Lihat Lebih Dekat Part 11
~ Perasaan Mereka ~
Sivia sedari tadi hanya duduk terdiam sambil komat-kamit tidak jelas menunggu balapan liar itu dimulai. Sedang Alvin yang sedari tadi memperhatikan Sivia hanya terkekeh geli. Entah kenapa gadis itu selalu bisa menarik perhatiannya. Pelan tangan Sivia bergerak menuju dadanya, mengelus pelan, lalu menarik nafas panjang. Ia benar-benar mempersiapkan mental dan jantungnya.
“ Aku siap, dan aku pasti kuat.” tekadnya dalam hati.
“ Lama banget sih. Aku udah pengen pulang nih. Udah sore nanti dicariin kak Rio.” dumel Sivia, walaupun jujur dalam hatinya ia begitu akan terjadi sesuatu pada jantungnya. Ia pun tak ingin Alvin tau tentang penyakitnya.
“ Udah gak sabar ya neng. Oke deh kalau gitu.” Alvin hanya nyengir lebar sambil memandang Sivia, tak lama telapak tangannya menekan klakson mobilnya.
“ TIIIIINNN…”
“ Cepetan atau pertandingan ini batal. Aku ini orang sibuk, gak bisa disuruh nunggu lama-lama.” Alvin mengeluarkan kepalanya dari kaca mobil sambil berteriak keras pada beberapa orang disana. Di arena balap liar sendiri, sudah mulai terdengar teriakan dukungan untuk Alvin dan lawan tandingnya kali ini.
“ Kali ini kamu harus siap kalah, Alvin Adhika Karisma.” Laki-laki yang sepertinya bos dari perkumpulan berandal itu hanya bisa berkata dengan sombongnya. Mungkin terlalu besar mulut.
“ Oke, kalau kamu bisa ngalahin aku. Cewek ini buat kamu.” Alvin menunjuk Sivia yang melotot kaget karena mendegar ucapan Alvin barusan.
“ PLETAAKKKK…”
“ Aduuuhh..” rintih Alvin. Kepalanya mendapat hadiah jitakan spesial dari Sivia karena perkataan yang baru saja dilontarkannya.
“ Oke kalau begitu. Gadis manis abang akan datang buat kamu.” Laki-laki itu hanya dapat tersenyum sembari menggoda Sivia dengan gaya yang cukup centil. Sivia sendiri sudah bergidik ngeri melihat ekspresi laki-laki itu.
“ Kalau kamu kalah. Siap-siap aja buat mati.” kata Sivia dingin, Alvin hanya menatapnya sebentar lalu kembali fokus pada balapan.
“ Aku gak bakal kalah. Kamu pikir aku mau kamu diambil sama dia.” Sivia terdiam mendengar penuturan Alvin barusan. Ia masih mencoba mencerna setiap kata-kata dari Alvin. Dan saat ia ingin bertanya lebih lanjut tentang kejelasan dari perkataan Alvin tadi..
“ Cepat pakai sabuk pengamanmu.” kata Alvin dengan cepat, belum sempat Sivia bertanya lagi, Alvin sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan yang benar-benar tinggi.
“ HUAAAAAAA….” Reflek Sivia berteriak keras sambil memegangi dadanya. Tangannya pun bergerak cepat memakai sabuk pengaman.
>
Rio terbangun dari tidurnya. Dilihatnya jam di kamar adiknya. Sudah jam 4 sore, tapi masih belum ada tanda-tanda bahwa Sivia sudah pulang. Perlahan Rio mulai mengumpulkan beberapa nyawanya yang sedang terbang. Setelah yakin semua nyawanya terkumpul, diputuskannya untuk menelepon sahabat Sivia.
“ Halo Ify.”
“ Iya, ada apa kak Rio ?”
“ Apa kamu bersama Sivia ?”
“ Tidak kak , aku sedang menemani ayah di Rumah Sakit tapi bukankah Sivia pulang bersama kakak.” Rio tercekat mendengar penuturan Ify, perasaan khawatir kini mulai memenuhi rongga pikirannya.
“ Apa mungkin dia bersama Gabriel ?” tanya Rio lagi, rasa cemas sudah terbayang dibenaknya.
“ Gak kak, tadi Gab bilang, dia lagi ada urusan. Dan Sivia juga gak bilang apa-apa soal pulang bareng”
“ Apa ?? Lalu kenapa sampai sekarang ia belum pulang ke rumah.” Ify melotot kaget mendengar kalimat Rio barusan.
“ Jadi Sivia belum pulang ? Lalu kenapa kakak gak pulang bareng Sivia tadi ?”
“ Tidak tadi aku ke rumah sakit. Dan aku sudah mengirim pesan pada Sivia agar dia pulang bersamamu atau Gabriel.” Ify tersentak mendengar penuturan Rio.
“ Kalau begitu sudahlah. Aku akan mencarinya. Kamu tenang saja. Nanti aku kabari. Salam buat ayah mertuaku yaa.” Ify hanya tersenyum singkat mendengar ucapan Rio, setidaknya itu bisa membuatnya lebih tenang. Perlahan ia putus sambungan teleponnya dengan Rio.
Tanpa buang waktu, Rio segera turun dari kamar Sivia. Dengan cepat ia berjalan ke arah garasi dan menaiki salah satu mobilnya. Tak lama mobil itu pun melaju di tengah padatnya kota Jakarta.
>
Alvin masih fokus pada jalur balapannya. Ia benar-benar berkonsentrasi, ia pun sama sekali tak memperhatikan wajah Sivia yang mulai memucat. Walau begitu Sivia tetap diam di bangkunya, perlahan tangannya mulai meraba saku roknya dan mengambil air mineral dari tasnya.
Alvin hanya mengerutkan keningnya bingung. Semua yang dilakukan Sivia sekarang terlihat jelas dari sudut matanya. Walau begitu ia tetap berkonsentrasi pada jalanan di depannya. Ia tak ingin kalah. Bukan karena ia takut disebut pecundang tapi ia tak mau Sivia jadi milik laki-laki lawannya.
“ Siv, kamu kenapa ?” Alvin bertanya tanpa menatap Sivia sama sekali, pandangannya masih lurus ke depan. Walau begitu ia dapat melihat Sivia dari sudut matanya.
“ Tidak apa..” lirih Sivia, wajahnya mulai memucat dengan pasti.
>
Rio terus memacu Honda Jazz miliknya menuju ke SMA Swasta Higashi. Setibanya disana dengan terburu-buru ia masuk ke dalam area sekolah. Menelusuri setiap sudut sekolah untuk mencari adik semata wayangnya. Tapi hasilnya NIHIL, ia tak menemukan Sivia dimanapun. Ia mengumpat kesal.
