur Rio pelan di telinga Ify.

“ Ibu, ify minta maaf kalau selama ini Ify egois. Gak pernah dengerin semua perintah Ibu. Maaf.. maaf.. maaf.. Ify salah bu.” Dengan satu gerakan cepat Ify memeluk erat ibunya.

“ Ibu juga minta maaf, gak bisa nemenin kamu tumbuh dewasa. Selalu sibuk kesana-kemari. Maaf sayang.” Perlahan sang ibu mendaratkan ciumannya di kening Ify.

“ Kita mulai dari awal bu.” kata Ify.

“ Iya, dengan ayah juga.” kata sang ibu saat sang suami dibawa ke kamar pasien.

“ Kita bertiga, membuat lembar cerita baru.”

“ Ify sayang Ibu.” Sekali lagi Ify memeluk ibunya erat.

>

                Dua orang itu sedari tadi mondar-mandir di depan UGD. Raut cemas terlihat jelas dari 2 orang diantara mereka. Sedangkan satu orang hanya duduk tenang di bangku tunggu. Mungkin karena ia tak punya hubungan dekat dengan teman di UGD.

“ Kenapa bisa begini kka ?” tanya Zahra pelan, sedari tadi air matanya terus mengalir, ia benar-benar cemas.

“ Aku juga gak tau ! Arkhhhh…”

“ BUKKKK…” Cakka memukul dinding di depannya dengan keras.

                Tiba-tiba dari arah pintu masuk terlihat dua orang yang berlari, wajah mereka benar-benar panic dan cemas. Dan salah satu dari mereka menggendong seorang gadis yang berwajah pucat pasi.

“ Siviaaa..” Gabriel benar-benar terkejut melihat Sivia yang kini berada di punggung Alvin. Segera Gabriel menghampiri Alvin dan Chris yang berjalan terburu-buru ke arah UGD.

“ Dokter.. Suster !!” teriak Chris dan Alvin bersamaan.

“ Sivia kenapa ?? Kalian apakan dia ??” Pertanyaan Gabriel itu sama sekali tidak dijawab oleh Alvin ataupun Chris, mereka berdua tetap fokus mencari suster dan dokter. Sedang disana Cakka dan Zahra terpaku. Apalagi ini ??

Tak berapa lama, seorang dokter dan beberapa suster mendatangi ketiga laki-laki itu sambil mendorong tempat tidur pasien. Alvin pun dengan segera membaringkan Sivia ke tempat tidur pasien. Kini mereka bertiga menatap Sivia yang dibawa masuk ke UGD.

Perlahan Gabriel berjalan mendekat ke arah Alvin dan Chris, dalam tatapan matanya tersimpan banyak kemarahan tapi ia coba redam semua amarahnya dalam kepal erat tangannya.

“ Kalian harus menjelaskan semuanya kepadaku.” tutur Gabriel tegas. Alvin tetap diam sambil menunduk, ia benar-benar takut terjadi apa-apa pada gadis yang kini memenuhi hatinya itu. Sedang Chris masih terpaku, ingatannya melayang saat Sivia menolong dirinya, bahkan gadis yang ingin ia manfaatkan itu, benar-benar tulus.

“ Betapa jahatnya aku.” batin Chris.

“ Katakan sesuatu !! Aku tak butuh kebisuan kalian !!” Gabriel tidak dapat lagi menahan emosinya.

“ Aku akan menceritakan semuanya.” kata Chris sambil memandang Alvin yang masih bungkam.

*** Flashback On ***

Sivia dan Chris sedang asyik meikmati keindahan danau. Tapi sesuatu terjadi, perahu yang dinaiki Chris dan Sivia tidak seimbang. Dan tidak mencapai  5 menit, perahu itu oleng dan dua orang diatasnya terjatuh ke danau. Alvin benar-benar terkejut, ia benar-benar tau kalau Chris tidak bisa berenang.

        Tanpa melepas bajunya, Alvin segera masuk ke danau dan berusaha menyelamatkan Sivia dan Chris. Kini Alvin sudah sampai di tempat Chris dan Sivia terjatuh. Disana Alvin melihat jelas Chris yang berpegangan erat pada Sivia. Wajah Chris benar-benar pucat karena ketakutan.

“ Alvin, cepat tolong Chris.” Chris dan Alvin sejenak memandang Sivia. Sivia sendiri hanya mengangguk yakin. Alvin pun segera membawa Chris ke tepi danau.

Sementara disana Sivia tersenyum. Sayang, senyumnya tidak bertahan lama. Rasanya jantungnya berhenti berdetak. Kakinya yang sedari tadi bergerak agar bisa mengapung di air pun jadi diam dan kaku.

        Perlahan tapi pasti Sivia tenggelam. Dan tepat saat Alvin meletakkan Chris di tepi danau, tubuh Sivia sudah tidak terlihat lagi di permukaan air.

                Kali ini, giliran jantung Alvin dan Chris yang dibuat mencelos. Mereka tidak lagi melihat Sivia di permukaan danau. Gadis itu menghilang. Tapi tanpa aba-aba Alvin segera masuk ke dalam danau lagi. Matanya berkeliling sejenak, mencari tempat dimana gadis itu tenggelam. Dan dapat !!