Tak lama Rio pun mulai mencari ke tempat-tempat yang mungkin dikunjungi Sivia. Tapi hasilnya masih tetap sama, ia tak menemukan Sivia dimana-mana. Rasa khawatir pun menyelimuti dirinya.
>
Dengan hebat dan cukup mengerikan Alvin berhasil menyalip mobil lawannya. Mungkin jika Alvin bukan pengemudi mobil yang hebat, yang terjadi hanyalah adegan tabrakan yang benar-benar keras. Sivia sendiri dibuat melotot melihat betapa hebatnya Alvin melewati mobil tadi. Bagaimana tidak ?? Pada saat menyalip tadi jarak sisi mobil Alvin dan mobil sang bos dari gerombolan musuh hanya beberapa centimeter.
“ Alvinnn….” Sivia hanya bisa berteriak sedang Alvin hanya meringis saja.
Dan akhirnya mobil mereka sampai di finish dengan selamat. Lagi-lagi Alvin memperhatikan Sivia yang meminum butir-butir putih dari botol kecil yang ia bawa.
“ Kamu kenapa ? Kamu sakit ?” Sivia hanya terdiam tanpa menyahut.
“ Kamu sakit apa ?” tanya Alvin menyelidik kali ini nadanya agak tegas, Sivia hanya terdiam mencari alasan.
“ Ini cuma vitamin kok.” Bagi Alvin yang dikatakan Sivia barusan adalah kobohongan yang sangat klasik, bahkan anak TK sekarang pun takkan percaya pada kebohongan yang seperti itu.
“ Bohong..” Alvin menatap tajam mata Sivia, Sivia sendiri entah kenapa tak bisa berkutik ketika balik menatap mata Alvin. Mata itu begitu meneduhkan. Beda dengan mata milik Kak Rio ataupun Gabriel.
“ Siapa juga yang bohong.” Sivia mulai sok cuek dan sok dingin lagi. Alvin hanya mendengus sebal dan mencibir gadis dihadapannya sekarang.
“ Sebentar !! Kenapa wajah kamu begitu pucat.” Alvin mengangkat pelan dagu Sivia, jemarinya pun mulai bergerak menelusuri pipi gadis itu.
“ Heii, aku tidak apa-apa. Biasa sajalah !” Sivia menggenggam tangan Alvin yang masih asyik nangkring di pipinya. Alvin semakin menatap Sivia tajam.
“ Kenapa tanganmu begitu basah dan dingin. Kamu sakit apa Sivia ?” Alvin bertanya dengan tegas, Sivia sama sekali tidak menghiraukannya malah sibuk mengelap telapak tangannya menggunakan tisu di mobil Alvin.
“ Putri Es, jawab pertanyaanku.” Perintah Alvin.
“ Alvin Adhika Sipit, it’s not your business.” Alvin mencibir Sivia. Gadis ini terlalu tertutup padanya. Tak lama ia mulai mengalihakan perhatiannya pada laki-laki disana.
“ You are loser….” Alvin mengacungkan ibu jari terbaliknya pada sang bos. Tak lama, Alvin kembali melajukan mobilnya meninggalkan arena balap.
“ Suatu saat aku akan menang. Dan yang aku tau, gadis itu kunci kelemahanmu.” Sang bos lawan hanya tersenyum licik sambil memandang mobil Alvin yang terus menjauh.
“ Tenang saja Alvin, suatu saat kau yang akan menjadi pecundang.”
>
“ Kamu benar-benar tidak apa-apa ?” Sivia pun mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil itu ketika pertanyaan Alvin selesai dilontarkan.
“ Tenanglah. Kalau aku matipun tak ada urusannya denganmu.” balas Sivia dengan dinginnya.
“ Jangan bicara soal mati dihadapanku.” tegas Alvin dingin. Sivia hanya diam, tangannya mulai bergerak membuka mobil Alvin lagi. Sementara Alvin tetap terdiam, pikirannya mulai berjalan-jalan kembali ke masa lalunya.
“ Ternyata balapan itu sangat menyenangkan.” Sivia tersenyum tipis di depan kaca mobil alvin. Sedang Alvin hanya terdiam, rasanya lidahnya kelu melihat senyuman indah itu.
Agak sedikit bingung Alvin menatap Sivia yang berjalan menjauhinya. Kenapa langkah gadis itu menjadi begitu pelan. Apalagi tubuh gadis itu mulai tak berjalan lurus, terlihat keseimbangan gadis itu goyah. Apa yang sebenarnya terjadi ?
>
“ Sivia darimana saja kamu..” Pertanyaan keras itu terucap saat Rio melihat baying seseorang masuk ke dalam Rumah.
“ Sebentar..” perlahan Rio mendekati Sivia dan mengangkat dagu Sivia. Matanya mulai menelusuri wajah adik tersayangnya, tangannya mulai menggenggam tangan adik tersayangnya itu. Sivia sendiri hanya terdiam, tubuhnya tiba-tiba melemas.
“ Wajahmu begitu pucat, tanganmu pun berkeringat dingin. Apa kamu sakit lagi ?” Nada kemarahan yang tadi ia tunjukkan benar-benar menghilang dari setiap perkataan Rio.
“ Sakit ?? Tidak, kakak. Hari ini Sivia sangat senang.” tutur Sivia, senyum manis terlukis jelas di bibirnya. Namun itu semua tak dapat menyembunyikan kelelahan dari gerak tubuhnya dan pucat dari wajahnya.
“ Sivia senang sekali kakak.” Tangan Sivia menepuk dadanya.
“ Sedari tadi jantung Sivia berdetak kencang, bahkan sangat kencang. Seperti mau lepas tapi itu merupakan hal yang menyenangkan. Dan sensasi itu tidak menyakitkan. Walau efeknya…” Sivia tersenyum pelan, pelan tapi pasti tubunnya merosot ke bawah. Dengan sigap Rio menahan tubuh adiknya yang sudah tak bertenaga itu.
Pelan Rio mengangkat tubuh Sivia dan membawanya ke kamarnya.
“ Kakak belum mengerti maksud pembicaraan kamu...” Rio mengusap pelan kepala Sivia. Yang ia perhatikan adalah wajah pucat itu terlihat begitu bahagia.
>
Alvin akan keluar dari mobilnya saat ia melihat dua benda tergeletak manis di bangku yang tadi diduduki oleh Sivia.
“ Apa ini ?” tangan Alvin meraih salah satu dari benda itu. Matanya terbelalak kaget melihat benda itu. Dan entah kenapa hatinya terasa sakit ketika menatap benda itu. Mata Alvin mengerjap berkali-kali untuk memastikan apa yang ia lihat. Disana terpampang jelas sketsa laki-laki yang sekarang dalam status musuhnya. Rasa cemburu pun mulai menguasai pikiran dan hatinya.
“ Chris..” Pelan tangannya menggenggam erat kertas sketsa itu, mungkin lebih tepat disebut mencengkram. Sebentar saja sketsa Chris yang digambar oleh Sivia sudah menjadi begitu lecek.
Semua ini membuat Alvin bingung. Kenapa ia bisa merasa cemburu lagi. Hanya satu orang yang pernah membuatnya cemburu, dan itu cuma Keke. Gadis yang sekarang ini sudah tenang di surga. Tanpa terasa tangannya mengepal semakin kuat. Setiap melihat wajah Chris bayang Keke selalu tergambar jelas dalam pikirannya.
Alvin mulai diam, membiarkan seluruh pikirannya dirasuki oleh bayang Chris, Keke, dan Sivia. Kenapa selalu ada Sivia. Bukankah ia dan Sivia tidak akur. Alvin menggelengkan kepalanya kuat, berusaha menghilangkan bayang manis Sivia. Tangannya pun mengambil satu barang yang tersisa.
“ Botol obat yang diminum Sivia tadi ?” katanya sambil memutar-mutar botol itu. Di dalamnya terlihat masih banyak butir-butir obat yang bentuknya benar-benar sama.
“ Benar, ini bukan vitamin. Aku yakin !” hidungnya mencium aroma dalam botol itu. Darisana jelas sekali terasa perbedaan aroma obat dengan aroma vitamin.
“ Sebenarnya kamu kenapa ?”
“ Dan apa yang sebenarnya membuat aku menjadi begitu peduli padamu.”
“ Sivia, Putri Es..”
>
Laki-laki itu bangun dari tidurnya. Keringat dingin bercucuran dari pelipisnya. Mungkin karena tidur siangnya yang dihiasi oleh mimpi buruk. Pelan tangannya bergerak meraba meja kecil disebelah tempat tidurnya. Diambilnya ponsel yang tergeletak disana.
Senyum miris terlukis jelas di bibirnya. Matanya tak henti dan tak lepas memandang gambar gadis cantik yang menjadi walpaper ponselnya.
“ Keke..” lirihnya.
“ Kenapa sekalipun dimimpi, kamu tak pernah mencintaiku.” tuturnya miris.
“ Apakah kamu tak tau, kalau aku tulus mencintaimu. Bahkan Selamanya, dan takkan terganti.”
“ Alvin, kamu harus betanggung jawab untuk semua ini.”
“ Untuk Keke…”
>
Rio sedari tadi memandang wajah adiknya. Rasa bersalah, rasa kesal, rasa kasihan menyelimuti dirinya. Ia memandang wajah tentram dan pucat milik adik semata wayangnya.
“ Maaf, kakak belum bisa mendapatkan donor jantung untukmu.”
“ Maaf…”
“ Kamu harus bertahan Sivia..”
“ PRAAANGGGGG…” Perkataan Rio terpotong saat dia mendengar suara ribut dari lantai bawah yang semakin menjadi-jadi.
Sudah lebih dari setengah jam ia menahan rasa kesalnya. Sudah lebih dari setengah jam pula dua orang dewasa disana bertengkar. Pelan Rio mulai keluar dan turun menemui kedua orang dewasa disana.
“ Tuan dan Nyonya tenanglah.” kali ini nada Rio sedikit membentak. Laki-laki dewasa itu menatap Rio dengan pandangan sebal dan berjalan mendekat kea rah Rio.
“ PLAAAKKK..” tamparan kerasnya mendarat di pipi Rio. Rio sendiri tak bergeming dari tempatnya, dia hanya meringis sambil memegangi pipinya.
“ Panggil saya ayah, bukan Tuan. Karena aku ayahmu bukan majikanmu.” Bentak laki-laki dewasa itu. Sementara sang perempuan dewasa hanya terdiam, ia sama sekali tak berusaha membela anak laki-lakinya. Ia malah sibuk berkutik dengan panggilan yang baru masuk.
“ Tapi anda tak pernah menunjukkan sikap seorang ayah. Yang anda tunjukkan selama ini pada saya dan adik saya adalah pertengkaran tak bermutu kalian.” Rio beranjak pergi. Ia kembali berjalan menuju kamar Sivia.
“ Mariiooo…”
>
“ Lihat Vi, kakak ditampar.” Rio menggerakkan pelan jemari Sivia ke sudut bibirnya.
“ Jadi jangan pernah kamu tinggalin kakak. Karena kakak tidak bisa hidup tanpamu.” Rio mencium kening Sivia lama sekali. Membayangkan semua penderitaannya dan adiknya selama ini.
>
“ BRAKKK…”
“ CKLEEKKK…”
“ Kak Rioo buka pintunya kaa…” Sivia menggedor-gedor pintu kamarnya yang baru saja di kunci oleh Rio.
“ Kakk Riooo.., Please ngertiin Sivia kaaa…” teriaknya dari dalam kamar.
“ Renungkan apa kesalahanmu !!” Bentakkan keras dari Rio itu membuat Sivia bungkam.
*********
***Makasih buat yang udah baca cerbung ini***
_mei_
Kamis, 13 Oktober 2011
Minggu, 02 Oktober 2011
Lihat Lebih Dekat Part 10
Lihat Lebih Dekat Part 10
~ Kisah Mereka ~
Rio berjalan di lorong Rumah Sakit Pelita dengan hati yang diliputi kecemasan. Baru saja dokter yang menangani Sivia menelepon secara mendadak. Setelah menerima telepon itu, dengan segara Rio meninggalkan sekolah yang bahkan belum memulai aktivitas belajar mengajaranya. Nafas Rio sedikit memburu ketika sampai di depan ruangan serba putih ini. Dengan takut dan ragu, ia mengetuk pintu dihadapannya.
“ Silakan masuk.” Setelah terdengar sahutan dari dalam, dengan takut Rio masuk ke dalam ruangan itu.
“ Apa yang terjadi, dok ? Kenapa tiba-tiba menelepon ?” Rio kini sudah dalam posisi duduk di depan meja sang dokter. Sang dokter menatap Rio sejenak dan kemudian menghela nafas berat.
“ Maaf, orang yang sebelumnya sudah siap mendonorkan jantungnya untuk nona Sivia tiba-tiba saja membatalkannya.” Rio tercekat, ia kini hanya menunduk sedih. Rasanya begitu sakit.
Selalu saja begini, setiap orang yang pada awalnya ingin mendonorkan jantung untuk Sivia selalu saja membatalkannya secara tiba-tiba. Hal inilah yang membuat Sivia tak mau berharap lagi untuk sembuh. Tuhan, apakah tak ada lagi kesempatan untuk Sivia sembuh ?
“Saya capek dok, selalu saja begini. Kali ini alasan apa lagi ?” tanya Rio, matanya terlihat agak sedikit berkaca-kaca.