Dengan cepat Alvin meraih tangan Sivia. Dan dengan usaha kerasnya ia berhasil membawa gadis itu ke tepi danau. Wajahnya begitu pucat, gerakkan naik turun dadanya pun begitu pelan.

“ Bagaimana keadaan Sivia ?” Chris segera mendekat dan bertanya saat melihat Alvin membawa Sivia ke tepi danau. Alvin hanya menggeleng tanda tidak tau.

                Alvin mencoba memberikan pertolongan pertama, namun nihil ! Gadis itu sama sekali tak memberikan respon. Alvin dan Chris mulai panik, dan tanpa pikir panjang Alvin segera menggendong Sivia dan berlari mencari taksi, sedang Chris mengikuti langkah Alvin dari belakang. Ia sama cemasnya dengan Alvin.

*** Flashback Off ***

“ Siaaaallll…” dengan kasar Gabriel menghantamkan tangannya ke dinding.

“ Gabriel !!” panggilan itu berhasil mengalihkan pikiran orang-orang yang ada disana.

“ Kak Rio, Ify…” lirih Gabriel.

“ Apa yang terjadi Gab ?” tanya Rio, raut cemas dan takut kini terpatri jelas di wajahnya. Gabriel pun mulai menceritakan kembali apa yang tadi Chris ceritakan padanya.

                Tepat saat  cerita itu selesai Rio merasakan tubuhnya lemas. Sedang Ify sudah menangis sambil memegang baju Rio dari belakang.

“ Kenapa kalian gak bisa jaga Sivia !” bentak Rio keras. Emosi benar-benar menguasainya kali ini.

“ Maaf..” lirih Chris dan Alvin.

“ Alvin..” sebuah suara yang ia kenal menyebut namanya.

“ Zahra Cakka ?? Sejak kapan kalian disini ? Dan untuk apa kalian disini ?” tanya Alvin.

“ Shilla kecelakaan.”

“ Apaaaa ??”

“ Tuhannn !! Sebenarnya apa mauMu.” lirih Alvin.

>

“ Kak Alvin, ayo makan !!” panggil Acha dari luar kamar Alvin.

“ Kakak gak nafsu makan Cha.” balas Alvin singkat. Acha hanya menghela nafas panjang, sepanjang hari ini Alvin terus-menerus mengurung dirinya di kamar. Ia tak tau apa yang terjadi pada kakak kesayangannya itu.

                Pelan Acha masuk ke kamar Alvin, dilihatnya kakaknya itu sedang terpaku sambil memandangi langit-langit kamarnya. Achapun memutuskan untuk naik ke tempat tidur Alvin.

“ Kakak kenapa ? Ada masalah ? Apa Acha bisa bantu ?” pertanyaan polos keluar dari bibir Acha, Alvin hanya memandangi Acha. Mata Acha yang begitu bening membuat Alvin memeluknya dengan erat.

“ Sivia.. Shilla..” lirih Alvin dipelukan Acha.

“ Kak Sivia sama Kak Shilla kenapa ?” Acha bertanya dengan agak takut, sementara tangannya mengelus punggung Alvin.

“ Mereka masuk rumah sakit Cha. Dan itu gara-gara kakak. Argghhhh…” Acha memeluk Alvin dengan kuat, mencoba menenangkan kakak tersayangnya itu.

“ Acha emang gak tau apa-apa tapi kakak jangan nyalahin diri kakak terus. Dan kalau memang kakak merasa bersalah, perbaiki semuanya. Bangkit dan berikan yang terbaik untuk mereka. Semampu kakak. Sekuat kakak.” Alvin memandang takjub adiknya, ia menggeleng pelan. Tak menyangka kalau adiknya yang biasanya manja itu bisa bersikap begitu dewasa.

“ Makasih.. tumben bijak ?? Biasanya manjanya minta ampun !!” Kali ini Alvin sudah bisa menggoda Acha, bukannya marah Acha hanya tersipu malu.

“ Iihh, pipi adik kakak merah banget. Sini peluk lagi.” Alvin sudah merentangkan tangannya untuk memeluk Acha, tapi dengan cepat Acha menghindar.

“ Gak mau…” balas Acha sambil turun dari ranjang Alvin. Dan saat Acha akan berjalan keluar, dengan satu gerakan cepat Alvin menahan tangan Acha dan mencium lembut kening adik tersayangnya itu.

“ Kakak sayang banget sama Acha.” Kali ini muka Acha benar-benar  merah merona. Acha pun segera keluar dari kamar Alvin.

“ Acha juga sayang banget sama kak Alvin. Makanya Ayo Makan !!” teriak Acha, wajahnya yang menyembul dari balik pintu masih terlihat merona. Alvin hanya terkekeh melihat ekspresi Acha dan segera bangun menuju meja makan.

“ Makasih Cha..” batinnya.

>

                Cakka, Zahra, dan Alvin sedang menunggu Shilla yang kata dokter akan segera sadar. Mereka bertiga benar-benar cemas dengan keadaan Shilla. Mereka terus memperhatikan Shilla, doa-doa tulus mereka panjatkan untuk kesembuhan Shilla. Saat mereka melihat Shilla mengerjapkan mata, mereka segera mendekat ke arah gadis itu. Memanjatkan berjuta terima kasih pada Tuhan.