“ Ada anggota keluarganya yang lebih membutuhkan jantung itu.” Sang dokter benar-benar merasa iba melihat Rio. Sang dokter begitu mengenal Rio dan perjuangan Rio.
Setiap satu minggu sekali Rio selalu datang ke rumah sakit ini. Selalu menanyakan adakah jantung yang bisa diberikan pada adik tercintanya. Rio menyimpan semua kesedihannya ini sendiri, Sivia bahkan tidak tau menahu soal ini. Karena sudah sejak lama Sivia tak berharap lagi mendapat donor jantung. Ia terlalu sering kecewa.
Apalagi kedua orang tua mereka, yang ada dipikiran kedua orang dewasa itu hanya kerja, cari uang, dan bertengkar. Mereka bahkan tak tau kalau Sivia sedang menderita penyakit yang serius. Mungkin terdengar sangat klasik kalau kedua orang tua mereka tak tau penyakit Sivia. But it’s the fact. Tapi Rio tak mau berhenti, ia akan melakukan yang terbaik untuk adiknya.
“ Kalau begitu terima kasih, dok. Dan kalau ada perkembangan lagi mengenai donor jantung segera hubungi saya.”
“ Nak Rio, sebenarnya di Singapura sudah ada donor jantung.” Rio menatap dokter itu, tak lama ia menggeleng lemah.
“ Andai saya bisa mengajaknya kesana.” Rio menghela nafasnya berat.
“ Ia masih tak mau berpisah dengan sahabatnya dan yang lebih ia tak ingin orang tua kami tau tentang penyakitnya.” Dengan langkah gontai Rio berjalan keluar dari ruangan sang dokter, sang dokter sendiri hanya dapat menatapnya nanar.
“ Kakak gak akan pernah nyerah buat cari donor jantung buatkamu.” tekad Rio yang begitu kuat.
><><><><><><><><><
“ Hei, kamu udah lihat foto tadi ?”
“ Udah., ihh gak percaya deh, masak si Putri Es bisa senyum kaya gitu.”
“ Iyatuh, mungkin foto itu cuma hasil rekayasa.”
“ Emang sih dia cantik, tapi kan mukanya itu udah kaku. Dingin kayak es.”
“ Iya, tapi yang ngedit foto itu pinter banget ya. Bisa kayak asli.”
“ Tapi gak tau kenapa foto itu kaya asli, mana cantik banget dia.”
Sivia menutup telinganya rapat. Komentar-komentar itu benar-benar mengganggunya. Alvin benar-benar menghancurkan imej yang selama ini telah dibangunnya susah payah. Sebenarnya Ify dan Gabriel ingin memarahi semua anak yang membicarakan Sivia. Tapi hal itu hanya akan terjadi andai saja saat ini bukan jam perjalanan.
“ BRAAKKK…” Semua mata kini mengarah ke laki-laki itu. Laki-laki itu berdiri tegap setelah menggebrak meja.
“ Kalian semua, stop bicarain Sivia, panas tau ngedengernya. Gak ada gitu topik lain.” Chris kembali duduk, semua yang ada disana tercengang bahkan Alvin pun melongo melihat kelakuan Chris. Kenapa Chris mau membela Sivia ?
“ Ada apa ini ?” Kali ini guru mapel Fisika yang terkenal killer ini balik bertanya. Ia menatap tajam satu-persatu murid di kelasnya. Semua murid pun dengan serempak menunjuk Chris dan Sivia. Mereka tak mau menjadi sasaran kemarahan Bu Cici.
“ Chris, Sivia jelaskan apa yang sedang terjadi ? Apakah kalian main-main saat jam pelajaran saya ? Kalian tau apa hukuman untuk kalian ?” Tatapan tajam Bu Cici benar-benar membuat Chris dan Sivia bungkam.
“ Saya….” Belum sempat Sivia mengajukan pembelaan, kata-katanya telah dipotong oleh Bu Cici.
“ Kalian berdua, keluar sekarang ! Tanpa ada protes !” Tangan Bu Cici telah menunjuk tepat ke pintu kelas. Dengan kesal dan sedikit menggerutu Sivia keluar kelas mengikuti perintah Bu Cici. Yah, Sivia tau kalau dirinya pasti tidak sanggup melawan perkataan Bu Cici. Sedang Chris hanya tersenyum senang.
“ First step, Done !!” Chris hanya tersenyum sinis, sebelum keluar kelas ia sempat melihat tatapan mata tidak suka dari Alvin.
“ Kok aku jadi gelisah kayak gini ya..” batin Alvin sambil memandang Chris yang berjalan di belakang Sivia.
><><><><><><><><><><
“ Sorry, gara-gara aku, kita jadi dikeluarkan dari kelas.” sesal Chris .
“ Wajahmu tak menunjukkan kalau kamu sedang menyesal.” Sivia memandang wajah Chris sejenak lalu berjalan meninggalkan Chris yang masih berdiam di tempatnya.
“ Gadis yang unik dan menarik.” Chris berbalik ke arah lapangan basket, sebentar saja matanya langsung berbinar, ia melihat bola basket tergeletak manis di tengah lapangan. Segera ia berlari dan mengambil bola basket itu.
><><><><><><><><><><
Entah kenapa Sivia tak bisa berhenti menggambar sketsa laki-laki yang sedang asyik bermain basket disana. Saat ini di matanya laki-laki itu terlihat sangat berbeda. Ia terlihat lebih ramah dan ceria. Sivia mulai mengganti fokus matanya saat ia merasakan tepukan pelan di bahunya, seiring itu dengan segera ia menyembunyikan sketsa yang ia buat tadi.
“ Nanti aku pinjamin catatanku deh. Jadi gak usah khawatir ketinggalan pelajaran.” Ify langsung duduk disebelah Sivia. Sivia hanya tersenyum singkat sambil memandang sahabat tersayangnya itu.
“ Ehh, tadi pagi aku lihat lho.” Sivia mengangkat kedua alisnya bersamaan. Ia mulai menggoda Ify.
“ Lihat apaan ??” tanya Ify bingung.
“ Lihat kamu yang asyik berduaan sama kak Rio. Mana ada adegan cium pipi lagi.” Sivia hanya nyengir lebar, sesekali ia menepuk pipinya, sementara Ify hanya menutupi wajahnya yang malu.
“ Ahhh, apaan sih siv. Malu kan..” Ify mencoba mencubit pelan lengan Sivia. Sivia sendiri terus menghindari cubitan Sivia.
“ Halo nona-nona cantik ! Gembira amat nih, pasti lagi bicarain aku yaa.” narsis Gabriel yang baru saja datang. Sivia dan Ify menatap Gabriel dan kemudian tertawa keras.
“ Hahahaha, narsis kamu, Gab.” Ify dan Sivia bersama-sama menjulurka lidahnya pada Gabriel. Gabriel sendiri hanya melengos sebal.