“ Alvin..” panggil Shilla lemah.

“ Alvin..” lirih Shilla lagi, kali ini Cakka hanya mampu tersenyum kecut. Walau begitu ia tetap senang, gadis yang pemilik hatinya kini bangun dan ada untuk mereka. Alvin sendiri masih terdiam, pandangannya jatuh pada Cakka.

“ Aku pergi.” kata Alvin dingin. Dan tepat saat ia akan membuka pintu, tangan Cakka menahannya.

“ Jangan egois Vin. Shilla butuh kamu ! Dia butuh kamu Bodoh !” bentak Cakka keras, Zahra hanya terdiam di samping Shilla, sedang Shilla menatap bergantian kedua laki-laki itu.

“ Siapa yang egois ! Aku ??” bentak Alvin balik.

“ Iya..” balas Cakka kasar.

“ Kamu yang egois Kka. Kamu selalu maksa aku buat balas perasaan Shilla, tapi kamu sendiri tau kalau aku sayang sama Shilla gak lebih dari sahabat ! Dan yang paling buat kamu egois, kamu selalu rela melepas Shilla buat aku padahal kamu tau kalau kamu itu Cinta sama Shilla lebih dari siapapun. Sadar Kka !” Alvin keluar dari kamar Shilla, meninggalkan Cakka yang masih terpaku disana.

                Shilla dan Zahra pun terdiam mendengar perkataan Alvin.

>

                Alvin kini berada di depan sebuah kaca. Kaca yang membatasinya menemui gadis yang sedang memenuhi rongga hatinya, cintanya. Ia hanya bisa melihat tanpa bisa memberikan gadis itu kekuatan, dia terlalu pengecut dan tidak boleh masuk.

“ Kenapa kamu disini ?” tanya seorang gadis dengan nada dinginnya.

“ Aku hanya ingin tau bagaimana keadaannya.” Alvin menjawab pertanyaan gadis itu tanpa melepas pandangannya dari sosok gadis yang kini tengah terbaring tak berdaya disana, dibalik kaca.

“ Apa kamu lupa ? Yang menyebabkan dia seperti ini adalah kamu dan sahabatmu itu.” kata gadis itu.

“ Dia bukan sahabatku !! Maka dari itu, aku ingin disini dan menjaga Sivia.” tegas Alvin. Gadis itu hanya menggeleng.

“ Sivia gak butuh kamu jaga. Lagipula disini ada aku, kak Rio, dan Gab yang akan selalu menjaga dia.” kata gadis itu tegas.

“ Ify sudahlah..” lirih Rio, kondisi Rio sekarang benar-benar berantakan. Sudah semalaman dia berada di rumah sakit dan menjaga Sivia.

“ Tapi kak…”

“ Sudahlah Fy, mungkin dengan sakitnya Sivia kali ini, dia bisa beristirahat agak lama. Bukankah akhir-akhir ini ia benar-benar kelelahan.” Gabriel memotong perkataan Ify dengan kalimat bijaknya, Ify pun terdiam.

“ Duduklah. Kita tunggu Sivia bangun sama-sama.” kata Gabriel halus, raut wajahnya menunjukkan kalau dia benar-benar lelah. Sama halnya dengan Rio, dia berjaga disini semalaman.

“ Apakah Sivia sudah sadar ?” tanya seorang laki-laki yang baru saja datang. Kini semua menatap laki-laki itu dan semuanya hanya terdiam.

“ Maafkan aku, kalau saja dia tidak menolongku, dia tidak akan seperti ini.” tutur Chris sambil menunduk dalam.

“ Tenanglah. Ini pilihan Sivia.” kata Rio bijak. Tak berapa lama Rio memejamkan matanya dan menyenderkan kepalanya ke bahu Ify yang duduk disebelahnya.

“ Ehh…” kaget Ify.

“ Biarkan aku istirahat sejenak dibalik kehangatanmu.” Ify diam dan hanya mengangguk, sementara Rio kembali memejamkan matanya.

“ Aku juga capek Fy..” kali ini Gabriel ikut menyenderkan kepalanya di bahu Ify juga.

“ Aku akan menjaga kalian. Demi Sivia.” lirih Ify. Semetara disana Alvin dan Chris semakin merasa bersalah.

****

***makasih udah mau baca***
***bagi yang baca tinggalkan jejak buat penulis***




_mei_

Rabu, 21 Desember 2011

Destiny, You and Me Part 4 ( Keluarnya Sivia )



Destiny, You and Me Part 4
~ Keluarnya Sivia ~

                SMA Higuchi ataupun Higashi benar-benar mempersiapkan yang terbaik untuk perlombaan antar SMA ini. Keduanya benar-benar ingin menjadi juara, bukan karena mereka ingin menunjukkan siapa yang lebih hebat dan kuat tapi kedua SMA ini benar-benar ingin menunjukkan SMA mana yang terbaik. Mereka sama-sama berjuang demi sekolah bukan pribadi mereka.