“ Kalah lagi deh. Mentang-mentang aku cowok sendiri, kompak gitu kalian berdua. Tau deh yang namanya emansipasi.” Gabriel hanya manyun dan langsung duduk disebelah Sivia. Sementara Sivia dan Ify menatap Gabriel lucu.
“ Ini..” Gabriel mengulurkan dua jus jambu pada Sivia dan Ify. Dengan senang Sivia dan Ify mengambil jus jambu itu.
“ Enak yaa kalian, tinggal suruh udah dapat jus. Mana gratis lagi.” sindir Gabriel, Ify dan Sivia kembali cekikikan lagi.
“ Yaa, enak doonggg..”
“ Jelek ah..” balas Gabriel singkat. Kini mereka bertiga pun asyik bercengkrama. Membicarakan semua yang ada dalam hati mereka.
“ Gab hari ini kamu ada acara ??” tanya Sivia.
“ Ada..”
“ Kalau kamu Fy ??” tanya Sivia lagi.
“ Aku harus ngantar papa ke RS nih.” Ify hanya terunduk sedih.
“ Maaf, jangan sedih ya Ify sayaaangg..” Sivia mencubit pipi Ify pelan, ia ingin memberikan kekuatan pada sahabatnya itu.
“ Makasih Sivia sayang..” balas Ify sambil mencubit pipi Sivia balik.
“ Ehh, kenapa kok tiba-tiba tanya kaya gitu ??” Gabriel berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
“ Gak papa kok. Cuma mau tau aja.” balas Sivia singkat.
><><><><><><><><><><
Gadis itu terus menyeka keringat yang mengucur deras dari pelipisnya. Sudah hampir 1 jam ia berdiri di gerbang sekolah untuk menunggu sebuah taksi lewat. Keringatnya semakin bertambah banyak karena matahari yang sedang senang-sengangnya bersinar.
Tadi kakaknya mengSMS dirinya bilang tidak bisa pulang bersama. Sebenarnya ia ingin pulang bersama sahabatnya tapi kedua sahabatnya sedang ada urusan. Ia tidak ingin mengganggu mereka sama sekali. Alhasil dia harus rela berpanas-panasan untuk menunggu taksi.
“ Tau gini aku naik mobil sendiri.” gerutunya pelan.
“ Hei, kau kenal dengan Alvin Adhika Karisma ?” Seorang siswa laki-laki sebaya dirinya namun dengan seragam sekolah yang berbeda mendekati gadis itu, Sivia.
“ Gak kenal..”
“ Kau benar-benar tidak mengenalnya ? Jangan bohong ! Setauku dia sangat terkenal di sekolah ini. Bahkan dia anak pemilik sekolah ini.” Laki-laki agak sedikit membentak, Sivia sendiri yang terkejut mundur beberapa langkah. Matanya mulai menyapu lingkungan sekolah, sudah sangat sepi.
“ Aku bilang gak ya gak.” Sivia melengos sebal, kenapa sih ia harus berurusan dengan orang seperti ini.
“ Kalau begitu sudahlah.Ngomong-ngomong kamu cantik juga ya. Apa kamu mau pergi bersamaku.” Laki-laki itu mencoba memegang tangan Sivia tapi dengan cepat Sivia menepis tangannya dan menjauhkan dirinya.
“ Gak usah pegang-pegang.” katanya dingin.
“ Sok dingin banget sih..” laki-laki itu mencoba mendekati Sivia lagi, Sivia sendiri terus berjalan mundur sampai tubuhnya menempel ke pagar sekolah.
“ Ini pak satpamnya kemana lagi.” batin Sivia, matanya tak henti menatap pos satpam yang sedang kosong.
“ Sudah kubilang ikutlah saja denganku. Aku tidak mengigit kok.” Laki-laki itu mencoba mendekati Sivia lagi.
“ BRAAAKKK..” Laki-laki itu jatuh tersungkur. Baru saja mobil Alvin menabrak tubuhnya. Sivia sendiri yang melihat itu hanya membelalakkan matanya terkejut. Laki-laki itu masih terduduk sambil meringis kesakitan, untunglah mobil Alvin tidak dalam kecepatan tinggi saat menabraknya.
Pelan, Alvin keluar dari mobilnya dan menghampiri laki-laki itu. Ia menatap laki-laki itu dengan tatapan mata yang sangat sinis dan tidak suka. Entah kenapa ia tidak suka melihat laki-laki itu menggoda Sivia.
“ Ada apa Tian ? Apa bosmu belum juga lelah mengirim tantangan untukku ? Atau kamu mau cari mati sama aku ?” Alvin bertanya dengan nada sinisnya dan wajah yang sangat dingin.
“ Hahaha, sekarang bosku mengajakmu balap mobil di arena biasa.” Tian balik berkata sinis.
“ Kamu pasti tidak akan bisa menang.”
“ Dan apa kamu tidak pernah diajari sopan santun ?” lanjutnya lagi, Alvin hanya tersenyum kecut mendengar pertanyaan itu.
“ Sopan santunku tidak akan pernah kutunjukkan pada orang sepertimu.” balas Alvin sinis.
“ Cepat kamu datang kalau tidak mau disebut BANCI.” Tian sudah naik ke jok motornya dan segera melajukan motor itu.
Sivia sendiri masih mematung menatap adegan barusan. Alvin berjalan mendekati Sivia pelan.
“ Halo putri es ! Sedang apa kamu disini sendirian ? Apa ketiga bodyguardmu tidak ada yang mengantarmu pulang ?” Alvin tersenyum sinis sambil memandang Sivia.
“ ADUUHH..” Alvin menjerit kesakitan karena Sivia menginjak kakinya.
“ Makan tuh bodyguard. Mereka itu sahabat dan kakakku, STUPID !” Sivia memandang jalalan, segera ia berlari saat melihat taksi yang lewat di jalanan.
“ Taksi..” Taksi itu berhenti tepat didepan Sivia. Tapi saat Sivia mau masuk ke dalam taksi.
“ Gak jadi pak !” Alvin menutup pintu taksi dengan cepat dan membawa Sivia masuk ke dalam mobilnya.
“ Apa-apaan sih.” Sivia hanya merengut masam dan berusaha memberontak. Kini mobil Alvin telah melaju di jalanan kota Jakarta.
“ Kita itu musuh, dasar sipit.”
“ Sesama sipit dilarang saling mengejek. Kamu harus tau rasanya deg-degan setengah mati.” Alvin hanya tersenyum licik, sedang Sivia mulai gelisah. Pelan tangannya bergerak memegang jantungnya.
“ Tapi…”
“ Diam saja kamu ! Apa kamu takut pada tantanganku ? Dasar Pengecut !” Merasa tidak terima, Sivia hanya memandang Alvin tajam.
“ Siapa takut !!” Alvin sendiri hanya tersenyum puas, sementara Sivia merutukit kata-katanya barusan.
><><><><><><><><><
Rio terduduk lemas di sofa rumahnya. Sudah 5 rumah sakit besar ia kelilingi tapi hasilnya nihil. Rumahnya pun masih begitu sepi, seperti biasanya.
“ Bibi..” panggil Rio. Seorang wanita paruh baya berjalan tergopoh-gopoh ke arah sang majikannya.
“ Ada apa den Rio ?” tanya wanita itu.
“ Sivia sudah pulang ?” tanya Rio sambil memandang foto Sivia yang terpajang besar di ruang tamu.
“ Belum den, mungkin masih main sama neng Ify dan den Gabriel.”
“ Ya sudah kalau begitu Bi. Terima kasih.” Sang bibi hanya mengangguk dan kembali ke belakang. Rio hanya menghela nafas panjang, perlahan ia berjalan masuk ke kamar Sivia. Pelan ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur Sivia.
“ Kakak akan selalu cari yang terbaik buat kamu.” Rio mulai menutup matanya dan tidur.
“ Selalu..”
><><><><><><><><><><
“ Bagaimana kondisi ayah saya dok ?” seorang gadis cantik kini sedang berbincang dengan salah seorang dokter.
“ Kondisinya saat ini jauh lebih baik daripada saat ia pertama dibawa kemari.” Gadis itu hanya tersenyum lega.
“ Apakah ibumu tidak bisa datang kemari, Ify ?” tanya sang dokter.
“ Dia terlalu sibuk untuk mengurusi urusan seperti ini. Sudah cukup dengan saya saja.” Ify tersenyum kecut, perasaan sedih kini memenuhi rongga hatinya.
“ Baiklah ini resep obatnya. Jangan sampai beliau terlambat minum obat.” Ify hanya mengangguk mengerti, ia berjalan keluar dari ruangan sang dokter.
Setelah menebus obat, ia masuk ke kamar ayahnya. Terlihat disana seorang laki-laki dewasa tengah terbaring lemah.
“ Apakah ayah sudah merasa enakan ?” tanya Ify pelan. Laki-laki itu hanya tersenyum dan mengangguk.
“ Kamu tenanglah. Ayah itu kuat.” Sang ayah mencoba tersenyum, Ify juga ikut tersenyum.
“ Ify benci sama ibu.”
“ Ibu gak pernah peduli sama ayah. Ibu selalu jahat sama ayah.” Ify segera menyeka air matanya yang mulai turun.
“ Jangan bilang begitu. Jika ibu tak peduli pada ayah mana mungkin ia mau membanting tulang untuk pengobatan ayah.”
“ Tapi ibu selalu menunjukkan sikap buruknya pada ayah. Bahkan kadang ia membentak ayah, tak mau bicara sama ayah, tak mau menatap mata ayah.” Ify semakin sesenggukan, sang ayah hanya terdiam. Beliau sendiri tak tau kenapa istri yang begitu ia cintai tengah berubah.
><><><><><><><><><
“ Selamat siang mama sayang.” Gabriel tersenyum senang, ia meletakkan seikat bunga mawar merah kesukaan ibunya di dekat nisan ibunya.
“ Mama, hari ini Gab ditolak Sivia lagi. Mungkin bagi Sivia Gabriel gak lebih dari sekedar sahabat.” Gabriel mengelus pelan nisan ibunya.
“ Oh, iya. Gab juga minta maaf, sudah lama Gab gak ngunjungi makam mama.”
“ Tapi Gab tetap sayang sama mama kok. Cinta Gab buat mama itu besar banget.”
“ Gab pamit dulu ya, ma.” Gabriel mulai keluar dari pemakaman sang Ibu, ia berhenti sebentar lalu menyeka air mata yang entah sejak kapan sudah turun.
><><><><><><><><><
“ Mungkin emang udah gak ada lagi ruang di hati Alvin untukku.” Shilla hanya tersenyum masam, disebelahnya terlihat Cakka yang sedikit gelisah.
“ Kok tumben berdua aja, Alvin kemana ?” tanya Zahra yang baru saja datang.
“ Gak tau.” Mereka semua terdiam sejenak.
“ Eh, ada hubungan apasih antara Alvin sama si Sivia itu ?” Zahra memulai membuka pembicaraan diantara mereka. Shilla mendelik tajam ke arah Zahra.
“ Ngelihatinnya gak usah gitu banget kali Shil. Aku tau kok kalau kamu suka sama Alvin.” Shilla tersentak mendengar penuturan Zahra. Cakka sendiri masih terdiam.
“ Kok kamu bisa tau ? Aku kan gak pernah cerita sama siapapun kecuali Cakka. Dan gak mungkin Cakka yang ngebocorin ini semua.” Shilla mencoba tenang dan menatap Cakka tajam. Cakka hanya mengangkat bahu dan menggeleng.
“ Kelihatan kali dari semua sikap kamu. Aku kan bukan cewek yang buta soal hal begituan. Tapi aku yakin kok, Alvin pasti gak tau. Dia kan sama sekali gak peka sama perasaannya sendiri.” tutur Zahra, ingatannya mulai berselancar ke beberapa tahun yang lalu.
“ Dan aku tau kalau kamu suka sama Shilla.” Zahra berbisik tepat di telinga Cakka saat Shilla sedang tidak memperhatikan mereka. Cakka yang kaget hanya melotot tak percaya.
><><><><><><><><><><
“ Selamat siang keke.” Chris berbicara pada foto seorang gadis di salah satu figura kamarnya.
“ Aku sudah memulai rencanaku. Rencanaku untukmu.”
“ Aku ingin menghancurkan Alvin Adhika Karisma, UNTUKMU.”
Tak lama Chris sudah terbawa ke alam mimpinya. Saat tertidur ia terlihat begitu manis dan tenang. Chris itu sebenarnya anak yang sangat baik tapi karena suatu masalah dengan Alvin. Ia berubah drastis. Mulai dari penampilan sampai semua sikapnya.
“ Alvin…” lirihnya dalam mimpi.
*********
_mei_
Rabu, 28 September 2011
Semua Karena Cinta
SEMUA KARENA CINTA
Dua orang anak manusia itu sedang duduk bersama di salah satu bangku taman yang indah ini. Mereka berdua terlihat sangat mesra walau tak dapat dipungkiri, keduanya menyimpan kesedihan yang dalam. Salah satu dari mereka terlihat bangkit. Gadis dengan kacamata hitam yang melekat di matanya mulai meraba-raba bagian tepi bangku yang baru ia duduki tadi.
Diambilnya sebuah tongkat pembantu jalan. Saat ia akan berjalan, tangan kokoh laki-laki yang bersamanya tadi menghentikannya. Itu tawaran untuk membantunya.