                Semuanya benar-benar berusaha semampu mereka dan sekeras yang mereka bisa. Dan dari semua perjuangan itu hanya ditentukan oleh satu hari ini, Hari Perlombaan.

“ Kalian siap ?”

“ Siap ketua OSIS !”

“ Sebelum itu, aku mau ngucapin makasih atas kerja keras dan latihan kita selama ini. Dan tetap berikan yang terbaik dari masing-masing kalian.”  Semuanya  tersenyum, ketua OSIS mereka ini memang begitu luar biasa di mata mereka.

                Secara cepat pandangan mereka semua beralih ke seseorang yang baru saja datang. Dia terlihat begitu lelah mungkin sedari tadi ia berlari.

“ Ketua…..” nafasnya saja masih terdengar satu dua.

“ Tenangkan dirimu, ada apa ?” tanya Ketua OSIS itu.

“ Kanya belum datang dan dia sama sekali gak bisa dihubungi.”

“ Tenanglah. Mungkin dia sedang terjebak macet, seperti kamu tidak tau saja bagaimana keadaan kota kita tercinta ini.” Dia berusaha tenang, tapi tidak dengan gerak mata dan gerak tubuhnya.

“ Ayo semua bersiap !”

><><><><><><><><>< 

“ Semuanya sudah siap kan ?” tanya Gabriel.

“ Sudah !! Semuanya sempurna.” Ify memberikan senyumnya sembari menaruh catatan yang ia baca tadi.

“ Terima kasih wakil ketua OSIS, mungkin kamu bisa menjadi ketua OSIS yang lebih berguna dariku.” guraunya.

“ Tapi aku tidak akan bisa lepas dari wibawamu.” Gabriel hanya tersenyum mendengar balasan dari Ify.

“ Heii, Bro ! Kenapa sedari tadi kamu tersenyum ? Kamu masih waraskan ?” tanya Dayat yang baru saja datang.

“ Entahlah..” Gabriel hanya mengedikkan bahunya tanda tidak tau.

“ Aku merasa ada sesuatu yang baik yang sedang menungguku.” ungkap Gabriel sembari meninggalkan Dayat dan Ify.

“ Berusahalah..” lirih Gabriel di telinga Dayat.

“ Aku takkan bisa.” Batin Dayat.

                Kini keduanya terpaku disana. Entah apa yang membuat mereka begitu merasa canggung.

“ Kalian masih disini. Ayo kita ke tempat lomba !” Suara Shilla yang baru saja datang pun berhasil  memecah rasa canggung mereka berdua.

><><><><><><><><>< 

                Terlihat beberapa anak Higashi sedang berputar-putar di depan aula perlombaan. Mereka benar-benar diliputi rasa cemas dan panik.

“ Apa Kanya masih belum bisa dihubungi ?” tanya Chris.

“ Belum..” Cakka hanya menghela nafas panjang.

“ Kalau begitu kita pakai cara terakhir yang mustahil.” Cakka hanya berkerut bingung, tapi saat ia melihat apa yang diisyaratkan Chris, sejurus itu ia tersenyum lirih.

“ Aku tidak yakin..”

“ Tak ada salahnya mencoba bukan ?” tutur Chris selanjutnya, Cakka sendiri hanya tersenyum kecut.

><><><><><><><><><>< 

                Semua lomba telah dimulai dan sebagian pun sudah memasuki babak penilaian. Dan yang menjadi puncak dari lomba-lomba itu adalah lomba menyanyi solo.

                Ada dua orang dari ruang ganti, dan entah kenapa satu dari mereka sedari tadi hanya tertawa. Mereka pun keluar bersama, sementara yang lain hanya berpandangan bingung.

                Chris, Gabriel, dan Ify masing-masing dari mereka sudah menyanyi, dan mendapatkan cukup banyak applause dari penonton. Sekarang tinggal perwakilan solo putri dari SMA Higashi.

“ Untuk perwakilan solo putri dari Higashi maka kita panggilkan Ratna Kanya…..”

                Semua mata memandang sesosok perempuan yang baru saja muncul dari balik tirai. Mereka membelalakkan mata, itu bukan Kanya ! Tapi dia adalah seorang gadis cantik berpipi chubby.

“ Oh maaf karena ada kesalahan teknis maka perwakilan Solonya diganti oleh…”

“ Cakk…”

“ Hahhh Cakka !” semua semakin terkejut, Chris hanya menepuk jidatnya ia lupa, tanpa sadar ia menulis nama asli Cakka. Beberapa orang yang sudah mengerti apa yang terjadi terlihat menahan tawa.

                Sementara itu tawa keras terdengar dari bangku bagian belakang, Cakka mendelik dan mendapati Alvin sedang menertawainya.

“ Kka ! Seandainya aja kamu cewek, udah bakal aku jadiin kamu pacar. Cantik sih kamu !” ejek Alvin, Cakka hanya memalingkan wajahnya dan mendengus sebal. Hancur sudah reputasinya ! Semua anak-anak yang tadi hanya menahan tawa pun kini tertawa dengan bebasnya.

“ Chrisss., abis ini aku makan kamu !” gumam Cakka dalam hati.

“ Apa-apaan ini..” di tengah suasana ribut itu tiba-tiba teriakkan seorang juri membungkam mereka.

“ Maaf saya yang salah !” Chris pun akhirnya angkat bicara.

“ Penyanyi solo putri kami masih dalam perjalanan. Dia terjebak macet.”

“ Tapi kenapa kalian harus berbohong seperti ini !” bentak sang juri itu.

“ Kami…”

“ Mohon berikan tenggang waktu bagi mereka untuk menunggu Kanya.” Gabriel dengan sopan menyela perkataan Chris. Kini semua mata pun memandang padanya.

“ Bolehkan ?” tanya Gabriel lagi.

“ Huuhh., karena pihak lawan yang berkata begitu maka kami berikan 5 menit untuk menunggu Ratna Kanya atau kalian harus mengganti penyanyi putri lain. Tapi jangan perempuan semacam dia !” juri itu pun menunjuk Cakka yang sudah sangat malu. Tawa pun kini kembali membahana.

                Semuanya begitu sibuk menunggu kedatangan Kanya. Kanya memang sudah bisa dihubungi tapi dia masih terjebak macet. Chris benar-benar bingung. Di ruang ganti Higashi dia pun mencoba memilih salah satu dari gadis SMA Higashi untuk perwakilan solo putri.

“ Masih bingung..” suara lembut itu menyapanya, suara yang benar-benar ia kenal. Suara yang membuat semua harapannya muncul.

“ Sivia…” Chris dan Cakka yang memang sudah mengenal Sivia sejak lama terlihat sumringah, sedang siswa lain hanya saling berpandangan bingung. Bagaimana mungkin gadis yang dulu menolak mentah-mentah untuk ikut lomba ini, kini berada di sini apalagi dengan ekspresi bahagia yang ditunjukkan Cakka dan Chris waktu melihat gadis itu. Sebenarnya apa yang terjadi ?

“ Kamu mau membantu kami, Please !” pinta Cakka.

“ We need your help..” Sivia masih diam tak merespon.

“ Apa kamu mau lihat Chris yang berdandan ala perempuan ?” tawar Cakka, Chris sendiri hanya mendelik sebal mendengar perkataan Cakka. Bisa-bisanya laki-laki disampingnya ini memikirkan balas dendam dalam posisi sekarang.

“ Tidak usah repot ! Kami para perempuan kan tidak mau kalah saing dari laki-laki cantik sepertimu.” Sivia mengedipkan sebelah matanya, Chris tersenyum puas, sedang Cakka mendengus sebal.

“ Sialan !”

“ Tapi kenapa tiba-tiba kamu mau membantu ?” tanya Chris.

“ Nanti kujelaskan, bukankah kamu lebih baik mendaftarkan namaku sekarang.” Sivia tersenyum, Chris pun segera keluar dan menemui panitia penyelenggara.

><><><><><><><>< 

“ Apa gadis itu bisa bernyanyi ?”

“ Bukankah dia murid baru yang menolak mentah-mentah untuk ikut dalam lomba ini ?”

“ Bagaimana mungkin dia dipilih, padahal dia tidak pernah ikut latihan bersama.”

“ Kita aja gak tau suara dia, gimana coba kalau ternyata suaranya cempreng dan jelek.”

“ Dasar anak baru sombong !”

“ Iya, mana Chris sama Cakka bener-bener minta tolong sama dia.”

“ Ohh God, dunia pasti udah terbalik.”

                Gabriel dan anak-anak Higuchi lainnya cukup tertarik mendengar perbincangan beberapa murid Higashi itu. Mereka jadi penasaran dengan gadis yang akan menggantikan Kanya bernyanyi. Sampai katanya Cakka dan Chris sendiri yang meminta bantuan pada gadis itu.

“ Haii..” Chris dan Cakka terkejut ketika melihat siapa yang menyapa mereka.

“ Kanya ??” belum sempat mereka bertanya suara sang MC sudah mulai terdengar. Kanya hanya mengedipkan sebelah matanya dan menyuruh mereka menghadap ke panggung.

“ Ok guys, sekarang kita bisa melanjutkan lomba ini lagi. Dan kali ini saya jamin bukan perempuan abal lagi.” Cakka hanya melengos sebal mendengar penuturan sang MC.

“ Benarkan apa yang aku lihat ini ? Apa benar ini namanya ?” MC itu berbisik pada MC yang lain, tapi mungkin itu tidak tepat disebut sebagai bisikan karena suara tersebar oleh mic mereka berdua.

“ Sebagian orang dari dunia hiburan pasti tau tentang dia. Gadis seumuran kalian yang sangat berbakat. Dia punya suara emas. Kalian tidak lupa padanya kan ?”

Mendengar itu, Gabriel, Ify, dan beberapa anak lain merasakan gemuruh hebat dalah hati mereka. Pikiran mereka melayang, dulu suara emas sebutan untuk Angel, Zahra, Ify, dan Sivia. Dan Angel dan Zahra tidak mungkin berada disana karena mereka berbeda sekolah, sementara Ify sendiri sudah tampil sejak tadi.

Jantung mereka semakin berdebar keras disaat secara perlahan tirai terbuka. Dan mata mereka benar-benar dibuat membulat. Beberapa dari mereka bahkan menangis tepat saat tirai itu terbuka lebar dan menampakkan seorang gadis cantik yang tengah tersenyum ke arah mereka.