“ Gab, aku tak ingin merepotkanmu.” kata gadis itu pelan, tangannya berusaha menepis tangan laki-laki yang ia panggil Gab tadi.
“ Tapi aku ingin selalu ada untukmu.” balas laki-laki itu dengan sangat pelan.
“ Selalu ada bukan berarti selalu membantu kan ? Aku tak ingin selalu merepotkanmu.” Gadis itu tersenyum manis, laki-laki itu hanya tersenyum kecut, selalu saja ia kalah jika berbicara dengan gadis dihadapannya ini.
Sang gadis mulai berjalan sambil menggerakkan tongkatnya ke kanan dan ke kiri. Ia mulai mencari jalan yang tepat agar bisa kembali ke dalam mobil.
“ Sivia tunggu aku.” Laki-laki yang tadinya hanya terdiam itu segera berjalan cepat untuk menyamai langkah kaki gadis yang ia panggil Sivia.
><><><><><><><><><
Mobil kedua orang tadi mulai menembus jalanan Bandung yang masih cukup lengang. Di dalam mobil sekarang hanya tercipta keheningan dan kebisuan di antara mereka. Mereka berdua masih terlarut dalam pikirannya masing-masing.
“ Gabriel, aku mohon jangan terlalu memperlakukanku seperti tadi. Aku tau kalau aku buta tapi aku tak mau terlalu dikasihani. Aku masih bisa melakukan semuanya sendiri.” kata Sivia tegas. Gabriel hanya diam antara setuju dan tidak setuju.
“ Lagian, apakah kamu gak malu karena kamu pacaran sama gadis buta sepertiku. Gadis yang hanya bisa menyusahkanmu saja.” Sivia hanya tertunduk sedih sambil menggerakkan kakinya.
“ Kenapa kamu bilang begitu. Sudah beberapa kali aku bilang kalau aku cinta sama kamu bukan karena kau bisa melihat atau hanya sekedar cantik dari wajahmu. Aku cinta kamu karena hatimu.” ucap Gabriel dengan nada yang sangat serius, Sivia yang mendengarnya hanya tersenyum manis saja. Itu sebabnya ia begitu sayang pada Gabriel.
“ Dan apa kamu lupa kalau kamu buta itu karena aku.” Lanjutnya pedih. Jujur saja Gabriel benar-benar tidak rela dengan kebutaan Sivia. Dan memang seharusnya ia yang buta bukan Sivia.
“ Jangan ungkit masalah itu lagi. Aku melindungimu karena aku mencintaimu.” Tak lama Sivia pun tertidur, perjalanan Bandung Jakarta memang sangat melelahkan.
“ Aku mencintaimu Sivia.” Tatapan Gabriel menerawang jauh ke masa saat ia dan Sivia pertama kali bertemu, sampai mereka jadian, dan sampai musibah itu terjadi.
><><><><><><><><><><
** Flashback on **
11 Januari 2010
Sivia sedari tadi menengok ke kanan dan ke kiri, mungkin sudah sekitar 15 menit ia berkeliling mencari ruang Kepala Sekolah tapi tak juga ketemu. Sampai akhirnya ia meleng dan menabrak seorang laki-laki.
“ BRUKKKK…”
“ Aduhhh…” rintih keduanya. Tidak lama Sivia menatap laki-laki yang ia tabrak. Kesan pertama yang Sivia dapat adalah Tampan.
“ Maaf tadi aku tidak melihat.” Sivia menundukkan kepalanya meminta maaf. Laki-laki itu hanya tersenyum.
“ Tidak apa-apa kok. Kamu tidak kenapa-napa kan ?” tanya laki-laki tampan itu. Kini ia sudah berdiri tegap di depan Sivia yang masih terduduk di lantai.
“ Gak kok. Aku baik-baik saja.” Sivia kemudian berdiri dan membersihkan roknya.
“ Aku baru pertama kali melihatmu. Benarkan ?” tanya laki-laki itu.
“ Benar, aku siswa baru disini salam kenal !” ucap Sivia dengan nada ramahnya, tak lupa ia berkan senyum untuk Gabriel.
“ Oh, kalau begitu perkenalkan namu Gabriel dan aku ketua OSIS disini. Semoga betah yaa.” Gabriel mengulurkan tangannya pada Sivia, dengan hangat Sivia menyambut uluran tangan itu.
“ Aku Sivia, bolehkah aku bertanya dimana ruang Kepsek ?”
“ Di ujung koridor sana.”
“ Terima kasih. Sampai jumpa Gab..”
** Flashback off **
><><><><><><><><><><><
Gabriel memandang Sivia yang tengah tertidur pulas. Ia melepas salah satu tangannya dari stir mobil untuk mengelus kepala Sivia.
“ Aku janji akan selalu melindungimu.”
“ Selalu..”
><><><><><><><><><><><
** Flashback On **
13 Mei 2010
Sudah beberapa bulan terakhir ini Gabriel menjadi sangat akrab dengan Sivia. Mereka berdua seperti tidak bisa terpisahkan. Tapi mereka berdua masih berstatus sahabat tidak kurang dan belum lebih. Hari ini Gabriel mengajak Sivia ke tempat yang sangat spesial. Tempat dimana ia akan mengungkapkan seluruh isi hatinya.
Mata Sivia sekarang tertutup rapat oleh kain. Perlahan Gabriel terus menuntunnya berjalan ke suatu tempat.
“ Mau kemana sih kita, Gab.”
“ Tenang saja. Percayalah padaku.”
Sivia pun diam dan tak banyak protes. Kali ini langkahnya terhenti karena tak merasakan adanya Gabriel yang menuntunnya berjalan.
“ Gab..”
“ Gab…”
“ Gabbb..” karena tak kunjung mendapat balasan, Sivia pun membuka penutup matanya.
Sivia benar-benar terkejut mendapati dirinya berada di danau kesukaannya dan Gabriel. Pelan ia langkahkan kakinya mendekati danau itu. Langkahnya terhenti saat ia melihat foto dirinya dalam berbagai posisi yang menggantung indah di pohon.
Mulutnya terkunci rapat, getar aneh merasuk ke seluruh tubuhnya. Pelan telinganya mendengar petikan gitar yang sangat merdu. Dilihatnya Gabriel yang berjalan tepat ke arahnya. Tangan Gabriel terus memetik gitar, pelan ia mulai bernyanyi. Ia menyanyikan lagi kesukaan Sivia Tercipta Untukku.
Sivia menutup mulutnya, ia benar-benar terharu. Saat Gabriel meletakkan gitarnya di samping pohon, saat itu pula Sivia menghambur ke pelukannya. Gabriel hanya tersenyum tipis. Ia sangat tau kalau Sivia itu suka dengan hal-hal yang berbau romantis.
“ Ada apa sebenarnya ?” Sivia melepaskan pelukannya pada Gabriel dan menatapnya.