“ Siviaa….” Teriak kompak mereka semua. Sementara anak-anak Higashi dibuat bingung, bagaimana mungkin mereka yang termasuk kalangan artis bisa kenal siswa baru di SMA mereka. Yang bahkan gak semua murid Higashi mengenalnya.

“ Aku kembali sahabat.” lirihnya di depan mikrofon. Semuanya kini terdiam. Menunggu penampilan gadis itu.

                Perlahan alunan musik mulai terdengar diseluruh ruangan. Sivia pun mulai bernyanyi. Semua terdiam, tidak terdengar sedikit pun kasak-kusuk. Suasana yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Suara Sivia memang berbeda dari suara Angel yang powerfull, Zahra yang sangat bagus dan keren, ataupun Ify yang banyak melakukan improvisasi dengan nada tinggi  yang menarik. Suara Sivia lebih ke suara yang lembut dan jernih, ia pun bisa melakukan falset dengan sangat indah dan mungkin cukup mudah.

 Selesai bernyanyi tepuk tangan terdengar dari seluruh ruangan. Beberapa dari mereka benar-benar kagum mendengar suara Sivia. Sedangkan beberapa lain dari mereka merasa sangat rindu dengan suara indah itu. Suara yang sudah lama tidak menyapa telinga mereka.

                Sesaat setelah Sivia turun dari panggung dengan cepat seseorang memeluknya, membawanya dalam kehangatan tubuhnya. Sivia masih terdiam, tidak membalas ataupun menolak. Ia benar-benar tau pelukan ini milik siapa.

                Memang sedikit berubah, tubuh laki-laki itu kini lebih tinggi dan besar berbeda dengan dulu, tapi tangan yang memeluknya tetap sama erat, bahkan detak jantungnya yang semakin tidak beratur saat dipeluk laki-laki ini pun masih sama. Masih begitu keras !

                Sementara itu semua terdiam, mereka yang tidak tau apa-apa hanya betambah bingung. Bagaimana mungkin seorang idola remaja seperti Gabriel bisa memeluk gadis yang sama sekali tidak jelas asal-usulnya. Beberapa wartawan pun memilih mengabadikan momen itu. Ini adalah berita bagus dan sangat menjual !

“ Gabriel….” lirih Sivia, tangannya mencoba mengurai pelukan Gabriel.

“ Kamu kemana ? Kenapa gak bilang kalau udah pulang ? Kamu gak tau kalau aku benar-benar kangen sama kamu ? Kamu udah gak papa ?” Gabriel mengguncang pelan bahu Sivia sambil terus-menerus mengeluarkan pertanyaan. Sivia hanya tersenyum pahit.

“ Aku belum sembuh Gab..” batin Sivia.

“ Ify mana ? Aku kangen !” Sivia mencoba mengalihkan perhatian, Gabriel hanya menggeleng dan menggenggam erat tangan Sivia.

“ Jangan alihkan pandanganmu dariku. Aku masih ingin melihatmu.” Dan tanpa banyak berkata lagi Gabriel pun membawa Sivia pergi dari sana.

                Semua hanya bisa mematung disana, Ify sendiri masih menangis, selain dia terharu dan begitu diliputi rasa rindu pada Sivia dia juga digerogoti rasa cemburu dan disadarkan kalau cintanya benar-benar bertepuk sebelah tangan.

                Sementara Chris hanya mengepalkan tangannya erat. Ia benar-benar merasa kesal dan merasa kalah dari pria kurus hitam manis itu. Selain mereka masih ada beberapa orang yang saling memandang, mereka semua sadar kalau masalah baru akan segera muncul.

********

***makasih udah mau baca***
***tinggalkan jejak buat yang nulis yaa***


_mei_



Jumat, 09 Desember 2011

Destiny, You and Me Part 3 ( Bantuan Kecil )


Destiny, You and Me Part 3
~ Bantuan Kecil ~

                Dengan langkahnya yang terburu-buru laki-laki berlari ke sebuah ruangan di salah satu bagian sekolah ini. Tidak butuh waktu lama Iama, ia sampai. Dengan terburu-buru ia membuka pintu di hadapannya dan berteriak kencang.

“ Kita kena sabotase !” suara kencang bercampur desah nafas yang tidak beraturan memenuhi seluruh ruangan ini. Semua anak-anak yang tadinya sedang melamun langsung terlonjak kaget dari tempat  duduk mereka.

“ Apaan sih Chris !” bentak beberapa dari mereka yang merasa sangat terganggu.

“ Semua formulir yang kita taruh di dekat mading, Hilang ! Omaigottt ! Itu kan asset kita ! Omaigottt !” Chris bergerak kesana-kemari sambil menggumam tidak jelas.

“ Tidak hilang ketua OSIS.” kata seorang gadis cantik yang sedari tadi diam saja. Chris berhenti berputar, dan memandang gadis itu sejenak, meminta penjelasan.

“ Maksudmu ?”

“ Lihat kemari !” gadis itu menunjukkan setumpuk kertas di depannya. Mata Chris membelalak kaget, segera ia hampiri tempat duduk gadis itu.

“ Kanya, ini serius ?” tanya Chris, Kanya hanya mengangguk mantap. Mata Chris masih tak henti menatap lembaran-lembaran formulir yang sudah terisi itu.

“ Kami semua juga bingung, tadi pagi waktu kami datang semua formulir ini telah terisi.”  Chris menggeleng bingung.

“ Sudahlah kalau begitu, mari kita umumkan !” tak mau berpikir lama, Chris segera berjalan ke radio sekolah.

><><><><><><><><><>< 

“ Gab..”

“ Gab..”

                Panggilan pelan itu sama sekali tidak mengusik lamunannya. Laki-laki itu masih asyik dengan alam lain miliknya.

“ Gabriel Stevent !” Akhirnya sebuah bentakan keras berhasil membawa dia keluar dari dunia lamunannya.

“ Ehh, Ibu…” Gabriel hanya menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ia memandang sekelilingnya, terlihat sekali kalau teman-temannya sedang menahan tawa.

“ Kamu itu melamun saja. Kalau memang kamu merasa pintar sudah sana keluar dari kelas saya. Gak usah ikut belajar !” Bentak sang guru dengan galaknya.

“ Yah, ibu kok gitu sih. Kalau saya udah pintar mana mungkin saya masih sekolah. Lagian kalau saya pintar, pasti saya yang jadi guru bukan ibu.” Dengan cepat Gabriel menutup mulutnya sendiri. Ia memandang wajah gurunya yang sudah benar-benar kesal padanya. Gabriel hanya nyengir dan kabur !!

“ Gabriel !!” Tawa pun pecah setelah Gabriel meninggalkan kelas itu.

><><><><><><><><><><>< 

“ Bagi semua siswa yang sudah mengisi formulir keikutsertaan lomba. Diharap nanti waktu istirahat pertama kumpul di aula. Dan terima kasih partisipasinya. Aku sangat menghargainya.”

                Semua murid yang sudah mendaftar kini berkumpul di aula. Mata Chris terus berputar ke semua penjuru aula, dia tidak disana. Seseorang yang benar-benar ia harapkan ada disana.

“ Mungkin dia benar-benar tidak ingin keberadaannya diketahui oleh siapapun.” Cakka berkata lirih sambil menepuk pelan bahu Chris. Chris tetap terdiam dan menggeleng.

“ Kalau begitu, untuk apa dia pulang.” Lirih Chris, sangat lirih.

><><><><><><><><><>< 

                Sivia sedari tadi duduk diam di taman ini. Menikmati semilir angin yang berhembus lembut di wajahnya. Tugasnya selesai ! Ia tersenyum puas. Saat ia akan meninggalkan tempat duduknya sebuah tangan menahannya.

“ Kanya ?”

“ Siv, aku cuma mau bilang. Makasih bantuannya. Aku tau, ini semua terjadi karenamu.” tutur Kanya lembut.

“ Bukan, ini semua terjadi karena usaha keras kalian selama ini. Aku hanya memberi sedikit saran kepada mereka. Saran kecil yang gak berarti apa-apa kok !”

“ Tetap saja aku berterima kasih.” Dengan lembut Kanya memeluk Sivia.

“ Tapi maukah kamu jadi wakil untuk menyanyi solo.” Dengan cepat Sivia mengurai pelukan Kanya. Dia menatap Kanya dalam dan menggeleng kuat.

“ Aku tidak ingin mereka tau aku ada disini.”

“ Tapi aku tidak mungkin bisa mengal…”

“ Suuttt…” Sivia meletakkan telunjuknya di bibir Kanya.

“ Tidak ada yang tidak mungkin. You have a great voice.”

“ Tapi suaramu jauh lebih bagus dari suaraku Siv..”

“ Maaf aku memutuskan untuk tidak memperlihatkan diriku.”

“ Maaf..”

                Sivia merasakan ada cairan kental yang akan menyeruak dari dalam mulutnya. Segera ia menutup mulutnya dan berlari ke arah kamar mandi.

“ Siv….!!”

><><><><><><><><>< 

“ BRUUKKK….”

Belum sampai di kamar mandi, Sivia bertabrakkan dengan seorang laki-laki. Karena tidak mampu menahan lagi, Sivia segera memuntahkan semua cairan kental yang sudah memenuhi rongga mulutnya. Ia tidak peduli dengan laki-laki yang ada disana. Laki-laki yang ditabraknya pun sangat terkejut melihat apa yang keluar dari mulut Sivia.

Tubuh Sivia lemas seketika, kesadarannya makin lama makin berkurang. Dan sekarang kesadarannya benar-benar hilang. Setelah memastikan Sivia benar-benar pingsan, laki-laki itu segera mendekat ke arah Sivia dan membawanya pergi dari sana.

“ Ternyata kamu belum sembuh…” lirihnya sambil terus memandangi wajah pucat Sivia.

><><><><><><><><>< 

“ Hoiii !! Kamu tadi ngapain aja sih ?” tanya Dayat pada Gabriel yang masih asyik melamun.

“ Lagi mikirin Via.” jujur Gabriel dengan suara yang pelan. Dayat menghela nafas panjang.