“ Aku cinta sama kamu. Maukah kamu jadi pacarku ?” Gabriel menatap Sivia tajam.
Seandainya bisa Sivia ingin berteriak ‘Aku mau’ dan memeluk Gabriel lagi. Tapi karena rasa malu dan kaget yang masih menyelimuti dirinya ia hanya bisa mengangguk dan tersenyum malu. Tapi respon berbeda sangat ditunjukkan Gabriel. Setelah mendapat anggukan dari Sivia, segera ia gendong Sivia dan memutarnya di udara.
“ Makasihh Sivia…” teriak Gabriel dengan kencangnya, ia masih terus memutar tubuh Sivia di udara.
** FlashBack Off **
><><><><><><><><><><
Gabriel masih serius dengan jalanan yang ia lalui. Matanya sesekali melirik ke arah Sivia. Jika ia ingat dengan kondisi Sivia yang sekarang, hatinya benar-benar sakit. Andai saja Sivia tidak melindunginya, mungkin Sivia tidak akan buta. Tapi dia akan tetap melihat dan ceria.
Kadang rasa bersalah benar-benar menghinggapinya kalau ia mendegar Sivia menangis dan berucap pada Tuhan dalam doanya. Di depan orang lain Sivia memang terlihat tegar tapi di belakang semua itu, ia sangat rapuh.
Sivia, kadang bisa setegar batu karang namun juga serapuh kapas.
><><><><><><><><><><
** FlashBack On **
Di lantai dua ini Gabriel sedang asyik berbicara dengan sahabatnya Alvin. Murid lain pun sibuk berbincang-bincang entah membahas soal pelajaran tadi, pacar, ataupun gosip para artis yang sedang beredar. Ada juga yang berdandang di sepanjang koridor lantai dua, lantai dua sekolah ini memang dibatasi oleh kaca, jadi beberapa siswa bisa menggunakannya untuk berdandang. Di ujung tangga lantai dua, terlihat SIvia sedang bersama Ify sahabatnya. Keduanya masih asyik berceloteh ria.
Sivia yang sudah mulai bosan berbicara terus. Mulai memperhatikan sekelilingnya, matanya kini tertumbu pada Gabriel dan Alvin yang sedang asyik berbincang. Sivia mulai memandang keluar kaca. Matanya tiba-tiba saja terbelalak saat melihat sebuah bola baseball siap menembus kaca besar dibelakang Gabriel. Tanpa pikir panjang Sivia berlari ke arah Gabriel.
Anak yang lain mulai memperingatkan Gabriel. Tapi reflek Gabriel menoleh ke belakang tepat ke arah kaca dan bola baseball itu.
“ PRAANGGGGGG….”
“ BUKKKK…”
“ AAAAAAA…..” Semua murid berteriak hebat melihat adegan itu.
Terlihat Gabriel yang tersungkur karena dorongan kuat kuat dari Sivia. Sedang Sivia sendiri sudah menangis keras. Tapi hal ini menjadi sangat menakutkan ketika tangisan Sivia itu bercampur dengan darah dari matanya. Dengan cepat Gabriel membawa Sivia ke Rumah Sakit.
~~~~~~~~~~~
“ Bagaimana dok, kondisi putri saya ?” tanya Pak Jon, ayah Sivia.
“ Maaf, pecahan kaca itu terlalu dalam dan mengakibatkan kebutaan pada anak anda.” Sang dokter hanya menghela nafas panjang.
Semua yang ada disana merasa tubuhnya lemas tak bertenaga. Terlihat Ibu Linda, ibu dari Sivia yang sudah pingsan. Ify pun menangis tersedu di pelukan Alvin. Gabriel hanya diam, tertunduk, dan menangis tanpa suara.
“ Ini semua kesalahanku..” ucapnya lirih disela isakannya.
“ Salahku…”
** Flashback Off **
><><><><><><><><><
“ Aku sayang padamu Vi.” Gabriel mencium lama kening Sivia. Ia kini sudah berada di kamar Sivia. Pelan ia berjalan menjauh dari ranjang Sivia.
“ Gabriel..” panggil Bu Linda saat Gabriel turun dari tangga.
“ Iya tante ada apa ?” tanya Gabriel sopan.
“ Sivia sudah mendapatkan donor kornea.” Ibu Linda terlihat sangat bersemangat dan tersenyum manis, senyum yang benar-benar mirip dengan senyum Sivia.
“ Tante, serius ?” Gabriel juga berubah menjadi sangat bersemangat setelah mendengar berita itu.
“ Iya, sayang. Lusa sudah bisa operasi kalau kondisi Sivia baik.”
><><><><><><><><><><
Beberapa hari setelah operasi Sivia sudah bisa melihat. Dan hari ini adalah aniv ke 1 tahun Gabriel dan Sivia jadian dan hari ini pula hari dimana Sivia keluar dari Rumah Sakit. Sore ini Gabriel berencana akan dinner bersama Sivia.
Sivia benar-benar terlihat cantik sore ini. Dengan terburu-buru, Sivia turun dari tangga dan berpamitan kepada kedua orang tuanya. Kali ini Gabriel tidak menjemput Sivia, melainkan menunggu Sivia di tempat yang sudah dijanjikan.
Sivia mengendarai mobilnya dengan sangat hati-hati. Jalanan memang cukup sepi karena hujan deras mengguyur kota Jakarta. Tiba-tiba saja ponsel Sivia bergetar. Dengan hati-hati Sivia mengambil ponselnya dan melihat pesan yang masuk.
From : Gabbbkuu
Gak usah terburu-buru
Hati-hati sayang,
Hujannya deras banget.
Sivia hanya tersenyum dan kembali melajukan mobilnya. Dilihatnya jam di mobilnya, sudah lebih dari setengah jam dari waktu janjian mereka berdua. Sivia melajukan mobilnya agak cepat, tapi tiba-tiba perasaanny tidak enak. Di depannya tepat ada sebuah truk yang kehilangan kendali. Sivia membanting Stir mobilnya dan…
“ BRRRAAAAAKKKKKKK….”
Aku ingin engkau slalu
Hadir dan temani aku
disetiap langkah
yang meyakiniku
Kau tercipta untukku
Meski waktu akan mampu
Memanggil seluruh ragaku
Ku ingin kau tau
ku slalu milikmu
yang mencintaimu
sepanjang hidupku
Hadir dan temani aku
disetiap langkah
yang meyakiniku
Kau tercipta untukku
Meski waktu akan mampu
Memanggil seluruh ragaku
Ku ingin kau tau
ku slalu milikmu
yang mencintaimu
sepanjang hidupku
**** end ***
*** makasih buat yang udah mau baca ***
*** berikan jejak kalian buat penulis yaa **
Langganan:
Postingan (Atom)