“ Dia gak disini Bro. Dan kamu harus sadar, disini ada Ify yang tulus sayang sama kamu.” Gabriel menghela nafas lagi.

“ Aku gak suka sama Ify dan bukankah kamu yang suka sama dia. Jauh lebih tulus dari aku.”

“ Tapi dia…”

“ Gak pernah lirik kamu, Bodoh !! Dia itu cuma belum sadar ada cinta tulus yang menunggunya. Cinta yang baik untuknya.” Gabriel menepuk pelan bahu Dayat dan berlalu dari sana.

“ Lagipula cintaku bukan untuknya..” lanjutnya lirih.

><><><><><><><><>< 

                Perlahan Sivia sadar dari pingsannya. Ia merasakan sakit yang teramat pada salah satu bagian tubuhnya. Segera ia meringkuk sembari memukul pelan bagian tubuhnya yang terasa sangat sakit. Berharap dengan pukulannya sakit itu akan menghilang.

                Sementara laki-laki itu tetap diam di tempatnya, memperhatikan Sivia dengan lekat. Jujur ia tidak sanggup melihat Sivia dalam keadaan seperti sekarang. Kalau bisa ia ingin menghampiri dan memeluknya tapi entah kenapa otaknya berkata lain… Jadi ini yang membuat Sivia tidak ingin keberadaannya diketahui, penyakitnya belum sembuh !

                Sivia terus memukul perutnya mungkin bukan perut tepatnya. Rasa sakit itu semakin lama semakin kuat. Perlahan Sivia bergerak ke tepi ranjang. Mengeluarkan semua cairan kental dari mulutnya. Bersama dengan itu, air matanya luruh. Tangannya pelan mengusap mulutnya. Kemudian ia pandang sisa cairan kental di tangannya.

“ Darah lagi…” lirihnya.

><><><><><><><>< 

                Laki-laki itu terdiam di taman. Baru saja ia keluar dari UKS. Ia benar-benar tidak tega melihat keadaan Sivia yang seperti itu. Hatinya terasa benar-benar sesak luar biasa.

“ Chris..” panggil seorang laki-laki.

“ Kenapa kamu murung ?” tanya Cakka, Chris hanya menggeleng. Cakka menghela nafas dan duduk di samping Chris.

“ Apa kamu tau, semua anak yang mengisi formulir itu bergerak karena…”

“ usaha kita selama ini, mereka menghargai usaha kita kan ?” lanjut Chris.

“ bukan cuma itu.” Chris berkerut bingung, ia tidak mengerti.

“ Mereka tergerak karena surat kaleng yang mereka terima.” Cakka menyerahkan sepucuk surat pada Chris, memang cuma fotokopian  tapi Chris benar-benar tau pemilik tulisan ini.

“ Sivia…” lirih Chris, Cakka mengangguk.

“ Chris, Cakka !” teriak Kanya. Chris dan Cakka segera menoleh ke arah Kanya.

“ Kalian lihat Sivia ?” tanya Kanya, raut wajah Chris berubah pucat seketika.

“ Gak tuh.” Jawab Cakka sedang Chris menggeleng ragu.

“ Aduh kemana sih dia, masak tiba-tiba hilang.” Kanya segera duduk diantara Chris dan Cakka.

“ Aduh Kanya, sempit tauuu….” Omel Cakka.

“ Yahh, Cakka. Kan udah gak ada bangku lagi. Masak aku duduk di tanah.” Kanya menatap Cakka dengan wajah memelasnya.

“ Itu Sivia..” Cakka tidak mempedulikan Kanya. Ia malah menunjuk Sivia yang sedang berjalan di koridor. Senyum lega tersungging di bibir Chris, sementara Kanya melambai.

“ Sivia…”

><><><><><><><><>< 

                 Gabriel berhenti berjalan, kini ia duduk di pinggir lapangan basket. Dia mengambil dompetnya, dibukanya perlahan dan kini muncul foto seorang gadis cantik dengan senyum dan lesung pipitnya yang khas.

“ Kamu itu ! Bagian terpenting hidup aku, dan kamu itu keping puzzle terakhir hati aku.” Lirih Gabriel sambil mengelus foto itu perlahan.

“ Mana mungkin aku bisa masuk ke hati kamu…” gadis di belakangnya memandang lirih Gabriel dan foto yang ada di dompetnya.

“ Karena hanya ada Sivia di hati kamu…” lanjutnya lirih.

><><><><><><><><><>< 

“ Sivia terima kasih.” kata Cakka tulus, Sivia hanya diam.

“ Kamu terlihat pucat, Siv.” tutur Kanya lembut, Sivia segera menutup pipi dan bibirnya. Tanpa banyak bicara ia meninggalkan tempat itu.

“ Kenapa sih dia, pulang-pulang jadi aneh.” kesal Cakka. Sementara Chris terus memandag Sivia sampai hilang dari pandangannya..

“ Kalian hanya tidak mengerti dan akupun juga belum terlalu mengerti dengan apa yang ia sembunyikan.” Chris berlalu, Cakka dan Kanya hanya berpandangan tak mengerti.

****

***Buat yang baca tinggalkan jejak***
***makasih udah mau baca***


_mei_